Macam-Macam Sekte Syiah dan Perdebatan Pendapatnya

sekte-sekte syiah

Pecihitam.org – Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan mengenai latar belakang timbulnya paham Syiah yaitu secara singkat lebih disebabkan karena urusan politik kekuasaan dan juga pengikut Ali yang tidak menerima atau tidak terima terhadap kekhalifahan Umayyah yang merampas dari Ali. Selain itu juga karena kekejaman rezim satu terhadap Ahlul Bait terutama terjadinya tragedi Karbala itu terbunuhnya Imam Husein.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam sejarah syiah tidak dapat mempertahankan kesatuannya, kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktrin Imamah. Diantara sekte-sekte Syiah itu adalah Syiah Itsna Asy’ariyah, Syiah Sab’iyah, Syiah Zaidiyah, dan Syiah Ghullat.

Perbedaan dari sekte-sekte tersebut akan dijelaskan sebagaimana di bawah ini:

1. Syiah Itsna Asyariah atau Syiah Imamah

Disebut juga syiah dua belas imam. Karena yang menjadi dasar akibatnya adalah persoalan Imam dalam artinya pemimpin regio politik. Yang dimaksud adalah Ali bin Abi Thalib yang berhak menjadi khalifah bukan hanya karena kecakapannya atau kemuliaan akhirnya tetapi juga karena ia telah ditunjuk dan pantas menjadi khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad.

Ide tentang Ali dan keturunan untuk menduduki jabatan khalifah telah ada sejak nabi wafat yaitu dalam perbincangan politik di saqifah Bani Saidah. Syiah Itsna asyariyah sepakat bahwa Ali adalah penerima wasiat Nabi Muhammad seperti yang ditunjukkan Nas.

Adapun penerima wasiat setelah Ali Bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah yaitu Hasan bin Ali kemudian Husain bin Ali sebagaimana yang disepakati setelah Husein adalah Ali Zainal Abidin kemudian secara berturut-turut Muhammad Al Fakir, Abdullah Jafar Sodiq, Musa al-Kazhim, Ali ar Rida, Muhammad al Jawwad, Ali al Hadi, Hasan al Askari, dan terakhir Muhammad al Mahdi sebagai imam ke dua belas.

Doktrin Syiah Itsna Asyariyah

Di dalam sekte Syiah itsna asyariah dikenal konsep Ushuluddin yang mempunyai 5 akar yaitu:

  1. Tauhid. Tuhan adalah Esa esensi maupun eksistensinya keesaan Tuhan adalah mutlak titik ia bereksistensi dengan sendirinya titik Tuhan adalah Qodim maksudnya adalah Tuhan bereksistensi dengan sendirinya sebelum adanya ruang dan waktu.
  2. Keadilan, Tuhan menciptakan kebaikan di alam semesta ini merupakan keadilan. Ia tidak pernah menghiasi ciptaannya dengan ketidakadilan.
  3. Nubuwwah atau kenabian setiap makhluk sekalipun telah diberi insting, masih membutuhkan petunjuk, baik petunjuk dari Tuhan maupun dari manusia. Rasul merupakan petunjuk Hakiki untuk sentuhan yang secara transenden diutus untuk memberikan acuan dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk di alam semesta. Dalam keyakinan Syiah itsna asyariyah Tuhan telah mengutus 124000 Rasul untuk memberikan petunjuk kepada manusia.
  4. Ma’ad (hari kiamat). Ma’ad adalah hari kiamat untuk menghadap pengadilan Tuhan di akhirat. Setiap muslim harus yakin akan keberadaan kiamat dan kehidupan suci setelah dinyatakan bersih dan lurus dalam pengadilan Tuhan.
  5. Imamah. Dalam institusi yang diintegrasikan Tuhan untuk memberikan petunjuk manusia yang dipilih dari keturunan Ibrahim dan delegasikan kepada keturunan Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.
Baca Juga:  Menyoroti Paham dan Gerakan Syiah pada Masa Khulafaur Rasyidin

2. Syiah Sab’iyah atau Syiah 7

Sub’iyah atau Syiah 7 dianalogikan dengan Syiah itsna asyariyah istilah itu memberikan pengertian bahwa sekte Syiah Sab’iyah hanya mengikuti 7 Imam yaitu; Ali Hasan Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammad Al Baqir, Ja’far As Siddiq, dan Ismail bin Sodiq.

Syiah ini juga disebut Syiah Ismailiyah. Hal ini berbeda dengan Syiah itsna asyariyah yang membatalkan Ismail bin Ja’far sebagai Imam ke-7 karena disamping memiliki kebiasaan yang tidak terpuji juga karena dia wafat pada tahun 143 H/760M mendahului ayahnya Jafar yang wafat pada tahun 765M. Sebagai penggantinya adalah Musa Al Kadzim adik Ismail.

Syiah Sab’iyah menolak pembatalan tersebut, berdasarkan sistem pengangkatan Imam dalam Syiah dan menganggap Ismail sebagai imam ke-7 dan peninggalannya diganti oleh putranya yang tertua Muhammad bin Ismail

Doktrin Syiah sab’iyah

Dalam pandangan kelompok syiah sab’iyah keimanan hanya dapat diterima bila sesuai dengan keyakinan mereka, yakni melalui walayah atau kesetiaan kepada Imam zaman.

Imam adalah seseorang yang menuntun umatnya kepada pengetahuan makrifat. Dengan pengetahuan tersebut seorang muslim akan menjadi seorang mukmin yang sebenar-benarnya.

Untuk itu mereka berargumen bahwa manusia akan memasuki kehidupan spiritual, kehidupan formal materiil sebagai individu dan kehidupan sosial yang semua yang memerlukan aturan.

Manusia tidak dapat melalui kehidupan itu kecuali dengan bimbingan yang meliputi kepemimpinan dan pembaharuan kehidupan, pengetahuan aturan-aturan dan dengan pemerintahan yang berdasarkan Islam.

Pribadi yang dapat melakukan bimbingan seperti tersebut adalah pribadi yang ditunjuk oleh Allah dan rasulnya. Dan rasul pun menunjuknya atas perintah Allah. Imam mendapat petunjuk melalui wasiat.

Syarat-syarat seorang Imam dalam pandangan Syiah sab’iyah adalah sebagai berikut:

  1. Imam harus berasal dari keturunan Ali melalui perkawinannya dengan Fatimah yang kemudian dikenal dengan Ahlul Bait. Berbeda dengan aliran khaisaniyah pengikut Muchtar tsaqafi mempropagandakan bahwa Imam harus dari keturunan Ali melalui pernikahannya dengan seorang wanita dari bani Hanifah dan mempunyai anak yang bernama Muhammad bin Al Hanafiyah.
  2. Imam harus berdasarkan penunjukan atau Nas.
  3. Imam harus jatuh pada anak yang tertua.
  4. Imam harus maksum sebagaimana sekte Syiah lainnya yaitu Imam digariskan bahwa mereka terjaga dari salah atau dosa. Imam harus dicatat oleh seorang yang paling baik

Doktrin mengenai Imam menempati posisi penting dalam Syiah sab’iyah. Kepatuhan dan pengabdian mereka kepada Imam dipandang sebagai prinsip dalam menerima ajaran Suci Imam.

Dalam semua sekte Syiah mereka memiliki cita-cita tentang pemahaman dan penerapan Islam dalam keseluruhan agar umat diperintahkan oleh kehendak Tuhan bukan kehendak manusia yang tidak menentu. Menurut mereka melalui keturunan Ali yang mendapat petunjuk Tuhanlah cita-cita tersebut dapat tercapai

Dibandingkan dengan sekte Syiah lainnya sab,iyah sangat ekstrim dalam menjelaskan kemaksuman Imam Sebagaimana telah dijelaskan kelompok ini berpendapat bahwa Imam walaupun kelihatan melakukan kesalahan dan menyimpang dari syariat ia tidaklah menyimpang karena mempunyai pengetahuan yang tidak dimiliki manusia biasa.

Baca Juga:  Benarkah Haddad Alwi Pengikut Syiah? Ini Pengakuannya

Konsep Imam seperti itu merupakan konsekuensi logis dari doktrin Sha’iyah tentang pengetahuan Imam akan ilmu batin. Menurut syiah sab’iyah Alquran memiliki makna batin selain makna dhohir.

Dikatakan bahwa segi-segi lahir atau tersurat dari syariat itu diperuntukkan bagi orang yang awam dan kecerdasannya terbatas. Bagi orang-orang tertentu mungkin saja terjadi perubahan dan peralihan dan bahkan penolakan terhadap pelaksanaan syariat tersebut, karena mendasarkan pada yang batin tadi. Yang dimaksud dengan orang-orang tertentu ialah para imam yang memiliki ilmu tauhid dan ilmu batin.

3. Syiah Zaidiyah

Disebut Zaidiyah karena sekte ini mengakui Zaid bin Ali sebagai Imam kelima, putra Imam ke empat Ali Zainal Abidin. Kelompok ini berbeda dengan sekte Syiah lain yang mengakui Muhammad Al baqir, putra Zainal Abidin yang lain sebagai Imam ke lima. Dari nama Zaid bin Ali inilah nama Zaidiyah diambil.

Syiah Zaidiyah merupakan sekte Syiah yang moderat. Abu Zahrah menyatakan bahwa kelompok ini merupakan sektor yang paling dekat dengan Sunni.

Doktrin Syiah Zaidiyah

Sebagaimana telah disebut Sebutkan sebelumnya Imamah merupakan doktrin fundamental dalam Syiah secara umum. Berbeda dengan Imamah yang dikembangkan Syiah lain Syiah zaidiyah mengembangkan doktrin Imamah yang tipikal.

Kaum zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi telah ditentukan nama dan orangnya oleh Nabi. Tetapi hanya ditentukan sifat-sifatnya saja.

Ini yang jelas berbeda dengan sekte Syiah lainnya yang percaya bahwa nabi telah menunjuk Ali sebagai orang yang pantas menjabat sebagai Imam setelah nabi wafat.

Karena ali memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh orang lain seperti keturunan Bani Hasyim, Wara’, bertakwa, baik dan membaur dengan rakyat untuk mengajak mereka hingga mengakuinya sebagai Imam

Selain itu menurut Zaidiyah seorang Imam paling tidak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Pertama, ia merupakan keturunan Ahlul Bait baik melalui garis keturunan Hasan maupun Husein.
  • Kedua, memiliki kemampuan mengangkat senjata sebagai upaya mempertahankan diri atau menyerang.
  • Ketiga, memiliki kecenderungan intelektualisme yang dapat dibuktikan melalui ide dan karya dalam bidang keagamaan titik Mereka menolak kemaksuman Imam bahkan mengembangkan doktrin Imamat al mafdul.

Berbeda dengan pendapat Syiah lainnya Syiah Zaidiyah berpendapat bahwa Khalifah Abu Bakar dan Umar Bin Khattab adalah sah dari sudut pandang Islam. Mereka tidak merampas kekuasaan dari tangan Ali bin Abi Tholib.

Selain itu berbeda juga dengan Syiah lainnya, Zaidiyah menolak nikah mut’ah (temporer). Nampaknya ini merupakan implikasi dari pengakuan mereka atas kekhalifahan Umar Bin Khattab.

Seperti kita ketahui nikah mut’ah merupakan salah satu jenis pernikahan yang dihapuskan oleh Khalifah Umar Bin Khattab. Penghapusan ini jelas ditolak oleh sekte Syiah selain zaidiyah.

Oleh karena itu selain Syiah zaidiyah sampai sekarang kaum yang lain tetap mempraktekkan nikah mut’ah. Selanjutnya kaum zaidiyah juga menolak doktrin taqiyah padahal menurut yang lain taqiyyah merupakan salah satu doktrin yang paling penting dalam dalam Syiah. Meskipun demikian dalam bidang ibadah mereka tetap cenderung menunjukkan amalan Syiah pada umumnya

Baca Juga:  Mengenal Kelompok Syiah: Ghulat, Ismailiyah, Zaidiyah, Hingga Itsna 'Asyariyah

5. Syiah Ghulat

Istilah Ghulat berasal dari kata ghala yang artinya bertambah dan naik. Syiah ghulat adalah kelompok pendukung Ali yang memiliki sikap berlebih-lebihan atau ekstrem.

Lebih jauh Abu Zahrah menjelaskan bahwa Syiah ekstrem atau Ghulat adalah kelompok yang menempatkan Ali pada derajat ketuhanan, dan ada yang mengangkat pada derajat kenabian bahkan lebih tinggi dari Nabi Muhammad.

Gelar ekstrim yang diberikan pada kelompok ini berkaitan dengan pendapatnya yang janggal yakni ada beberapa orang yang secara khusus dianggap Tuhan dan juga ada beberapa orang yang dianggap Rasul setelah Nabi Muhammad.

Selain itu mereka mengembangkan doktrin-doktrin ekstrim lainnya seperti tansukh, hulul, tasbih, dan ibaha. Mengenai jumlah sekte Syiah ghulat para mutakallimin berbeda pendapat. Syahrastani membagi sekte gulat menjadi 11 sekte. al Ghurabi membaginya menjadi 15 sekte.

Sekte-sekte yang terkenal antara lain adalah, bahaiyah, kamaliyah, albaiyah, mughriyah mansuriyah, khattabiyah, kayaliyah, hisamyah, nu’miyah, yunusiyah dan nashisiyah wa ishaqiyah.

Doktrin Syiah ghulat

Menurut Syahrastani, ada 4 doktrin yang membuat mereka ekstrem yaitu tanasuhk, bada’, raj’ah, dan tasbih. Moojan Momen memambahkannya dengab hululbdan ghayba.

Tanasuh adalah keluarnya roh dari suatu jasad dan mengambil tempat pada saat yang lain titik paham ini diambil dari falsafah Hindu. Penganut agama Hindu berkeyakinan bahwa roh disiksa dengan cara berpindah ke tubuh hewan yang lebih rendah dan diberi pahala dengan cara berpindah dari satu kehidupan kehidupan yang lebih tinggi.

Bada’ adalah keyakinan bahwa Allah mengubah kehendaknya sejalan dengan perubahan ilmunya serta dapat memerintahkan sesuatu perbuatan kemudian memerintahkan yang sebaliknya.

Raj,ah ada hubungannya dengan mahdiyah. Syiah ghulat mempercayai bahwa Imam Mahdi Al muntazhar akan datang ke bumi. Paham Raja’ah dan mahdiyah ini merupakan ajaran seluruh Syiah. Namun mereka berbeda pendapat tentang siapa yang akan kembali.

Sebagian menyatakan bahwa yang akan kembali itu adalah Ali sedangkan sebagian lainnya menyatakan Ja’far as Shodiq Muhammad bin Al hanafiyah, dan bahkan ada yang mengatakan Mukhtar ATS tsaqafi.

Tasbih artinya menyerupakan atau mempersamakan. Syiah ghulat menyerupakan seorang Imam mereka dengan Tuhan atau menyerupakan Tuhan dengan makhluk. Ini diambil dari dari paham huluhiyah dan tanasukh dengan kholik.

Hulu artinya Tuhan berada pada setiap tempat berbicara dengan semua bahasa, dan ada pada setiap individu manusia. Hulul bagi syiah ghullat
Berarti Tuhan menjelma dalam diri seorang Imam sehingga Imam harus disembah

Ghayba artinya menghilangnya Imam Mahdi, Ghayba merupakan kepercayaan Syiah bahwa Imam Mahdi itu ada di dalam negeri ini dan tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Konsep ghayba pertama kali diperkenalkan oleh Mochtar as tsaqafi tahun 66 Hijriyah atau 686 masehi di kufah ketika mempropagandakan Muhammad bin Hanafiah sebagai Imam Mahdi.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *