Tradisi Mayoran di Pondok Pesantren adalah Warisan Budaya Rasulullah saw

Tradisi Mayoran di Pondok Pesantren adalah Warisan Budaya Rasulullah saw

PeciHitam.org – Bagi anak pesantren, acara yang sangat digemari dan selalu ditunggu adalah Mayoran. Biasanya ketika ada santri yang baru kembali dari rumah akan menggelar acara ini dengan mbayari semua logistik yang akan disantap.

Kesenangan anak pesantren/ santri tidak terlepas kehidupan yang sangat sederhana menjurus kepada hidup prihatin di pesantren sebagai laku khas. Maka tradisi mayoran dikalangan santri adalah tradisi yang sangat istimewa terutama mereka yang tidak pernah kenyang.

Makan besar bersama-sama atau mayoran ternyata memiliki nilai ajaran yang berasal dari Rasulullah SAW. Maka melestarikan tradisi mayoran adalah sebuah kebajikan yang harus terus dilakukan dalam berbagai bentuk.

Pesantren dan Tradisi Mayoran

Mendefinisikan mayoran tidak terlepas dari tradisi khas pesantren yakni makan besar bersama-sama dalam sebuah nampan atau wadah besar. Wadah tersebut bisa berupa Nampan yang biasanya buat membawa gelas untuk tamu atau daun pisang yang digelar dilantai.

Pada dasarnya mayoran adalah sebuah tradisi syukur yang wujudkan dengan cara bershadaqah berupa makanan siap santap. Biasanya santri mengadakan mayoran setelah tercapai hajat keinginannya, setelah pulang atau sekedar kebiasan mentraktir teman sejawat.

Dalam tradisi pesantren hajat yang terkabul bisa berupa selesai khatam hafalan al-Quran, selesai menghafalkan nadzam kitab kuning atau hal lainnya. Menu yang disajikan tidak jauh-jauh dari dunia pesantren dengan syarat utama bisa membuat senang santri lainnya.

Tentunya membuat senang teman santri lainnya adalah sebuah pahala tersendiri. Tradisi mayoran yang dilakukan oleh santri ternyata memiliki akar persamaan yang dilakukan oleh masyarakat Arab pada masa Nabi SAW dan terus dilestarikan sampai era modern sekarang ini.

Banyak restoran yang menawarkan menu Arabian dengan model penyajian khas mayoran yakni diletakan disebuah wadah besar dan disantap bersama-sama. Tradisi makan satu wadah dengan banyak tangan terdokumentasi oleh Sahabat Wahsyi bin Harb;

عن وحشي بن حرب رضي الله عنه أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا: يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع ؟ قال: فلعلكم تفترقون قالوا: نعم قال فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله يبارك لكم فيه

Baca Juga:  Karakteristik Metode Dakwah Sunan Bonang Tuban

Artinya; Bahwasannya para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “(Mengapa) kita makan tetapi tidak kenyang?” Rasulullah balik bertanya, “Apakah kalian makan sendiri-sendiri?” Mereka menjawab, “Ya (kami makan sendiri-sendiri)”. Rasulullah pun menjawab, “Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua.” (HR. Abu Dawud)

Sabda Rasulullah SAW tentang anjuran makan bersama sebagaimana dalam hadits di atas dengan jelas mengatakan mengandung berkah. Kiranya ajaran ini yang diserap oleh santri merujuk pada kebiasaan para Habaib, dan Kiai pesantren di Nusantara.

Bahwa tradisi mayoran ternyata memiliki akar ajaran yang bersumber dari Rasulullah SAW yang mensabdakan adanya berkah dalam makan bersama.

Mayoran Ala Rasulullah Saw

Rasulullah SAW merupakan pribadi yang sangat hangat kepada para sahabatnya. Salah satu cara merekatkan hubungan Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya adalah melalui makanan bersama dalam satu wadah.

Kebiasaan yang sudah menjadi tradisi Rasulullah SAW diungkapkan dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA sebagai berikut;

وقال أنس رضى الله عنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يأكل وحده وقال صلى الله عليه وسلم خير الطعام ماكثرت عليه الأيدى

Artinya; Sahabat Anas bin Malik RA berkata bahwasannya Rasulullah SAW tidak pernah makan sendirian. Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa sebaik-baik makanan adalah yang dimakan banyak tangan

Model mayoran ala Rasulullah SAW masih bisa dilihat dalam kebiasaan makan orang-orang Arab yang lebih suka makan bersama dalam wadah besar.

Satu wadah dengan banyak tangan disukai Rasulullah SAW karena mengandung berkah. Makan besar dalam sebuah wadah sekiranya menjadi sebuah tanda bahwa mayoran ala Rasulullah SAW ada dan berkah.

Jika mau ditelisik dengan saksama, tradisi makan besar dalam satu wadah atau mayoran merupakan kebiasaan Rasulullah SAW. Tidak heran tradisi makan bersama atau sering disebut dengan mayoran di Nusantara banyak dipraktekan bukan hanya dipesantren.

Masyarakat Muslim di Nusantara dalam banyak acara budaya mengadopsi cara makan besar bersama-sama dalam satu wadah. Bersih dusun, ambengan, tasyakuran, khataman al-Quran atau acara hari besar Islam akan selalu diwarnai dengan mayoran, makan besar bersama dalam satu wadah.

Baca Juga:  Halal Bihalal, Tradisi Khas Islam Nusantara Saat Momen Lebaran untuk Saling Memaafkan

Tradisi makan besar bersama dalam sebuah wadah dalam Islam terekam jelas dalam berbagai kejadian pada masa kehidupan Nabi SAW. Ketika pembangunan parit untuk persiapan perang Khandak yang  terjadi pada tahun 5 Hijriyah menunjukan bahwa Nabi SAW biasa mengajak sahabat beliau untuk makan bersama.

Bisa diambil simpulan bahwa mayoran adalah kebiasaan Nabi Muhammad Saw yang sudah mentradisi dikalangan sahabat beliau. Tradisi ini seogyanya harus terus dijaga sebagai bentuk kesetaraan sosial, dan menghilangkan sekat sosial atar sesama. Karena dalam tradisi mayoran semua sama sestrata dalam bingkai kebersamaan dan kekeluargaan.

Berkah dalam Makan Senampan Bersama

Berkah merupakan kata Abstrak yang untuk membuktikannya diperlukan kejernihan hati untuk memahamainya. Contoh keberkahan yang pernah dialami oleh Jabir bin Abdullah RA ketika menjamu  Rasulullah SAW untuk makan dirumah beliau.

Bahwa ketika persiapan perang Khandak atau perag Parit, para sahabat bergotong-royong membangun sebuah parit besar. Pembangunan parit besar ini bertujuan melindungi Kota Madinah dari serangan Pasukan Koalisi Kafir Makkah dan Bani Nadzir.

Ketika Jabir bin Abdullah sedang bergotong-royong, beliau melihat Rasul SAW dalam keadaan lapar. Maka ia bergegas pulang kerumah dan meminta Istrinya untuk masak guna menjamu Rasulullah SAW. Istri Jabir menumbuk  Gandum dan Jabir menyembelih kambing untuk dimasak.

Segera setelah makanan siap, Jabir menemui Rasulullah SAW dan berbisik bahwa Rasulullah SAW dipersilahkan makan dirumahnya. Kekhawatiran Jabir jika mempersilahkan makan para Sahabat dan Rasul, makanan yang disediakan tidak mencukupi dan akan mempermalukan Istri Jabir. Akan tetapi setelah dibisiki Jabir, Rasul SAW membuat woro-woro kepada para Sahabat.

Wahai para Penggali Khandak, Jabir memasak makanan untuk kalian. Mari kita makan bersama-sama. Pengumuman yang menyentak Jabir karena akan sangat malu ketika makanan yang dihidangkan tidak mencukupi jumlah sahabat penggali Khandak yang berjumlah ribuan.

Jabir segera pulang dan menceritakan keadaannya kepada Istrinya, dan ia dimarahi atas kelalaiannya tersebut. Akan tetapi Rasulullah SAW mendahului para sahabat pergi kerumah Jabir bin Abdillah RA untuk mendoakan adonan roti dan masakan kambing.

Baca Juga:  Sikap Nahdlatul Ulama Tentang Hubungan Antara Muslim dengan Non Muslim - Bagian 3

Pesan Nabi SAW kepada Jabir untuk jangan sampai menurunkan menurunkan kuali tempat roti dan kambing dimasak. Piring dan wadah makanan yang akan disajikan cukup diambil dari Kuali besar, jangan menurunkannya. Kisah ini menunjukan bahwa sekarung gandum dan seekor kambing dapat menjamu ribuan penggali Khandak untuk makan bersama.

Kiranya Rasulullah SAW tidak tega makan sendiri sedangkan para sahabat beliau bergotong-royong menggali parit untuk perang. Maka beliau mengajak para Sahabat untuk mayoran bersama di rumah Jabir RA. Kisah keberkahan dalam makanan Jabir RA terekam dalam Hadits;

طعام الواحد يكفى الاثنين وطعام الاثنين يكفى الأربعة وطعام الأربعة يكفى الثمانية

Artinya: Makanan (untuk porsi) satu orang cukup untuk dua orang, makanan (untuk porsi) dua orang cukup untuk empat orang, makanan (untuk porsi) empat orang cukup untuk delapan orang (HR, Muslim)

Bahkan dikuatkan dalam kitab shahih Muslim tentang kecukupan makanan untuk porsi orang lebih dari biasanya.

طعام الاثنين كافى الثلاثة وطعام الثلاثة كافى الأربعة

Artinya: “Makanan (untuk porsi) dua orang cukup untuk tiga orang, makanan (untuk porsi) tiga orang cukup untuk empat orang  (HR. Muslim)

Keberkahan apapun memang tidak bisa ditakar dengan akal rasional, sebagaimana Jabir bin Abdillah RA menyembelih seekor kambing dan Istrinya menumbuk sekarung gandum cukup untuk makanan lebih dari 1000 sahabat.

Imam Nawawi menjelaskan dalam kitabnya Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim kedua hadis di atas menganjurkan kepada kita untuk makan bersama, mayoran meskipun makanannya sedikit namun sudah mencukupi kebutuhan makan. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG