Inilah Konsep Pendidikan Tarbiyah yang Paling Sesuai Diterapkan pada Anak

Inilah Konsep Pendidikan Tarbiyah yang Paling Sesuai Diterapkan pada Anak

Pecihitam.org- Islam sangat memperhatikan terkait pendidikan terhadap anak dan memberikan konsep Pendidikan tarbiyah secara kongkrit. Baik yang terdapat dalam AlQur’an maupun penjelasan Nabi Muhammad SAW yang ada didalam Hadits.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Karena di dalam pertumbuhan seorang anak, harus mendapatkan bimbingan sepenuhnya dari pendidik, sebab menurut ajaran Islam, ketika anak dilahirkan dalam kondisi lemah dan suci/fitrah, serta alam sekitarnyalah yang akan memberikan latarbelakang terhadap nilai hidup atas pendidikan seorang anak, khususnya pendidikan karakter.

Dimana terdapat dalam Surat Al-Isra Ayat 23-24 dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan bagi anak, memberikan konsep pendidikan Tarbiyah yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin suatu kehidupan sesuai dengan norma yang berlaku serta keinginan yang kuat dalam cita- citanya (M. Yatimin Abdullah, 2006: 57).

M. Yatimin Abdullah (2006: 57) dalam pendidikan dan pengajaran Islam tidak hanya memenuhi otak seorang anak, akan tetapi mendidik akhlak, jiwa, dan membiasakan dengan kesopanan tinggi inilah esensi adanya pendidikan Islam.

Baca Juga:  Penjelasan Dalil Taqdir Muallaq Menurut Beberapa Ulama

Adapun tujuan dari pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Hal ini nilai-nilai Islam akan berpengaruh dalam menjiwai dan mewarnai corak kepribadian seorang muslim (Muhammad Athiyah al-Abrasyi, 1974: 15).

Dalam pendidikan (menumbuhkembangkan/ tamniyah) anak sangat diperhatikan untuk menciptakan karakter yang baik. Jasa yang besar dalam kehidupan sang anak adalah orang tua dimana masih dalam kandungan hingga dewasa yang dibekali dengan pendidikan bagi dirinya.

Maka dari itu anak memiliki rasa tanggung jawab untuk berbuat baik, memelihara serta merawatnya kepada orang tua Tindakan anak terhadap orang tua dalam berkomunikasi maupun berbuat terhadap orang tua harus memiliki etika yang benar dalam pergaulan yaitu menghormati serta menghargainya.

Maka sesuai dengan konsep pendidikan etika yang perlu diperhatikan bagi anak yang terkandung dalam al-Qur‟an surat al-Isra‟ ayat 23-24, adalah sebagai berikut: وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Berbuat baik kepada orang tua dikenal dengan sebutan birrulwalidain. Istilah “al-barr” meliputi aspek kemanusiaan dan pertanggungjawaban ibadah kepada Allah.

Baca Juga:  Grebeg Syawal, Cara Keraton Merayakan Hari Raya Idul Fitri Bersama Rakyatnya

Dalam jalur hubungan kemanusiaan dan tata hubungan hidup keluarga serta lingkungan masyarakat wajib dipahami bahwa kedua orang tua yaitu ayah dan ibu menduduki posisi yang paling utama. Namun demikian kewajiban ibadah kepada Allah dan taat kepada Rasul tetap berada di atas hubungan horizontal kemanusiaan (Sudarsono, 2005: 45).

Hal ini memberikan pengertian bahwa kewajiban berbakti, mengabdi dan menghormati kedua orang tua (ayah dan ibu) setelah beribadah kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya.

Dalam etika Islam, dorongan untuk berbuat baik kepada orang tua telah menjadi salah satu akhlak yang mulia (mahmudah). Dorongan dan kehendak tersebut harus tertanam sedemikian rupa, sebab pada hakikatnya hanya ayah dan ibu yang paling besar dan terbanyak berjasa kepada setiap anakanaknya.

Nabi saw mengangkat ajaranajarannya ke puncak ketika beliaumenasihati para pengikutnya untuk memperlakukan dengan baik dan bersikap hormat kepada orang tua meskipun mereka mengikuti agama selain Islam.

Baca Juga:  Hukum Menonton Film Korea Menurut KH. Imam Jazuli

Seorang muslim sejati yang memahami makna bimbingan al-Qur’an dan ajaran Nabi saw tidak bisa kecuali menjadi yang terbaik dan berbuat yang terbaik kepada orang tua (Achmad Sunarto, 1999: 325).

Seorang anak wajib taat dan patuh kepada orang tua namun bila orang tua mengajak ke arah kemusyrikan, maka anak tidak ada kewajiban untuk mentaatinya.

Hanya saja sebagai anak tetap menggauli mereka dengan baik senantiasa ditunjukkan. Hal ini merupakan bentuk dari sikapanak dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.

Mochamad Ari Irawan