Mahwu dan Itsbat, Penghapusan Ingatan Pada Selain Allah dan Penetapan Ingatan Hanya Pada Allah

Mahwu dan Itsbat, Penghapusan Ingatan Pada Selain Allah dan Penetapan Ingatan Hanya Pada Allah

Pecihitam.org- Dalam tangga maqom tasawuf, terkait mahwu dan itsbat, seorang sufi pernah mengatakan, “Barangsiapa menghilangkan dari ahwal sifat-­sifat yang tercela, lalu diganti dengan sifat-sifat dan ahwal yang terpuji, maka dia mengalami derajat mahwu sekaligus itsbat”.

Mahwu adalah keterangkatan (tercabut) sifat-sifat yang telah menjadi kebiasaan. Sedangkan itsbat merupakaan penegakan hukum-hukum ibadah.

Abu Ali Ad-Daqaq pernah berkata, menceritakan tentang sekelompok guru yang bertanya pada seorang sufi, “Apa yang kamu maksud mah­wu dan itsbat” Laki-laki sufi itu diam, kemudian menjawab, “Engkau mengetahui bahwa waktu mengalami mahwu dan itsbat, maka sungguh terlantar dan sia-sialah seseorang yang tidak mempunyai (tidak mengalami) mahwu dan itsbat.”

Mahwu dibagi menjadi tiga bagian, yakni:

  1. Mahwu Zillah (lenyap). Merupakan kele­nyapan dari sesuatu yang bersifat zhahir.
  2. Mahwu Ghaflah (lupa). Merupakan kelupaan dari yang bersifat batin.
  3. Mahwu Zillah (sebab). Keterhapusan pangkal atau sebab dari segala yang bersifat sirri (rahasia).

Di dalam mahwu zillah terdapat penetapan perilaku. Terdapat penetapan manazilat (kedudukan atau pos-pos pencapaian spiritual) di dalam mahwu ghaflah. Dan terdapat pene­tapan keberlangsungan di dalam mahwu zillah.

Baca Juga:  Ilmul Yaqin, ‘Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin, 3 Tingkatan Yakin Menurut Ulama Tasawuf

Keberadaan Mahwu dan isbat, keduanya harus disertai syarat ibadah. Hakikat keduanya bersumber dari qudrat. Artinya, mahwu adalah apa yang ditutup dan ditiadakan Al-Haqq, sedangkan itsbat adalah apa yang ditampakkan dan diperlihatkan Al-Haqq. Mahwu dan isbat keduanya memusat pada kehendak Allah. Dalam Q.S. Ar-Ra’d ayat 39 Allah SWT berfirman:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

Artinya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”

Maksud dari ayat di atas adalah menurut suatu pendapat, Allah menghapus (ber­buat mahwu) ingatan (zikir) pada selain Allah dari hati orang- orang ma’rifat, dan menetapkan (berbuat itsbat) ingatan pada Allah di hadapan para murid.

Mahwu Al-Haqq hanya milik Dzat Yang Satu dan penetapan-Nya (itsbat) terjadi pada sesuatu yang patut dengan keadaannya. Oleh sebab itu, penghapusan (mahwu) dan penetapan (isbat) oleh Allah di dalam diri seseorang hambanya sangat bergantung kepada keadaan spiritual yang telah dicapai oleh seseorang.

Baca Juga:  Habib Luthfi bin Yahya: Belajar Ma’rifat dari Sesuap Nasi

Barang siapa dihapuskan oleh AI-Haqq dari kesaksian-­kesaksian, maka AI-Haqq pasti menetapkannya dengan kekuatan hakikat-Nya (perwujudan Al-Haqq). Barangsiapa dihapuskan oleh AI-Haqq dari penetapan (itsbat) Nya, maka. AI-Haqq pasti mengem­balikannya pada kesaksian-kesaksian yang berubah dan menetapkannya di lembah-lembah keterpisahan (farqu).

Seorang pria bertanya kepada Asy-Syibli, “Mengapa saya melihatmu gelisah? Bukankah Dia ber­samamu dan kamu bersama-Nya?” “Seandainya saya bersama-Nya,” Jawab Asy-Syibli, “tentu keberadaan saya adalah saya. Akan tetapi, saya lenyap dalam sesuatu yang sesungguhnya adalah Dia. Seorang yang ahli haki­kat pasti berada di atas mahwu karena tahu masih meninggalkan bekas, sementara ahli hakikat tidak. Tujuan cita-cita (pencapaian maqam spiritual) kaum adalah keterhapusan mereka oleh AI-Haqq dari kesaksian-kesaksian mereka, kemudian (Dia) tidak mengem­balikan mereka (sifat-sifat kemanusiaan) kepada mereka setelah keterhapusan mereka dari mereka (sifat-sifat yang tidak terpuji).

Baca Juga:  Korelasi antara Ilmu Tauhid dan Tasawuf, Berikut Penjelasannya!

Adapun hakikat Al-Mahwu dan Al-Itsbat:

  • Kedua-dua merupakan hakikat yang muncul dengan qudrat dan kehendak Allah.
  • Al-Mahwu adalah segala hal yang ditutup dan dimurnikan oleh Allah.
  • Al-Itsbat pula merupakan segala sesuatu yang dilihatkan dan dijelaskan oleh Allah.
  • Al-Mahwu merupakan hapusnya segala ingatan selain dari Allah.
  • Al-Itsbat pula tetapnya lidah dengan zikir kepada Allah SWT.
Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG