Mutiara Hikmah yang Terkandung dalam Kisah Luqman Al-Hakim

Mutiara Hikmah yang Terkandung dalam Kisah Luqman Al-Hakim

PeciHitam.org Al-Qur’an berisi bukan hanya masalah akidah, syariah, dan akhlak akan tetapi juga mengandung kisah hikmah yang dapat menjadi ibrah bagi manusia. Banyak sekali cerita hikmah yang menunjukan kebenaran Al-Qur’an sebagai kitab yang paling sempurna.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Salah satu cerita dalam Al-Qur’an yang masyhur adalah kisah Luqman Al-Hakim. Kisah ini banyak mengulas nasihat-nasihat sederhana namun berbobot dari seorang ayah kepada anaknya. Penelitian tentang kisah Luqman dijadikan rujukan dalam pola asuh anak dan tata cara mendidik anak sesuai Al-Qur’an.

Pengabadian kisah Luqman dalam Al-Qur’an merupakan bentuk pembelajaran yang sangat berharga guna direnungkan oleh para orang tua. Kisah ini mengindikasikan pesan-pesan moral bernuansa dialog ‘nasehat’ khas orang Islam.

Siapa Itu Luqman Al-Hakim?

Sangat jarang sekali Al-Qur’an menyebutkan Nama seorang manusia biasa (bukan Nabi atau Rasul) dengan jelas. Dari sekian orang pilihan Allah SWT yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah Luqman Al-Hakim. Manusia Bijak Bestari yang menelurkan nasihat-nasihat penuh hikmah kepada anaknya yang sangat relevan dicontoh oleh Muslim.

Mayoritas riwayat menyebut bahwa Luqman Al-Hakim bukanlah seorang Nabi dan Rasul, hanya seorang lelaki shaleh yang Allah mengaruniakan hikmah kepadanya. Sifat bijaksana yang dimiliki Luqman al-Hakim menjadikan beliau pantas namanya tersemat dalam Al-Qur’an.

Kebiasaan/ tradisi Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang yang tersemat namanya dalam Al-Qur’an adalah orang-orang yang  sangat besar imbasnya dalam Islam. Al-Qur’an mengabadikan nama Abu Lahab, paman Rasul SAW, sebagai contoh orang yang sangat besar peran permusuhannya kepada  Nabi SAW.

Ibrahim AS, Nabi dari daerah Mesopotamia yang berdakwah disekitar Babylonia dan Palestina memiliki andil besar dalam meletakan dasar-dasar tauhid. Dan nama-nama lainnya kebanyakan dari golongan para Nabi dan Rasul. Wajar kiranya Allah SWT mengabadikan Nabi dan Rasul dalam Al-Qur’an.

Pendapat Imam Qatadah dan Imam Mujahid RA menyatakan bahwa Luqman al-Hakim bukan dari golongan Nabi atau Rasul. Keberkahan hidup Luqman Al-Hakim terletak dalam kebijaksanaan dan hikmah yang selalu beliau sampaikan kepada anaknya untuk selalu mengesakan Allah SWT.

Baca Juga:  Inilah Alasan Kenapa Imam Abu Hanifah Tidak Pernah Tidur Malam Selama 40 Tahun

Profesi Luqman menuai banyak pendapat, sebagian pendapat menyatakan beliau seorang penjahit pakaian. Sebagian lainnya menyatakan sebagai tukang kayu atau seorang penggembala dan ada juga yang mengatakan beliau berproesi sebagai Qadhi atau Hakim.

Pun asal beliau tidak ada kata sepakat dikalangan Ulama. Ada yang mengatakan beliau berasal dari Habasyah (Ethiophia sekarang) dan pandangan lainnya menyebutkan beliau dari Sudan.

Terlepas dari berbagai simpang pendapat terkait profil Luqman, ia bukanlah tokoh fiktif. Kepentingan Allah SWT menyebutkan beliau adalah untuk diambil ibrah pelajarannya.

Kedudukan Luqman al-Hakim yang bukan Nabi dan Rasul tidak menghalangi Allah SWT untuk memberikan pemahaman yang sangat berharga. Allah berfirman;

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٢٦٩

Artinya; “Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (Qs. Al-Baqarah: 269)

Anugerah Hikmah dari Allah

Pelajaran berharga dari Allah SWT bisa berwujud bermacam-macam, baik berupa pemahaman atau bisa berupa ilham. Pelajaran yang mengandung kebaikan dalam setiap kejadian biasa disebut dengan hikmah dalam konsep Islam. Dan hanya Allah-lah yang berhak memberikan kepada hambaNya yang terpilih.

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ (١٢

Artinya; “Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman” (Qs. Luqman; 12)

Memaknai terminologi Hikmah dalam Islam kiranya harus merujuk pada pendapat para ulama tentangnya. Setidaknya hikmah memiliki karakter;

  1. Hikmah selalu berkaitan erat dengan nilai kebenaran dan lurus dalam perkataan dan perbuatan.
  2. Manusia yang memiliki hikmah akan selalu meletakkan sesuatu sesuai dengan tempat yang selayaknya, baik perbuatan dan perkataannya. Ketika menghadapi orang keras, maka dihadapi dengan kelembutan bukannya dilawan dengan kekerasan serupa.
  3. Orang dengan hikmah tinggi akan selalu punya pemahaman yang baik dan benar, ilmu yang bermanfaat, dan tasir-takwil sesuai dengan kenyataan.
  4. Kecerdasan dan keyakinan akan selalu menyertai orang yang memiliki ilmu hikmah tinggi. Tidak harus mempunyai hafalan dalil normatif banyak, namun setiap perkataanya menunjukan kedalaman pemikiran dan kekuatan keyakinan (iman).
Baca Juga:  Mukhairiq: Seorang Yahudi yang Membantu Rasulullah di Perang Uhud

Kebijaksanaan dan Hikmah bukan hanya Allah SWT anugerahkan kepada Luqman RA, Nabi Dawud AS juga diberi Allah nikmah Hikmah yang besar.

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ (٢٠

Artinya; “Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan” (Qs. Shaad: 20)

Apapun bentuknya, Hikmah adalah anugerah Allah SWT kepada kekasihNya, baik Nabi atau bukan. Hal ini menunjukan bahwa kebenaran bukan hanya datang melalui mukjizat para Nabi, bisa saja berasal dari cerita yang mengandung pelajaran. Para Ulama dan Wali Allah juga dianugerahi keistimewaan Ilmu dan Hikmah supaya dapat dicontoh oleh umat Islam.

Pesan Hikmah Luqman

Dapat dikatakan bahwa Luqman Al-Hakim adalah manusia biasa yang diberi kelebihan Allah SWT berupa Ilmu hikmah. Pemahaman Luqman kepada Hikmah beliau sampaikan dalam bentuk nasihat-nasihat kepada Anaknya. Al-Qur’an menyebutkan;

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (١٢) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣

Artinya; “Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (Qs. Luqman: 12-13)

Pesan utama Luqman al-Hakim kepada anaknya tidak jauh dari nilai pendidikan orang tua kepada anaknya. Allah SWT menganugerahkan kepada Luqman sebuah Hikmah ketajaman berpikir dan memahami kedudukan sebagai hamba. Pesan utama Luqman ayat 11 di atas yakni sebagai berikut;

  1. Tugas seorang hamba kepada Sang Khalik adalah bersyukur atas segala karunia yang diberikan kepada manusia. Layaknya orang yang diberi hadiah oleh lain, maka mengucapkan terima kasih adalah keniscayaan. Ketika seorang diberi hadiah oleh orang lain dan tanpa berterima kasih bisa dibilang sebagao orang yang tidak tahu diri.
  2. Sama halnya ketika manusia diberi nikmat oleh Allah SWT, maka seyogyanya mengucapkan hamdalah dan bersyukur menjadi kewajiban. Hakikatnya, bersyukur atas apa yang Allah SWT berikan kepada manusia akan kembali kepada manusia itu sendiri.
  3. Hamba yang tahu diri dihadapan Rabbnya adalah mereka yang memahami kapasitas dirinya. Ia diberi nikmat maka sangat wajar berterima kasih dengan cara bersyukur kepada Allah SWT. Dan ketika hamba kufur atas nikmat Allah, akan digolongkan sebagai manusia yang tidak tahu malu dihadapan Pencipta.
Baca Juga:  Siasat dan Kecerdikan Abu Nawas Menjuarai Lomba Berburu

Pesan Luqman kepada anaknya sebagaimana difirmankan dalam ayat 13, yaitu Nasihat tauhid untuk dikedepankan. Redaksi ‘يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ’ adalah sebuah tanda dalam Islam bahwa nilai pertama yang harus diajarkan orang tua kepada anaknya adalah nilai keesaan Allah SWT.

Tauhid adalah pondasi utama dari segala Ilmu dalam Islam. Kesalahan dalam tauhid maka akan salah/ tidak diterima segala amal perbuatan baiknya. Perkataan Hikmah Luqman al-Hakim kepada anaknya adalah ‘konstruksi pendidikan’ dalam Islam bagi anak-anak.

Ibrah ayat tersebut adalah kewajiban Muslim yang mempunyai anak untuk menanamkan nilai-nalai teologi Islam sebelum mengenalkan segala perangkat Ilmu Islam lainnya. Luqman Al-Hakim adalah role mode, bagi pendidikan anak yang humanis dan agamis.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan