Lebaran Ketupat, Tradisi “Ngaku Lepat” dengan Menggunakan Media “Kupat”

Lebaran Ketupat, Tradisi "Ngaku Lepat" dengan Menggunakan Media "Kupat"

PeciHitam.orgHari Raya Idul Fitri merupakan hari yang sangat dinanti kedatangannya setelah berpuasa sebulan penuh. Bahkan bagi mereka yang tidak berpuasa dengan penuh, hari kemenangan ini tetap dirayakan dengan penuh suka cita.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Berkah Idul Fitri semuanya dengan legowo saling memaafkan berapapun kesalahan seseorang. Permintaan maaf diungkapkan dengan berbagai cara baik konvensional atau dengan media alternatif menggunakan sentuhan teknologi.

Era modern saat ini, ucapan permintaan maaf banyak menggunakan meme, editan foto atau menggunakan kata-kata estetik yang banyak bertebaran di media sosial. Kemajuan penggunaan media sosial untuk mengucapkan permintaan maaf tidak serta merta menggeser media simbolis permintaan maaf dalam tradisi.

Media simbolis untuk permintaan maaf masa dahulu adalah menggunakan ketupat atau kupat. Kata Kupat adalah Akronim dari Ngaku Lepat atau mengaku bahwa dirinya banyak mempunyai salah.

Beberapa daerah di Nusantara bahkan merayakan lebaran Ketupat atau Bodo/ Bakda Kupati pada hari dan kesempatan khusus untuk menunjukan pentingnya saling maaf memaafkan.

Apa Itu Lebaran Ketupat

Lebaran ketupat atau Bakdo Kupat adalah lebaran yang dirayakan oleh sebagian kaum muslim sepekan setelah lebaran Idul Fitri. Tepatnya tanggal 8 Syawal dalam penanggalan Hijriyah.

Lebaran ini banyak dirayakan di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah sebagai bentuk simbolisasi permintaan maaf, (Kupat = ngaku lepat).

Lebaran Ketupat juga diperingati setelah seseorang menyelesaikan puasa syawal 6 hari dimulai tanggal 2 Syawal dan selesai tanggal 7 syawal. Maka tanggal 8 syawal dikhususkan untuk merayakan ketupat berbeda dari lebaran Idul fitri yang jatuh tanggal 1 syawal.

Lebaran ketupat juga bisa dimaknai sebagai lebaran untuk merayakan kemenangan dan kegembiraan telah berpuasa syawal 6 hari yang pahalanya setara dengan setahun penuh berpuasa. Rasulullah SAW bersabda dalam Hadits,

Baca Juga:  Ilmu Yang Wajib Dipelajari Setiap Muslim

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya; “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Perayaan Lebaran Ketupat menjadi perayaan kedua untuk mereka yang berpuasa sebanding dengan puasa setahun penuh. Dalam perjalanannya, lebaran ini menjadi budaya/ tradisi yang melekat kepada ritus acara adata dengan banyak membuat ketupat/ kupat untuk dimakan dan dibagikan kepada tetangga dan sanak saudara.

Kebanyakan orang yakin bahwa tradisi Bakdo Kupat/ Lebaran Ketupat berasal dari ajaran Sunan Kalijaga yang banyak dirunut Ijtihadnya dalam bidang pengawinan Nilai Islam dan tradisi Jawa.

Tradisi Lebaran Ketupat menjadi simbol budaya untuk dilestarikan dan diperkuat karena bisa menciptakan ajaran Islam yang hidup.

Tentunya ajaran untuk saling memaafkan dalam bentuk apapun disunnahkan dalam Islam. Lebaran Ketupat sebagai perayaan bagi mereka yang berpuasa syawal selama 6 hari jelas ajaran Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim.

Makna Filosofis Ketupat

Lebaran ketupat akan selalu identik dengan makanan ketupat atau Kupat. Ketupat biasanya dibuat menggunakan daun kelapa yang masih berwarna putih atau daun kelapa masih muda yang dinamakan janur.

Daun janur dirangkai dengan metode mengaitkan dan menyusun sedemikian rupa sebagai simbol keeratan dan keterakitan dalam kebersamaan.

Kupat adalah akronim/ kependekan dari Ngaku Lepat (mengaku salah) maka dalam lebaran ketupat diwujudkan dalam bentuk sungkeman, bersimpuh kepada orang yang lebih tua dan meminta maaf.

Dengan hal ini kita diberi makna filosofis untuk selalu menghargai, menghormati dan meninggikan derajat orang tua. Tentunya ajaran untuk menghormati orang tua berasal dari ajaran Rasulullah SAW.

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤

Baca Juga:  Khazanah Tentang Bagaimana Meneguhkan Moderasi Islam

Artinya; “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (Qs. Luqman; 14)

Bentuk penghormatan dalam setiap struktur budaya tentunya berbeda, sebagaimana dalam tradisi Nusantara khususnya Jawa, sungkeman adalah bentuk penghormatan dan berbuat baik. Umum dipahami dalam tradisi jawa jika seseorang tidak mau sungkem berarti tidak memiliki rasa penghormatan kepada orang tua.

Perintah Allah untuk menghormati dalam surah Luqman ayat 14 tersebut diaplikasikan dalam tradisi jawa dalam bentuk sungkeman yang ada dalam budaya Lebaran Ketupat.

Melestarikan budaya lebaran ketupat secara tidak langsung melestarikan ajaran Allah SWT berupa ajaran “وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ”-berbuat baik kepada orang tua.

Selian bermakna ngaku lepat, Kupat juga mengandung filosofi laku papat atau empat tindakan. Maksudnya adalah lebaran, luberan, leburan dan laburan. Makna Lebaran berasal dari bahasa Jawa yaitu Usai merujuk pada momentum Usainya puasa Ramadhan masuk hari Kemenangan.

Luberan bermakna pesan moral untuk saling berbagi, meluberkan rejeki kepada orang lain yang membutuhkan dari golongan fakir miskin, orang terlantar dan orang yang membutuhkan. Orang dengan pengamalan meluberkan rejeki pastinya orang yang dermawan.

Leburan bermakna filosofis meleburkan segala salah dan dosa kepada keluarga, sanak saudara dan kepada sesama. Meleburkan dosa dan kesalahan menjadikan seorang menjadi fitri dan suci sebagaimana pesan Idul fitri untuk melepaskan segala dosa.

Makna terakhir adalah Laburan yakni bertujuan menjernihkan hati dari segala nafsu Ghadzabiyah dan Amarah. Laburan bermakna asal air kapur yang berfungsi sebagai penjernih dari segala kotoran.

Tujuan filosofis merujuk kepada penjernihan hati dari segala dosa dan kesalahan. Memasuki Leabaran ketupat seyogyanya bisa mengamalkan Laku Ngaku Lepat dan Lebaran, Luberan, Leburan, Laburan.

Lebaran Ketupat dan Dakwah Budaya Walisongo

Sejarah awal lebaran ketupat bisa dilihat dalam tulisan hasil penelitian De Graaf tentang penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Abad ke-15 berdiri kesultanan Demak diutara Pulau Jawa dengan raja pertama Raden Patah. Penyokong utama dalam bidang Agama dan Politik adalah dewan Walisongo yang terkenal dengan dakwah berwawasan budaya.

Baca Juga:  Kecerdasan Syekh Said Ramadhan Al-Buthi Membuat "Gerah" Salafi Wahabi

Dakwah dengan mengakomodasi tradisi dan budaya menjadikan Islam diterima dengan baik oleh masyarakat di Jawa. Banyak nilai-nilai Islam yang diinternalisasikan dalam bentuk kebudayaan dan tradisi bahkan kesenian.

Dakwah dengan metode ini sangat halus menjadikan alam bawah sadar seseorang akrab dengan ajaran Islam.

Penggunaan daun muda pohon kelapa dinamakan Janur, Jatining Nur untuk menunjukan cita-cita manusia adalah menggapai cahaya Ilahi dengan hati yang bersih. Hati bersih tentunya dengan menanggalkan bercak dosa dalam bingkai saling memaafkan antar sesama.

Satu sisi, Janur juga diyakini sebagai penolak hama yang banyak dipasang disawah warga setelah masa tanam padi. Sunan Kalijaga mengakomodir tradisi ini kemudian menggeser nilainya tidak lagi sebagai penangkal bala, akan tetapi perlambang filosofis untuk saling memaafkan.

Janur sebagai bahan dasar pembuatan Kupat sebagai bukti kelengkapan dakwah yang harmoni antara nilai islam dan tradisi. Tradisi, budaya dan Nilai Islam kiranya tidak perlu saling menegasikan/ menghilangkan jika bisa diakomodir dalam ajaran Islam.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan