Klaim Salafi Sebagai Manhaj Salaf dan Pergeseran Ajaran Islam yang Sesungguhnya

manhaj salaf

Pecihitam.org – Beberapa waktu ini Manhaj salaf sedang digemari oleh sebagian kalangan. Hal ini karena dilandasi semangat puritanisasi Islam di tengah kondisi umat Islam terutama di Timur Tengah yang sedang kacau.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Selain itu, tumbuh luapan semangat menghidupkan sunnah Nabi pada wilayah simbol keseharian, namun melupakan sunnah Nabi pada dimensi substantif, seperti membangun tatanan masyarakat madani dan peradaban utama (khairu ummati).

Akan tetapi terjadi pergeseran yang cukup jauh sekali antara pengertian manhaj salah dahulu dan sekarang. Konteksnya semakin kabur dengan banyaknya kepentingan eksternal yang kemudian dikaitkan dengan agama.

Definisi Manhaj Salaf

Apabila ditinjau dari sisi kalimat “Manhaj Salaf” merupakan gabungan dari dua kata; manhaj (منهج) dan salaf (السلف). Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj (منهاج), yang bermakna ‘sebuah jalan yang terang lagi mudah’. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, al-Mu’jamul Wasith 2/957)

Adapun salaf (السلف), menurut etimologi bahasa Arab bermakna ‘siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan’. (Lisanul ‘Arab, karya Ibnu Manzhur, 7/234)

Dalam terminologi syariat, salaf (السلف) bermakna ‘para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tabiin (murid-murid sahabat) dan tabi’ut tabiin (murid-murid tabiin)’.

Salafus Shalih

Mahaj salaf kerap diikaitkan kepada para Salafus Shalih. Salafusshalih adalah para leluhur kita, bapak-ayah kita kaum muslimin. Mereka merupakan golongan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dan merekalah yang banyak menolong dan membantu perjuangan Baginda Nabi Muhammad Saw dengan jiwa raga dan harta bendanya di dalam menyebarkan Agama Allah.

Salafus Shalih adalah nenek moyang kita yang hidupnya sangat utama bagi perjuangan dakwah Islam. Mereka begitu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka lemah lembut sesamanya, banyak membantu fakir miskin dan selalu berseru supaya bertakwa kepada Allah Ta’ala.

Baca Juga:  Sumber Hukum Madzhab Hanbali Yang Harus Kita Ketahui

Mereka juga saling membantu dan menolong di dalam kebaikan-kebaikan (Al Khairaat). Selalu berjuang di jalan Allah dan mereka sama sekali tidak pernah khawatir dan takut dengan caci-makian.

Itulah Salafus Shalih. Yaitu orang-orang yang hidup dari zaman Baginda Rasululllah SAW mulai 1 Hijriah sampai dengan kurun masa tahun 300 Hijriah. Yang mana dari generasi Sahabat Nabi sampai Tabi’in, Tabi’it Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’it Tabi’in.

Generasi ini sering disebut dengan masa keemasan Islam atau yang lebih dikenal dengan sebutan masa As Saabiquna al Awwaluun (generasi awal Islam). Masa yang penuh dengan keutamaan-keutamaan.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al Fath ayat 29 berikut:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS. Al Fath: 29).

Ayat ini dengan tegas memberikan spirit kepada kita sebagai umat Baginda Nabi Muhammad SAW, bahwa Salafus Shalih merupakan orang-orang yang secara tegas dalam bersikap (bukan keras, karena tegas dan keras itu beda) kepada orang-orang Kafir dan saling kasih sayang (bersikap lemah lembut) kepada sesama muslim.

Salafus Shalih di dalam ayat ini, adalah mereka yang selalu beribadah (baik mahdhoh dan Ibadah ghairu mahdlah), mereka rukuk dan sujud (shalat/menyembah) serta selalu mencari keutamaan Allah dan selalu mencari rido Allah SWT. Di wajah mereka itu juga selalu dipenuhi dengan atsaris sujud (bekas sujud).

Bekas sujud yang dimaksud di sini secara harfiyah adalah bekas hitam di jidat karena sering bersujud. Namun yang dimaksud atsar atau bekas sujud dalam makna secara luas adalah sebab dari banyak sujud itu.

Baca Juga:  Manhaj Salaf ala Wahabi Hanyalah Sebatas Pengakuan Sepihak Mereka Saja

Yaitu seseorang muslim yang baik adalah di mana ia selalu mentauladani Baginda Nabi Muhammad SAW di dalam semua prilaku Nabi, baik Aqwal, Ahwal Baginda Nabi, mengikuti Baginda Nabi secara paripurna dan sempurna.

Sehingga atsaris sujud (bekas sujud) bukan sekedar jidatnya saja yang hitam, namun akhlaknya TIDAK mencerminkan akhlak Baginda Nabi dan Sahabat Nabi serta Salafus Shalih (sebagaimana yang dimaksud di tafsir atau asbab an nuzul ayat ini).

Mereka ini, Salafus Shalih adalah sebaik-baiknya generasi di mana sirah atau perjalanan hidup mereka dipenuhi Uswah Hasanah (teladan yang baik), karena sanad keilmuan dan hidup mereka begitu dekat dengan masa atau zaman Baginda Nabi Muhammad SAW.

Dari sinilah kemudian orang-orang yang mengikuti manhaj salaf biasa disebut dengan Ahlussunnah wal Jamaah karena mereka berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah (ajaran Rasulullah) serta bersatu di atasnya.

Benarkah Salafi = Manhaj Salaf?

Semakin berkembangnya ajaran Islam tidak sedikit yang kemudian terpecah menjadi beberapa golongan. Termasuk salah satunya adalah Salafi. Dari sinilah kemudian istilah manhaj salaf mulai bergeser.

Kita hanya tahu sekilas bahwa manhaj salaf biasanya berkaitan dengan tiga generasi terbaik dalam sejarah peradaban Islam yang pernah ada, yaitu, sahabat, tabiin dan tabiit-tabiin, sehingga sekilas kita menyangka bahwa manhaj ini pasti yang terbaik, karena telah dilakukan oleh orang-orang terbaik.

Namun kita juga perlu tahu pula, bahwa terdapat golongan atau kelompok yang menamakan dirinya adalah Salafi yang menisbatkan diri mereka pengikut manhaj salaf (salafus shaleh) dan mengklaim bahwa hanya merekalah yang paling benar.

Bahkan beberapa dari mereka kemudian memperluas makna Salaf itu sendiri untuk memasukkan para ulama yang faqih di generasi selanjutnya.

Kaum Salafi berpendapat bahwa pemahaman generasi sekarang tentang Islam perlahan-lahan luntur. Mereka mengibaratkan generasi setelah salfussaleh sama seperti kaum para Nabi sebelumnya (termasuk Musa dan Isa) telah tersesat dan semakin luntur ajarannya.

Baca Juga:  Benci Tapi Rindu, Salafi Wahabi Masih Suka Nukil Kitab Ulama Asy'ariyyah

Dari angapan itulah mereka lantas termotivasi untuk menafsirkan kembali Islam terdahulu dengan rasionalitas sendiri yang tujuannya menemukan kembali agama yang lebih ‘modern’.

Dalam prakteknya, untuk menjaga kemurnian Islam, Salafi berupaya untuk memerangi apa yang mereka pandang sebagai suatu yang sesat seperti berdoa kepada makam, memuliakan ‘tempat suci’ dan ‘orang suci’.

Bagi mereka hal-hal demikian dianggap sebagai syirik, kufur, riddah (murtad), dan bid’ah. Mereka dengan kuat menolak kepercayaan dan praktik apa pun yang dianggap tidak diperintahkan oleh Alquran dan Sunnah Nabi.

Misalnya, Salafi mengklaim bahwa praktik sufi seperti tawassul (perantaraan antara manusia dan Tuhan) yang telah terjadi selama berabad-abad sejak periode murni Islam, mengancam tauhid (monoteisme atau kepercayaan akan keesaan Tuhan).

Mereka percaya bahwa bid’ah dihasilkan dari adopsi budaya lokal oleh misionaris Islam dalam upaya mereka untuk menarik mualaf baru. Namun, perpaduan antara Islam dan adat ini secara signifikan membantu proses konversi ke Islam dengan membuatnya dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas.

Kelompok-kelompok yang mengaku mengikuti manhaj salah ini cukup membuatt resah. Karena dengan pemahaman takfiri-nya, mereka menganggap orang Islam yang tidak sejalan itu kafir bahkan patut dibunuh.

Dari sini sudah sangat terlihat bahwasanya Salafi tidak benar-benar mengikuti manhaj salaf. Mereka hanya berkedok mengikuti para pendahulu dan mengklaim sendiri sebagi pewaris generasi utama Islam.

Padahal dalam faktanya sikap konservatif, takfiri dan apa yang mereka lakukan sangat jauh sekali dari ajaran Islam yang sesungguhnya bahkan mencoreng nama Islam itu sendiri.

Wallahua’lam

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik