Konsep Belajar Menurut Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

Konsep Belajar Menurut Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

PeciHitam – Dalam perspektif Islam, makna belajar bukan hanya sekedar upaya perubahan perilaku. Konsep belajar dalam Islam merupakan konsep belajar yang ideal, karena sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran dan hadis.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Seorang siswa yang telah melalui proses belajar, idealnya ditandai oleh munculnya pengalaman-pengalaman psikologis dan baru yang positif. Pengalaman-pengalaman yang bersifat kejiwaan tersebut diharapkan dapat mengembangkan aneka ragam sifat, sikap, dan kecakapan yang konstruktif, bukan kecakapan yang destruktif.

Perubahan perilaku sebagai hasil belajar perspektif psikologi, dalam konteks Islam maknanya lebih dalam, karena perubahan perilaku dalam Islam indikatornya adalah akhlak yang sempurna. Akhlak yang sempurna mesti dilandasi oleh ajaran Islam.

Dengan demikian, perubahan perilaku sebagai hasil belajar adalah perilaku individu muslim yang paripurna sebagai cerminan dari pengamalan terhadap seluruh ajaran Islam.

Menurut Syekh Burhanuddin az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim menjelaskan bahwa Konsep belajar mengajar adalah meletakan hubungan pendidik dan peserta didik pada tempat sesuai porposinya.

Seorang siswa adalah seorang yang harus selalu tekun dalam belajar, menghormati ilmu pengetahuan dan pendidik (guru). Sebab jika siswa sudah menghormati guru dan menghormati ilmunya, maka ilmu yang didapat juga menjadi berkah.

Baca Juga:  Fiqih Sosial Sebagai Penghubung antara Kelompok Fundamental dan Liberal ala KH Sahal Mahfud

Lebih lanjut, Imam Az-Zarnuji juga menjelaskan mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses menuntut ilmu, di antaranya:

  1. Pentingnya niat belajar

Imam az-Zarnuji menjelaskan bahwa niat adalah azas segala perbuatan, maka dari itu adalah wajib berniat dalam belajar. Konsep niat dalam belajar ini mengacu kepada hadis Nabi saw:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari)

Dengan demikan amal yang berbentuk duniawi seperti makan, minum dan tidur bisa jadi amal ukhrawi dengan niat yang baik. Dan sebaliknya amal yang berbentuk ukhrawi seperti shalat, membaca zikir jadi amal duniawi dengan niat yang jelek seperti riya. Imam az-Zarnuji berpendapat bahwa belajar adalah suatu pekerjaan, ia harus mempunya niat belajar.

  1. Niat yang baik dan niat yang buruk

Dalam belajar hendaknya seseorang berniat untuk, pertama, Mencari ridha Allah. Kedua, berniat untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Ketiga, berusaha memerangi kebodohan pada diri sendiri dan kaum yang bodoh. Keempat, berniat untuk mengembangkan dan melestarikan Islam. Kelima, berniat untuk mensukuri nikmat akal dan badan yang sehat.

Baca Juga:  Sunnatullah (Hukum Ketetapan Allah), Samakah dengan Kausalitas?

Menurut Imam az-Zarnuji, orang alim yang tidak peduli merupakan kehancuran yang besar, dan lebih parah dari itu seorang bodoh yang beribadah tanpa aturan, keduanya merupakan fitnah yang besar di alam semesta bagi orang-orang yang menjadikan keduanya sebagai pedoman.

Ini mengisyaratkan bahwa orang yang pandai tetapi kependaiannya hanya untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain, itu tidak berarti (sia-sia), begitu juga orang bodoh beribadah, ibadahnya bisa batal atau ia akan mudah terjerumus ke aliran sesat.

Seperti yang tertuang dalam syair berikut:

فَسَادٌ كَبِيْرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ  #  وَ اَكْبَرُ منْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكُ

Gedene kerusakan wong alim dak ngelakoni.

Luwih gede timbang iku wong bodo ngelakoni.

  1. Sikap dalam berilmu

Az-Zarnuji mengingatkan agar penuntut ilmu yang telah bersusah payah belajar, agar tidak memanfaatkan ilmunya untuk urusan-urusan duniawi yang hina dan rendah nilainya. Untuk itu kata Zarnuji hendaklah seseorang itu selalu menghiasi dirinya dengan akhlak mulia.

  1. Bermusyawarah (diskusi), Sabar dan Teguh
Baca Juga:  Mengapa Nabi Muhammad Menyebut Hari Sabtu Penuh dengan Tipu Daya?

Menurut Zarnuji seorang pelajar perlu bermusyawarah dalam segala hal. karena Allah memerintahkan Rasulullah Saw. untuk bermusyawarah dalam segala hal, padahal tak seorangpun yang lebih cerdas darinya.

Zarnuji juga mengatakan bahwa kesabaran dan keteguhan merupakan modal yang besar dalam segala hal. Seorang pelajar harus sabar menghadapi berbagai cobaan dan bencana. Di samping berjiwa sabar dalam menuntut ilmu, juga diperlukan bekal yang memadai dan waktu yang cukup serta kemampuan otak.

Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam belajar menurut Az-Zarnuji. Mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Latest posts by Mohammad Mufid Muwaffaq (see all)