Meluruskan Firanda yang Mengatakan Isra’ Mi’raj Sebagai Bukti Allah Ada di Atas

Meluruskan Firanda yang Mengatakan Allah Ada di Atas

Pecihitam.org – Anda tentu kenal dengan Firanda yang sebagian jamaahnya memanggilnya sebagai ustadz. Tapi saya tidak mau menyebutnya sebagai ustadz apalagi ulama. Karena pemahamannya, terlebih dalam aqidah cenderung menyimpang, ditambah sikapnya yang sering membid’ahkan amaliah yang ada dalilnya, menurut saya ia belum layak disebut sebagai tokoh agama, walupun ia lulusan Madinah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

“Konsekuensi tidak percaya dengan adanya Allah di atas langit adalah mengingkari peristiwa Isra’ Mi’raj”, begitu ocehannya dengan logika yang dipaksakan.

Tulisan saya ini ingin meluruskan pemahaman beliau. Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang hobi ngomentari orang lain.

Tapi ketika ada orang lain yang setiap kali naik mimbar, hobinya cuma menyerang amaliah orang. Misal, menuduh Tahlilan bid’ah, mengatakan musyrik bagi yang tawassul, atau mengatakan karomah para wali adalah tahayyul, maka saya merasa terpanggil.

Saya punya beban moral. Sebagai santri yang besar dalam lingkungan dengan amaliah-amaliah yang kerap diserang oleh Salafi-Wahabi, seperti Firanda, Yazid Jawwas, Khalid Basalamah lan konco-koncone, saya harus meluruskan, sekaligus menyebutkan kekeliruan-kekeliruan mereka.

Kali ini saya ambil contoh kasus yang harus saya luruskan, yakni tentang khayalan Firanda bahwa Isra’ Mi’raj sebagai salah satu dalil kuat bahwa Allah ada di atas langit.

Firanda berkhayal, “Kalau Allah tidak di atas, kenapa Nabi Muhammad harus Mi’raj?”

Dalam hal ini, saya menggunakan dua dalil, yakni dalil naqli dan dalil aqli.

Saya akan meluruskan Firanda mengenai hal ini dengan dalil-dalil naqli.

Saya pun harus menyebutkan kekeliruan logika Firanda ini dengan memakai logika juga, sebagai penguat dalil-dalil naqli.

Ada beberapa ayat dan hadis yang dipahami secara dzahirnya saja oleh kaum Musyabbihah-Mujassimah.

Berikut dua ayat dan satu hadis yang sering disalahpahami oleh mereka:

Surat Al-A’raf ayat 54

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ

“Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia menguasai ‘Arsy.

Kalimat istawa ‘alal ‘arsy pada ayat tersebut dipahami oleh Salafi-Wahabi dengan terjemahan Allah bersemayam di atas ‘Arsy.

Padahal ketika menafsirkan bahwa Allah berada pada arah bawah atau arah bumi, kemudian naik ke arah atas lalu menciptakan langit, kemudian Dia naik ke Arsy lalu bersemayam (bertempat), maka orang ini telah menjadi kafir.

Karena mereka berkeyakinan Allah butuh pada tempat, padahal adanya Allah merupakan qiyamuhu binafsihi (berdiri dengan dzat-Nya sendiri). Mustahil bagi-Nya ihtiyaju ila mahallin (butuh pada tempat).

Jika Allah butuh pada Arsy sebagai tempat, maka dimanakah Dia sebelum menciptakan Arsy dan tempat-tempat lainnya?

Karenanya, dalam keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah, aqidah yang benar, adalah sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته

“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (Ittihâf as-Sâdah al-Muttaqîn Juz II halaman 24)

Baca Juga:  Allah Itu Ada Tanpa Butuh Tempat, Inilah Konsensus Para Sahabat dan Imam

Bermodalkan pemahaman yang yang salah terhadap ayat di atas, orang-orang Wahabi berkeyakinan bahwa di atas Arsy ada Allah dan tidak ada selainnya.

Maka, keyakinan rapuh mereka ini pun terbantahkan oleh hadis berikut:

إنّ اللهَ لَمَا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابٍ فَهُوَ مَوْضُوْعٌ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ غَضَبِيْ

“Sesungguhnya Allah ketika menciptakan makhluk, Dia menciptakan kitab (tulisan) yang terletak di atas arsy dan dimuliakan oleh Allah yang berbunyi sesungguhnya (tanda-tanda) rahmat-Ku lebih banyak dari (tanda-tanda) murka-Ku” (HR. Bukhari)

Bahkan dalam riwayat Ibnu Hibban dengan redaksi

وَهُوَ مَرْفُوْعٌ فَوْقَ الْعَرْشِ

“Dan tulisan itu terangkat (diletakan) di atas arsy”.

Dengan demikian, hadits ini adalah dalil bahwa di atas arsy terdapat tempat. Karena bila di atas arsy tidak ada tempat, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan bahwa kitab tersebut diletakkan di atasnya.

Surat Al-Mulk ayat 16

ءَاَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَاۤءِ اَنْ يَّخْسِفَ بِكُمُ الْاَرْضَ فَاِذَا هِيَ تَمُوْرُۙ

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?”

Mereka memahami kalimat man fis sama-i dengan Allah yang berada di langit, padahal sebagaimana dijelaskan oleh Al-‘Iraqi bahwa makna man fis sama-i di sini adalah para malaikat, sebagaimana hadis

ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

”Sayangilah oleh kalian orang yang berada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh yang berada di langit”

Dengan tegas, beliau mengatakan bahwa man fis sama-i maksudnya adalah ahlus sama-i (penduduk langit), yakni para malaikat.

Hadis Riwayat Muslim

ينزل رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“….. Tuhan kita Tabaaraka wa ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.”

Ketika kaum Wahabi menafsirkan hadis ini bahwa Allah bergerak dan turun dari atas ke langit dunia dan berdiam di sana sampai terbit fajar, kemudian setelah itu Dia naik ke arah Arsy, maka orang tersebut telah menjadi kafir.

Yang sangat mengherankan dari kaum Musyabbihah, seperti kaum Wahhabiyyah sekarang, mereka meyakini bahwa Allah sama besar dengan Arsy, lalu mereka mengatakan bahwa Allah turun ke langit dunia, padahal mereka tahu bahwa besarnya langit dunia dibanding besarnya Arsy seperti setetes air dibanding lautan luas.

Ini artinya dalam keyakinan mereka, Allah ketika turun ke langit dunia menjadi sangat kecil. Ini merupakan bukti nyata akan kebodohan akal mereka.

Lalu dengan pemahaman tersebut mereka juga menetapkan bahwa perbuatan Allah hanya turun dan naik saja agar bersesesuaian dengan masing-masing sepertiga akhir malam di setiap bagian bumi ini, karena sepertiga akhir malam itu berbeda–beda satu wilayah dengan lainnya. Ini juga merupakan bukti nyata akan kebodohan akal mereka.

Baca Juga:  Wahabi Enggan Dialog Dengan Pakar, Tapi Tajam Menyerang Awam

Adapun makna yang benar dari hadis di atas menurut Ahlussunnah adalah para malaikat turun dengan perintah Allah ke langit dunia, hingga ketika datang sepertiga akhir malam, maka mereka menyeru penduduk bumi sesuai apa yang diperintahkan oleh Allah hingga terbit fajar.

Begitu pemahaman yang benar. Jadi bukan mengatakan Allah ada di langit dan sibuk naik turun.

Di atas, adalah bantahan dengan dalil-dalil dari para ulama terhadap khayalan Firanda yang menyatakan Allah ada di atas langit.

Dan sekarang, saya akan menggunakan logika. Karena dalam menjajakan kepercayaannya, orang-orang Wahabi lebih banyak pakai logika.

Maka dalam rangka menyeimbangi dan menerapkan serangan balik, saya juga akan menggunakan logika. Cuma jelas beda logikanya. Kalau mereka pakai logika yang dipaksakan, sementara saya akan menggunakan logika sehat dan ditopang oleh dalil-dalil naqli.

Mi’raj tidak bisa dijadikan dalil bahwa Allah berada di atas. Jangan jadi seperti Firaun yang ketika membuat piramid dengan tujuan untuk melihat Allah.

Karena memang Allah tidak bertempat di atas langit. Mi’rajnya Nabi dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha sama sekali tidak bisa dijadikan dasar bahwa Allah bersemayam diatas langit.

Perumpamaan Pertama
Secara logika, ini bisa diibaratkan ketika seseorang ingin melihat pohon yang ada di balik tembok yang tinggi, kemudian ia naik ke atas tembok dan bisa melihat pohon tersebut.

Dalam hal ini bukan berarti pohon yang berada di balik tembok bertempat di atas, akan tetapi tetap berada di balik tembok. Sekali lagi, bukan di atas tembok.

Lalu kenapa untuk melihat dia masih harus naik ke atas tembok? Ini karena tembok menjadi hijab atau penghalang antara dia dengan pohon tersebut. Dengan berada di atas tembok, maka ia lepas dari sekat-sekat sekat hijab yang membatasi pandangannya untuk bisa melihat pohon tersebut.

Begitu juga, ketika Nabi Muhammad ke langit dan kemudian bisa melihat Allah, maka jangan dipahami bahwa Allah berada di atas langit. Akan tetapi di saat Nabi Muhammad berada di Sidratul Muntaha itu, saat itulah hijab-hijab yang menghalangi antara beliau dengan Allah terbuka.

Maka ketika hijab itu terbuka, saat itulah Nabi Muhammad bisa bertemu dengan Allah. Jadi karena hijab terbuka itulah, Nabi melihat Allah, bukan bermakna Allah ada di atas langit.

Ini juga bisa dipahami ketika Nabi Musa bertemu dengan Allah di bukit Tursina. Bukan berarti saat itu Allah sedang berada di bukit Tursina. Akan tetapi saat itulah hijab yang menjadi penghalang terbuka yang dengannya Nabi Musa bisa bertemu Allah.

Kita pun, andai hijab-hijab yang teridiri cinta dunia terbuka, bisa saja melihat Allah, seperti yang dialami oleh para wali.

Baca Juga:  Mengulik Motif Memberantas Bid'ah Salafi Wahabi (Bag II)

Jadi dengan logika dan perumpamaan ini, saya tegaskan kembali, Mi’raj tidak bisa dijadikan dalil bahwa Allah berada di atas langit.

Perumpamaan Kedua
Perumpamaan kedua untuk membantah keyakinan Firanda adalah, ketika katakanlah seseorang bernama Andi berada di tengah hutan dan ia ingin berbicara menggunakan telpon dengan Dodi yang ada di Jakarta.

Maka Andi akan datang ke Kota Pontianak misalnya, karena di tempat ini tersedia sinyal seluler. Ketika berada di Pontianak, maka Andi bisa berbicara dengan Dodi.

Akan tetapi dalam hal ini, tidak bisa dikatakan bahwa Dodi berada di Pontianak. Ia tetap berada di Jakarta.

Pontianak adalah tempatnya Andi, tempat yang sesuai bagi Andi untuk bisa berbicara, karena memang terdapat sinyal, beda dengan di hutan.

Begitu juga Ketika Nabi Muhammad berada di Sidratul Muntaha dan bisa melihat Allah, maka tidak bisa dikatakan bahwa Sidratul Muntaha itu adalah tempatnya Allah.

Akan tetapi Sidratul Muntaha adalah tempat mulia yang disediakan secara khusus oleh Allah untuk Nabi Muhammad. Karena di tempat mulia yang konon Malaikat Jibril pun tidak bisa menjangkaunya, di tempat inilah terdapat ‘sinyal kuat’ untuk nabi bisa melihat Allah, berbeda dengan tempat lain yang masih ada noise-noise.

Sekali lagi bukan berarti Allah berada di Sidratul Muntaha, melainkan tempat ini merupakan maqamnya Nabi Muhammad yang memungkinkan untuk bisa melihat Allah.

Kesimpulan
Dari beberapa dalil naqli dan uraian perumpamaan logis di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak benar mengatakan bahwa Mi”raj sebagai bukti Allah berada di atas langit.

Dan ketika kami meyakini bahwa Allah tidak bertempat di atas langit, ini tidak pula bermakna bahwa kami berkeyakinan Allah berada dimana-mana, sebagaimana sering dituduhkan oleh kelompok mujassimah itu.

Kami, Ahlussunnah Wal Jamaah berkeyakinan bahwa Allah adalah qiyamuhu binafsihi, tidak butuh pada tempat.

Karena kami berpegang teguh pada perkataan Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i

غَايَةُ الْمَعْرِفَةِ بِاللهِ الإيْقَانُ بِوُجُوْدِهِ تَعَالَى بِلاَ كَيْفٍ وَلاَ مَكَانٍ

“Puncak pengetahuan seseorang kepada Allah adalah dengan berkeyakinan bahwa Allah ada tanpa sifat benda dan tanpa tempat“.

Dan kami tidak memahami ayat-ayat mutasyabihat dengan pemahaman tekstual, sebab lagi-lagi inilah pesan Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i

صُوْنُوْا عَقَائِدَكُمْ مِنَ التَّمَسُّكِ بِظَاهِرِ مَا تَشَابَهَ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أُصُوْلِ الْكُفْرِ

“Hindarkan aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada dhahir ayat al-Qur’an dan hadits yang mutasyabihat, sebab hal demikian merupakan salah satu pangkal kekufuran”.

Faisol Abdurrahman