Konsep Manusia Sebagai Makhluk Teomorfis (Memiliki Unsur Ilahiah)

manusia teomorfis

Pecihitam.org – Secara umum manusia selalu dikategorikan sebagai bagian dari makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan. Setelah itu, seringkali manusia dianggap memiliki strata yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua makhluk tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ketinggian derajat manusia itu sering disebut terletak dari kemampuan manusia dalam menangkap hal-hal yang abstrak dan kompleks dari apa yang terinderai olehnya. Perangkat yang menjadikan manusia mampu mengolah segala informasi yang terinderai itulah yang disebut sebagai akal pikiran.

Meski manusia memiliki ketinggian derajat yang dinilai dari akal pikirannya, ternyata ada pandangan lain perihal konsepsi manusia menurut para filusuf muslim. Menurutnya manusia memiliki unsur-unsur ilahiah ataupun sifat-sifat ketuhanan.

Klaim tersebut berdasarkan pada salah satu dalil naqli yakni: “Maka ketika telah Kusempurnakan bentuknya, Kutiupkan kepadanya daripada ruh-Ku” (QS. 15;29). Melalui penggalan nash al-Qur’an tersebut menampakkan bahwa manusia oleh Allah Swt ditiupkan ruh-Nya sehingga manusia bisa hidup.

Prof. Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya Lentera Kehidupan: Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia (2017) menjelaskan bahwa seorang Sayyid Hosen Nashr menyebut manusia sebagai makhluk Teomorfis, yakni makhluk yang memiliki bentuk dan rupa ilahi.

Baca Juga:  Pengertian Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat dalam Tasawuf

Gagasan tersebut memiliki landasan dari sebuah nukilan hadis yang berbunya “manusia telah dicipta menurut rupa-Nya.” Melalui landasan tersebut Sayyid Hosen Nashr menjelaskan bahwa manusia ini merupakan makhluk yang memiliki unsur-unsur ilahiah.

Jika manusia merupakan makhluk yang memiliki unsur-unsur ilahiah, lantas dalam hal apa manusia itu menyerupai Tuhannya? Pertanyaan ini tentu saja sangat penting dalam pembahasan tauhid. Sebab, jika tidak tepat menjelaskannya akan jatuh kepada kekufuran teologis.

Dalam tauhid ada yang disebut Tuhan sebagai dzat (esensi) dan Tuhan sebagai sifat-sifat. Nah, yang dimaksudkan manusia sebagai makhluk teomorfis disini adalah manusia dalam kategori memiliki kemiripan dalam ranah sifat-sifat ketuhanannya. Karena, manusia tidak mungkin mirip kepada Tuhannya dalam level dzatnya atau esensinya.

Perihal manusia sebagai makhluk teomorfis ini, Prof. Mulyadhi menyebut seorang filusuf bernama Faridudin Attar pernah menceritakan sebuah kisah burung-burung yang berkaitan dengan penjelasan  yang sedang kita bahas ini.

Faridudin Attar melalui kitabnya Manthiq al-Thair menceritakan perihal burung-burung yang terbang menuju sang rajanya. Sang raja di sini olehnya dianalogikan sebagai Tuhan. Para burung yang jumlahnya jutaan itu terbang bersama-sama untuk menghadap kepada rajanya.

Baca Juga:  Hubungan Suluk dan Tasawuf, Dua Sisi yang Tidak Bisa Terpisahkan

Namun, dari jutaan burung tersebut yang dapat sampai jumlahnya hanya tiga puluh burung saja. Tiga puluh burung yang sampai tersebutlah kemudian bertemu dengan sang rajanya. Ternyata sang raja tersebut mirip dengan mereka (burung-burung).

Kemiripan sang raja dengan para burung ini tapi tidak benar-benar sepenuhnya mirip. Namun, di sisi yang lain juga tidak bisa dikatakan sepenuhnya berbeda dengan sang rajanya. Hal ini untuk menganalogikan bahwa manusia ini makhluk yang mirip dengan Tuhan-nya, namun di sisi lain juga berbeda secara dzatiah (esensi) dengan Tuhannya.

Kemiripan manusia dengan Tuhannya dalam ranah sifat-sifat ini memiliki legitimasi dari sebuah hadis yang berbunyi “Berakhlaklah kalian dengan akhlak-akhlak Allah.” Melalui penjelasan ini semakin menegaskan perihal kemiripan manusia dengan sifat-sifat dari Allah Swt.

Maka dari itu, dalam tradisi Sunni ada kebiasaan untuk menghafalkan Asm’ul Husna, nama-nama mulia (sifat-sifat) dari Allah Swt. Melalui nama-nama tersebutlah manusia diminta untuk meniru akhlak dari Allah Swt seperti maha pengasih, maha penyayang dan maha pemaaf dsb.

Baca Juga:  Sejarah dan Perkembangan Tasawuf Sunni dari Masa ke Masa

Untuk mencapai derajat sebagai manuisa ilahiah tersebut, manusia harus menempuh dulu jalan sunyi untuk membersihkan diri dari kotornya hati dan cinta dunia. Setelah berhasil melewati fase itu, manusia kemudian bertransformasi untuk semakin dekat dengan Tuhannya melalui sifat-sifatnya.

Demikianlah penjelasan perihal konsep manusia sebagai makhluk teomorfis sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para filusuf muslim. Untuk mencapai level yang mirip secara sifat dengan Tuhannya, manusia harus melalui jalan bersih-bersih diri terlebih dahulu. Wallahua’lam.