Krisis Spiritualitas Manusia Modern

Krisis Spiritualitas Manusia Modern

Pecihitam.orgTasawuf dan modernitas adalah dua entitas, yang oleh banyak pihak dipandang sangat bertolak belakang. Tasawuf berkiblat kepada pada kehidupan akhirat dan cenderung membelakangi dunia sedangkan modernitas berkiblat pada dunia dan meninggalakan akhirat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jika bercermin pada filsafat manusia, maka dapat diketahui bahwa manusia adalah makhluk multidimensional, ada yang menyebut sebagai makhluk monodualisis, yaitu jasmani dan rohani atau lahir dan batin.

Dalam kehidupannya manusia tidak mungkin meninggalkan atau melupakan dunia karena manusia masih membutuhkan makan, pakaian untuk melindungi tubuhnya, bahkan untuk untuk beribadah manusia (seorang muslim) juga membutuhkan pakaian untuk menutupi auratnya. Manusia juga masih membutuhkan rumah tempat berlindung dari sengatan panas matahari dan guyuran hujan.

Jika manusia sudah memilih dunia maka kehidupan akhirat mudah terabaikan dan mudah terlupakan. Fenomena ini sering dihubungkan dengan kehidupan modern yang menyebabkan manusia lupa kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Manusia modern dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mengandalkan kemampuan akalnya untuk mengolah dunia, menciptakan peralatan canggih, menciptakan kemudahan-kemudahan untuk kesenangan dunia dan pada gilirannya mereka bahwa manusia mampu hidup dengan kemampuan dirinya sendiri.

Baca Juga:  Pengertian Maqom dan Ahwal dalam Dunia Tasawuf Serta Tingkatannya

Anggapan seperti ini adalah titik awal dari proses sekularisasi, yaitu pemisahan secara tegas antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat.

Manusia modern memposisikan dirinya sebagai subyek yang menentukan segala parameter norma dan ukuran, sementara alam semesta adalah obyek yang harus dikuasai dan dieksploitasi demi kemajuan dan kesenangan manusia.

Manusia bahkan menjauhkan diri dari petunjuk-petunjuk adikodrati dan spiritual karena semakin ia jauh dari kehidupan akhirat maka semakin membuatnya berkuasa di dunia.

Manusia modern dengan paham seperti ini memusatkan perhatiannya hanya kepada kehidupan materi. Materi menjadi cara pandang baginya sehingga kebenaran dan kebahagiaan pun diukur dari materi, di luar materi tidak ada kebenaran.

Titik klimaks dan paham seperti ini adalah atheis atau ateisme yang memandang dunia sebagai sesuatu yang ada dengan sendirinya, kekal tanpa campur tangan kekuatan di luar dirinya, yang berakhir dengan deklarasi kehidupan tanpa tuhan.

Bertolak dari watak bawaan dasar manusia sebagai makhluk monodualis itulah sesungguhnya titik berangkat dari kedua paham di atas. Secara kasat mata, kedua cara pandang tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan karena masing-masing berada pada ujung yang ekstrem .

Baca Juga:  Konsep Hulul Al-Hallaj dan Pro Kontra Para Ulama

Cara hidup kesufian yang ekstrem itu tidak luput dari kritik meskipun dengan dalih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sebaliknya, cara hidup modern yang sepenuhnya materi itu pun dianggap bukan jalan terbaik dalam rangka kemajuan dunia dan peradaban manusia.

Oleh karena itu, umat islam harus melihat titik balik dari kedua paham itu sehingga umat islam tidak gagap menyikapi bahkan menciptakan kehidupan modern tetapi pada waktu yang sama juga tidak tercabut dari akar spiritualitasnya.

Penyembuhan spiritual memiliki dasar yang kuat dalam Islam umumnya dan tasawuf khususnya. Seperti membaca al-Qur’an dan doa-doa sebagai metode penyembuhan merupakan salah satu tradisi tasawuf. Oleh karena itu, para sufi banyak melakukan penyembuhan spiritual dengan membaca zikir, membaca al-Qur’an dan melafazkan doa-doa.

Amaliah zikir misalnya, banyak sekali rahasia dan manfaat yang dilakukan oleh para hamba yang beriman dan bertakwa, yaitu dapat menimbulkan ketenangan dan kedamaian dalam jiwa bagi yang mengamalkannya.

Allah swt berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” Ketenangan dan kedamaian merupakan dambaan setiap insan karena merupakan sumber utama dari kebahagiaan hidup.

Baca Juga:  Shahwu dan Sukru, Adakah Diantara Kita yang Pernah Mengalami Mabuk Cinta Karena Allah?

Kita telah membuat teknologi yang sangat canggih namun kita gagap dalam mengubah diri sendiri. Pribadi kita masih tertatih-tatih dalam menggapai kesempurnaan akhlak, namun kita telah banyak menemukan banyak hal yang membuat hidup menjadi lebih mudah.

Dalam keadaan seperti  ini , hanya dengan kembali kepada ajaran agama Allah kita mampu menemukan pribadi manusia seutuhnya. Dan shalat yang merupakan tiang agama dapat menggapai keindahan hidup serta mampu mensucikan jiwa dan menjadikan manusia sebagai insan Rabbaniyyah dengan segenap keindahan nuraninya.

Muhammad Nur Faizi