Konsep Kebahagiaan Menurut Ibnu Athaillah as-Sikandari

konsep kebahagiaan

Pecihitam.org – Ibnu Athaillah as-Sakandari merupakan ulama yang terkenal akan kedalaman ilmu tasawuf yang ia miliki. Al Hikam adalah buah karya dari beliau yang menggambarkan keagungan ilmu yang dimilikinya.

Dalam kitab tersebut kita bisa menjumpai banyak mutiara hikmah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tak terkecuali konsep kebahagiaan, beliau mempunyai sebuah metode tersendiri agar manusia diliputi kebahagiaan sejati.

Dalam kitab Al Hikam, beliau menyebutkan konsep kebahagiaan bahwa senang dan sedih adalah dua kata yang saling bertolak belakang. Meskipun begitu, keduanya memiliki bobot yang hampir sama.

Misalnya, ketika seseorang terlanjur sangat senang akan sesuatu, maka ia akan merasa sangat sedih bila harus kehilangan sesuatu tersebut. Keduanya saling berlawanan, namun mempunyai hubungan sebab akibat yang setimpal.

Kebahagiaan adalah keadaan seseorang saat suasana hati terasa senang dan tenang. Saat hati manusia diliputi oleh kesenangan dan ketenangan, maka seluruh jiwa raganya dihinggapi rasa kebahagiaan.

Namun yang menjadi permasalahan, suasana hati tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Hati mudah dibolak-balikkan, sehingga pada satu hari ia dapat merasakan kegembiraan, namun di hari bisa berubah menjadi rasa kekecewaan.

Seiring berjalannya waktu, manusia menemukan berbagai macam hal yang bisa mengantarkannya pada kebahagiaan. Mungkin ada yang menemukan kebahagiaan pada jabatan, kekayaan, atau bahkan hal lain yang membuatnya senang. Setiap hari manusia berjuang mati-matian untuk meraih semua itu.

Baca Juga:  Hukuman Mati al-Hallaj: Alasan Teologis dan Politis

Permasalahannya, hal itu bersifat sementara dan bisa hilang tiba-tiba. Oleh karenanya, manusia akan mengalami proses kecewa dan bahagia saat perjalanan menggapai hal tersebut. Mendapat atau kehilangan pasti akan terjadi, dan semua itu akan terus berulang bagai siklus yang tidak bisa dihentikan.

Manusia adalah sosok petualang tangguh yang dibekali akal untuk memecahkan masalah. Mereka didesain secara khusus berdasarkan sifat pantang menyerah untuk memecahkan berbagai macam permasalahan yang menghalangi proses kebahagiaannya. Lantas jika semua telah didapatkan, bukankah ia akan berada di fase kebosanan?. Dan kebahagiaan yang macam mana lagi yang harus dicari?.

Maka, disinilah Ibnu Athaillah as-Sakandari mengajari kita mengenai konsep kebahagiaan sejati. Dimana kita tidak perlu merasakan susah apalagi kesedihan dalam menggapai kebahagiaan. Hati akan senantiasa bahagia dan diikuti raga yang akan selalu tersenyum kepada semua.

لِيِقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ

“Tatkala berkurang apa yang membuatmu bahagia, maka berkurang pula apa yang membuatmu sedih”. (Al-Hikam : hal 45)

Baca Juga:  Konsep Hulul Al-Hallaj dan Pro Kontra Para Ulama

Petikan kata hikmah dalam kitab Al Hikam tersebut menggambarkan secara jelas apa yang seharusnya kita lakukan pada segala hal di sekitar kita. Jangan sampai kita terlalu berharap ataupun mencintai segala sesuatu secara berlebih, karena jika kehilangan sesuatu tersebut rasa kecewa akan berlipat ganda.

Kecintaan berlebih hanya boleh kita tambatkan pada Allah swt, karena dialah sang Maha cinta. Jika hati kita sudah menyimpan rasa cinta pada Allah tentu tidak ada satupun yang bisa membuat kita terluka. Seperti perkataan Imam Syafi’I berikut ini

“Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya pengharapan supaya mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui orang yang berharap pada selain-Nya, Allah menghalangi dari perkara tersebut semata agar ia kembali berharap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” (Imam Syafi’i)

Meskipun begitu, untuk menggapai kecintaan sejati perlu usaha spiritual yang luar biasa. Penggoda tak terlihat (baca: Setan) akan senantiasa menghalangi kita pada kesejatiaan cinta. Biasanya kita akan dibelokkan dengan harta, kuasa, atau hal lain yang mungkin bisa membuat kita bahagia. Setan akan menyajikan kebahagiaan agar kita selalu mencari lebih dan pada suatu hari ia balikkan agar menjadi kekecewaan besar di lubuk hati manusia.

Baca Juga:  Dimensi Sosial dalam Tasawuf Abu Thalib al-Makki

Untuk menyiasati hal itu, konsep syukur harus kita tanamkan. Merasa cukup dengan segala yang ada untuk menghentikan kefanaan rasa bahagia. Kita perlu mengingat bahagia bukan terletak pada puncak hal yang kita tuju.

Bahagia akan terletak pada puncak kecintaan kita pada Allah swt. Oleh karenanya, merasa cukup atas segala hal yang diberikan akan membantu kita memupuk rasa cinta itu. Sehingga suatu saat kita dapat memanen rasa bahagia yang tidak akan pernah hilang untuk selamanya.

Muhammad Nur Faizi
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG