Latar Belakang Munculnya Hadis Palsu, Bagian 1

hadis palsu

Pecihitam.org,– Berbicara tentang hadis, tentu tidak bisa disamakan saat kita berbicara tentang ayat ayat Al Qur’an yang kepastiannya tak bisa dibantah dan diragukan lagi. Sekalipun saat kita menoleh pada tafsirannya barulah kita mendapati beberapa tafsiran yang beragam. Lantas bagaimana dengan hadis? Mengapa dalam memahami hadis, kita malah diperkenalkan dengan istilah hadis lemah bahkan hadis palsu?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebelumnya, yang perlu kita ketahui terlebih dahulu ialah pengertian dari hadis itu sendiri. Dari kalangan Ilmu hadis, mereka berpendapat bahwasanya hadis ialah segala perkataan Nabi, perbuatan dan hal Ihwalnya yang meliput pada apa-apa yang berkaitan dengan karakteristik, sejarah, kelahiran dan kebiasaan kebiasaannya.

Lain halnya dengan pengertian yang berasal dari ulama Ushul yang malah berpendapat bahwa, segala perkataan Nabi Saw., perbuatan, dan taqrirnya yang berkaitan dengan hukum Syara’ dan ketetapannya itulah yang disebut dengan hadis.

Sehingga dari pengertian ulama Ushul bisa disimpulkan bahwa hadis ialah apa pun yang bersandar dari Nabi Saw., yang berkaitan dengan hukum atau ketentuan Allah yang disyariatkan kepada kita selaku manusia.

Pertanyaannya kemudian ialah, jika hadis pada kesimpulannya adalah sesuatu yang bersumber dari Nabi Saw., lantas mengapa kita mengenal istilah hadis palsu? Apakah ini membuktikan bahwa beberapa kelompok yang berasal dari kalangan non islam memang berhobikan menyesatkan kita selaku umat Islam?

Baca Juga:  Lika-Liku Aliran Fundamentalis yang Hanya Memahami Hadis Nabi Secara Tekstual

Namun sayangnya dalam catatan sejarah bukan hanya mereka yang berkalangan non Islam yang kadang melakukan hal buruk ini, melainkan beberapa darinya malah beragama Islam.

Hadis Maudhu’, inilah sebutan lain dari hadis palsu, yakni hadis yang sengaja dibuat oleh orang orang pendusta dengan mengatasnamakan Rasulullah Saw., sebagai sandaran atas apa yang diucapkannya.

Al Maudhu’ sendiri adalah isim maf’ul dari wa-dha-‘a, ya-dha-‘u, wadh-‘an yang mempunyai arti Al-Isqath (meletakkan atau menyimpan), al iftira’ wa al ikhtilaq (mengada ngada atau membuat-buat).

Dari pemalsuan inilah, tentu sebagai pendengar dan penerima yang tidak melakukan cek dan ricek terlebih dahulu. Baik pada sanad (susunan rangkaian para periwayat hadis dalam periwayatan) maupun matan (isi) hadis, tentu akan langsung mengamalkannya begitu saja. Untung-untung jika tidak ikut menyebarluaskan ucapan tersebut dengan mengatakannya sebagai hadis yang asalnya dari Rasulullah Saw.,

Untuknya, pada artikel bagian satu ini, penulis terlebih dahulu paparkan terkait beberapa pandangan perihal kapan munculnya hadis palsu itu.

Pertama, pemalsuan hadis sudah ada sejak Rasulullah Saw dan ini merupakan pendapat sebagian dari ulama hadis. Ahmad Amin (cendekiawan dan sejarawan Mesir) salah satu dari pendukung pendapat ini dengan menggunakan dalil logis yang berasal dari sabda Nabi Saw., yang berbunyi

Baca Juga:  Perbedaan Ulama dalam Pembagian Fase Periodeisasi Syarah Hadis

“Barangsiapa yang mengatakan sesuatu atas namaku padahal aku sendiri tidak mengatakannya, maka siap siaplah menempati posisinya dalam Neraka” (HR. Bukhari).

Sehingga berangkat dari sini, Ahmad Amin dan ulama lainnya beranggapan bahwa hadis diatas diungkapkan oleh Rasulullah Saw. Karena beliau memang telah mewanti-wanti atau memperkirakan terkait hadirnya pihak pihak tertentu yang ingin berbohong dengan mengatasnamakan dirinya.

Kedua, sebagian ulama lain berpendapat bahwa pemalsuan hadis terjadi pada akhir masa kekhalifahan Utsman bin Affan yang memerintah pada tahun (23-35 H).

Menurut Akram al ‘Umari, pemalsuan ini terjadi tidak lain karena situasi pada waktu itu kacau balau akibat dari berbagai pertentangan dan perpecahan dari kalangan umat Islam.

Sehingga mau tidak mau, umat Islam pada waktu itu terbagi atas beberapa kelompok. Sehingga dari situasi ini memicu munculnya hadis palsu demi kepentingan kelompok atau kepentingan pihak pihak tertentu. Misalnya dari Ibnu Addis yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw., bersabda “Sandal Utsman lebih sesat daripada ‘Ubaidah”

Ketiga, yakni munculnya hadis palsu berpuncak pada masa kekhalifaan Ali bin Abi Thalib, yang lebih tepatnya lagi saat munculnya perpecahan antara golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 618-619 – Kitab Adzan

Tidak hanya itu, kekacauan semakin bertambah ketika keluarnya sebagian pengikut Ali dengan membentuk kelompok sendiri (Khawarij) dan terbentuk pula kelompok dari pendukung Ali (Syiah).

Sehingga dalam membela kelompok masing masing, beberapa dari mereka dengan sengaja mengemas ucapan ucapan yang diakuinya berasal dari Rasulullah Saw., dan tentu ini dilakukannya demi kepentingan mereka.

Sebagai contoh terkait hadis palsu yang dibuat oleh golongan Mu’awiyah yakni berbunyi:

“Tiga golongan yang dapat dipercaya, yaitu saya (Rasul), Jibril, dan Mu’awiyah. Kamu termasuk golonganku dan aku bagian dari kamu” (Dr. Mustafa Al Siba’i, Al Sunnah wa Makanatuha fi Al Tasyri al Islami, (Kairo: Dar Al Salam, 1998), cet. ke 1, hlm. 86-87)

Itulah sekilas beberapa pandangan kapan munculnya hadis palsu, maka untuk latar belakang secara luasnya akan penulis paparkan pada bagian kedua.

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *