Makna Kata Ulul Albab dalam Al-Quran Menurut Para Mufassir

Makna Kata Ulul Albab dalam Al-Quran Menurut Para Mufassir

PeciHitam.org – Muḥammad Ṭayyib al-Ibrahim, dalam kitab I’rab al-Qur’an al-Karim al-Muyassar dijelaskan bahwa makna kata Ulul Albab ( أوُلُو الألْبَابِ atau أوُلِي الألْبَابِ ) merupakan bentuk posesif yang terdiri dari kata ulu sebagai kata pertama yang berupa muḍhaf, dan kata al-albab sebagai kata kedua berupa muḍhaf ilayh.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam Kamus Al-Munawwir, kata ulu merupakan bentuk jamak untuk jenis laki-laki yang mempunyai arti ذَوُو atau صَاحِب berarti ‘yang memiliki’, sebagaimana terdapat ungkapan ulu al-syahrah (yang memiliki nama baik).

Menurut Quraish Shihab dalam buku Ensiklopedia al-Quran: Kajian Kosa Kata, kata ulu disebutkan sebanyak 43 kali di dalam al-Quran dengan dua bentuk, 17 kali dalam bentuk ulu ( أوُلُو ), dan 26 kali dalam bentuk uli (أوُلِي).

Sedangkan kata al-albab ialah bentuk jamak dari kata al-lubb yang berarti isi, inti sari, sebagaimana ungkapan lubb al-mawḍu’ yang berarti ‘inti pembicaraan’. Bentuk jamak lain dari kata al-lubb adalah al-labib yang berarti cerdik dan pandai.

Menurut al-Raghib al-Aṣfahani, dalam kitab al-Mufradat fi Gharib al-Quran, kata al-lubb memiliki makna inti akal yang bersih dari beberapa kerancuan dalam berpikir, seperti ungkapan lubb al-ṭa’am bermakna inti makanan yang bersih dari kotoran.

Sedangkan menurut al-Qurtubi dalam kitab al-Jami’ li Aḥkam al-Quran, kata al-lubb juga dapat berarti menghabiskan segala sesuatu. Lalu digunakan untuk sebutan akal, karena akal dapat menghabiskan segala ilmu yang ada.

Baca Juga:  Bagaimana Hukum dan Cara Menjawab Salam dari Non Muslim?

Berikut ini kami jelaskan beberapa ayat yang mengandung kata Ulul Albab, Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 269:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Allah menganugerahkan al-Hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi kebaikan yang banyak dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

Pada ayat ini, relasional kata Allah tampak ketika Allah menghendaki dengan pemberian hikmah pada sosok Ulul Albab. Ungkapan ini mengandung arti bahwa sosok Ulul Albab termasuk dari golongan orang yang mampu menerima dan mampu mengambil pelajaran dari al-Quran dan hadis.

Kemudian dalam surat Sad ayat 29, kata Ulul Albab dihubungkan dengan kata al-Quran:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”

Baca Juga:  Inilah Kontribusi Besar Madzhab Al-Asy'ari dalam Ilmu Hadits

Ayat ini memberi keterangan bahwa al-Qur’an merupakan objek untuk dijadikan perhatian dan pelajaran bagi setiap manusia. Sosok Ulul Albab pada ayat ini merupakan seseorang yang diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat menerima dan mengambil pemahaman melalui al-Qur’an, sehingga ia menjadi sosok yang istimewa di hadapan Allah.

Firman Allah dalam surat Ali ‘Imran ayat 190, yang berbunyi:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

Ayat ini memberi indikasi bahwa alam semesta seperti langit, bumi, siang dan malam adalah sebuah tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan adanya kekuasaan Allah yang telah terlukis dalam ayat ini, sosok Ulul Albab dapat berpikir, mengamati dan merenungi serta mengambil pelajaran dari ciptaan-ciptaan Allah di dunia, sehingga kecerdasan sosok Ulul Albab ini menjadi pembeda dengan makhluk-makhluk Allah yang lainnya.

Selanjutnya, dalam surat al-Zumar ayat 18 juga disebutkan:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.”

Baca Juga:  Apa Sih yang Dimaksud Kitab Kuning Itu? Inilah Penjelasannya

Pada ayat ini, di samping Ulul Albab termasuk orang yang mendapat kabar gembira dari Allah, ia juga termasuk dalam kelompok yang mendapatkan hidayah. Kata huda pada ayat ini mengandung makna kesempurnaan. Sehingga bila dikaitkan dengan sosok Ulul Albab, ia merupakan orang yang memiliki pemikiran yang cerah dan dianugerahi sarana untuk meraih petunjuk tersebut.

Dengan demikian, makna dasar kata Ulul Albab setelah melakukan analisis dimana pun kata ini diletakkan, ia tetap mempertahankan unsur semantiknya sebagai orang yang memiliki akal pengetahuan.

Mohammad Mufid Muwaffaq