Macam-macam Mandi Sunnah Menurut Mazhab Syafi’i

Macam-macam Mandi Sunnah Menurut Mazhab Syafi'i

Pecihitam.org – Banyak sekali macam mandi sunnah, yang diberi pahala kalau dikerjakan. Memang Islam menganjurkan kebersihan, kebersihan badan, kebersihan pakaian, kebersihan tempat dan lain-lain. Bahkan saat mandi lebih baik memakai sabun yang harum karena malaikat rahmat sangat suka kepada yang wangi-wangi. Semua macam mandi sunnah ini bisa menjadi wajib dengan sebab nazar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Para ulama memberi thabith (batasan) untuk mengenal mandi-mandi yang wajib dan mandi-mandi yang sunnah, yaitu:

كُلُّ غُسْلٍ تَقَدَّمَ سَبَبُهُ فَهُوَ وَاجِبٌ وَكُلُّ غُسْلٍ تَأَخَّرَ سَبَبُهُ فَهُوَ مَنْدُوْبٌ

“Setiap mandi yang terdahulu sebabnya maka ia mandi wajib dan setiap mandi yang terakhir sebabnya dari mandi itu maka ia mandi sunnah”.

Tetapi dhabith di atas ada pengecualian, yaitu mandi setelah memandikan mayit, mandi orang kafir masuk Islam, mandi setelah sembuh dari gila, dan mandi orang sakit pinsan ketika telah sembuh kembali, maka hukumnya sunnah.  

Oleh karena itu, mandi sunnah itu sebenarnya sangat banyak tetapi saya menyebutnya sebagian saja menurut lebih populer disebutkan dalam kitab-kitab fiqh. Antaranya adalah:

1. Mandi mau pergi jumat

Mandi ini desebut dengan mandi jumat. Waktu untuk mandi jumat ini adalah dari terbit fajar hingga imam shalat Jumat mengucap salam. Dalil yang menetapkan sunnah mandi Jumat ini adalah hadis Nabi saw.:

إِذاَ جَاءَ اَحَدُكُمْ اِلَى الجُمْعَةِ فَلْيَغْسِلْ

“Apabila salah seorang kalian hendak pergi shalat Jumat maka hendaklah ia mandi dulu”.

Hadis di atas menunjukkan atas wajib mandi Jumat, tetapi perubahan hukumnya dari wajib menjadi sunnat karena ada hadis riwayat Turmuzi:

من توضّأ يوم الجمعة فبها ونعمت ومن اغتسل فالغسل أفضل

“Barangsiapa berwudhu pada hari Jumat maka dia telah mengamalkan sunnah dan itulah sebaik-baik sunnah. Barangsiapa mandi maka mandi lebih baik”.

2. Mandi ketika akan mengerjakan salat Id.

Baca Juga:  Apakah Sulam Alis dalam Hukum Islam bagi Wanita Diperbolehkan?

Waktu untuk mengerjakan mandi sunhah ini dari tengah malam hingga terbenam matahari. Adapun dalil yang menunjukkan atas sunnah mandi Id adalah hadis Nabi saw.:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يغتسل يوم الجمعة ويوم الفطر ويوم النحر ويوم عرفة. رواه أحمد والطبراني

“Nabi saw. mengerjakan mandi pada hari Jumat, mandi pada hari Fitri, mandi pada hari nahr, mandi pada hari arafah”.

3. Mandi Istisqa’

Mandi ini dilakukan ketika hendak mengerjakan shalat Istisqa’ (minta hujan). Disunnahkan mandi karena pada salat istisqa’ tempat berkumpul manusia, maka ia serupa dengan salat Jumat. Seperti ini juga mandi salat gerhana dan mandi salat lempar jumrah. Oleh karena itu para ulama menganggapnya sunat karena mengqiyaskan dengan mandi hari Jumat dan mandi hari Id.

4. Mandi salat khusuf (gerhana bulan) dan kusuf (gerhana matahari).

Mandi ini dikerjakan saat mau kerja salat gerhana, dan hukumnya sunnah karena qiyas pada mandi Jumat seperti mandi istisqa’ juga.

5. Mandi setelah memandikan mayit

Mandi ini disunnahkan berdasarkan hadis Nabi saw.:

من غسل ميتا فليغسل ومن حمله فليتوضأ. رواه أبو داود والترمذي

“Barangsiapa selesai memandikan mayit maka hendaklah ia mandi dan barangsiapa memikulnya hendaklah ia berwudhu”.

Hadis di atas menunjukkan atas wajib mandi setelah memandikan mayit, tetapi perubahan hukumnya dari wajib menjadi sunnah karena ada hadis yang diriwayatkan oleh hakim:

ليس عليكم في غسل ميتكم غسل اذا غسلتموه

“Kalian tidak wajib mandi karena memandikan mayat kalian apabila telah memandikannya”.

6. Mandi bagi orang kafir setelah masuk Islam.

Mengenai mandi ini disunnahkan berdasarkan hadis Qis bin ‘Ashim:

أنه أسلم فأمره النبي صلى الله عليه وسلم أن يغتسل بماء وسدر

“Qis bin ‘Ashim masuk Islam maka Nabi saw memerintahkannya mandi dengan air dan daun sidr”.

Baca Juga:  Hukum Menonton Film Dewasa dalam Islam dan Nasihat Imam Busyiri

Adapun tidak wajib mandi berdasarkan hadis di atas karena ada satu kelompok orang yang masuk Islam pada masa Nabi tapi Nabi tidak memerintahkan mereka mandi. Dan kesunahan mandi ini selama tidak terjadi hal-hal yang mewajibkan mandi. Jika terjadi maka mandi menjadi wajib karena selama dalam masa kafir mandinya tidak di anggap karena tidak sah niat.

7. Mandi bagi orang sembuh dari gila atau sadar dari pingsan

Dalil yang menunjukkan atas sunnah mandi bagi orang yang sembuh dari gila atau sadar dari pingsan adalah hadis Aisyah:

ثقل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أصلى الناس؟ فقلنا لا هم ينتظرونك يا رسول الله فقال ضعوا لي ماء في المخضب قالت ففعلنا فاغتسل ثم ذهب لينوء فأغمي عليه ثم افاق فقال أصلى الناس؟ فقلنا لا هم ينتظرونك يا رسول الله فقال ضعوا لي ماء في المخضب قالت ففعلنا فاغتسل ثم ذهب لينوء فأغمي عليه ثم افاق … رواه الشيخان

“Rasulullah saw sakit berat, beliau bertanya apakah manusia telah salat? Maka kami menjawab belum, mereka menunggumu wahai Rasulullah. Maka beliau berkata: ambillah air untukku sebaskom. Aisyah berkata: sudah kami lakukan. Maka  Rasulullah mandi kemudian pergi, maka pingsan lagi, kemudian sembuh lagi, maka beliau berkata apakah manusia telah salat? Maka kami menjawab belum, mereka menunggumu wahai Rasulullah. Maka beliau berkata: ambillah air untukku sebaskom. Aisyah berkata: sudah kami lakukan. Maka  Rasulullah mandi kemudian pergi, maka pingsan lagi …”.

8. Mandi ketika mau mengerjakan ihram

Dalil yang menunjukkan atas sunnah mandi ihram adalah hadis Zaid bin Sabit, ia berkata:

رأيت النبي صلى الله عليه وسلم تجرد لاهلاله واغتسل. رواه الترمذي

“Aku melihat Nabi saw  melepaskan pakaiannya untuk ihram dan mandi”.

9. Mandi ketika mau masuk kota Mekkah

Baca Juga:  Ragam Bacaan Doa Qunut dan Hukum Membacanya

Dalil yang menunjukkan atas sunnah mandi ketika mau masuk kota Mekkah adalah hadis Ibnu Umar:

كان لا يقدم مكة الا بات بذي طوي حتى يصبح ويغتسل ثم يدخل مكة نهارا ويذكر ان النبي صلى الله عليه وسلم فعله. رواه الخمسة الا الترمذي

“Ibnu Umar tidak masuk kota Mekkah kecuali bermalam di Zhu Thuwa sampai pagi kemudian ia mandi, lalu masuk kota Mekkah pada siang hari. Ia berkata bahwa Nabi juga melakukan seperti itu”.

10. Mandi untuk wuquf di Arafah

Disunnahkan mandi ini karena tempat berkupul dengan manusia lain, sebagaimana pada mandi istisqa’.

11. Mandi ketika akan bermalam di Muzdalifa

Dasarnya sama seperti sunnah mandi untuk wuquf di Arafah

12. Mandi ketika mau lempar tiga jumrah

Dasarnya sama juga dengan sunnah mandi untuk wuquf di Arafah.

13. Mandi ketika akan mengerjakan thawaf ifadhah dan wada’.

Dasarnya sama juga seperti sunnah mandi untuk wuquf di Arafah.

Semua macam mandi sunnah yang di anjurkan dalam Agama Islam ini adalah mendapat pahala jika dikerjakan. Adapun kifiyah mengerjakannya seperti kaifiyah mengerjakan mandi-mandi wajib juga. Sebagaimana telah kami uraikan dengan jelas pada artikel “Rukun dan Sunnah Mandi Wajib yang Harus Kamu Tahu”. Artinya rukun dan sunnah mandi sunnah ini sama dengan rukun dan sunah mandi wajib.

Demikianlah uraian ringkas mengenai macam-macam mandi sunnah atas dasar Mazhab Syafii semoga bermanfaat. Amin. Wallahu alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.