Meluruskan Pemahaman Salafi Wahabi Tentang Ghuraba’, Tersesat Kok Ngaku Benar!

Meluruskan Pemahaman Salafi Wahabi Tentang Ghuraba’, Tersesat Kok Ngaku Benar!

PeciHitam.org – Islam lahir di Makkah ditengah-tengah komunitas orang Quraisy yang melakukan praktek heretik yakni menyembah berhala. Kehadiran Islam sekira tahun 610 M mengguncang sendi-sendi ibadah dalam masyarakat Makkah Jahiliyyah, karena harus meninggalkan keyakinan lama yakni menyembah banyak Tuhan menjadi hanya satu Tuhan, Allah SWT.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Awal dakwah Islam di Makkah mendapatkan penolakan bahkan intimidasi dari pembesar Quraisy karena akan menggeser posisi nyaman mereka dalam struktur masyarakat.

Selama dakwah di Makkah selama kurang lebih 12 tahun, Nabi Muhammad SAW hanya mendapatkan sedikit pengikut.

Pengikut Muhammad SAW, pemegang Tauhid, merasa hidup sangat terasing ditengah masyarakat pengamal syirik. Berikut Ulasan tentang keterasingan/ Ghuraba’ dalam klaim kelompok sempalan salafi wahabi.

Hadits tentang Ghuraba’

Narasi salafi wahabi yang mengklaim diri sebagai kelompok Ghuraba’ yang memiliki kelurusan Aqidah dan amaliah sesuai dengan Rasulullah SAW.

Banyak rujukan artikel dan ceramah yang menuliskan dengan jelas kelompok mereka sebagai kelompok Ghuraba’, salah satunya dalam Rumaysho.com. Situs tersebut sudah maklum berafiliasi dengan paham salafi wahabi, entah diakui atau tidak oleh empunya.

Penggiringan narasi yang dilakukan oleh salafi wahabi dalam Rumaysho(dot)com mendasarkan Hadits Abdurrahman bin Sannah riwayat Ahmad sebagai berikut;

Baca Juga:  Ketika Islam Sedang Disandera Oleh Salafi Wahabi

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ سَنَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ يَقُولُ بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيباً ثُمَّ يَعُودُ غَرِيباً كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Artinya; Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi SAW bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah SAW mengenai ghuraba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuraba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad)

Status hadits tersebut dalam jalur periwayatannya memiliki kelemahan, namun ada hadits lain sebagai penguat dengan Sanad Jayyid (transmisi yang Baik). Bisa dikatakan bahwa Hadits tersebut Hasan/ Jayyid Lighairihi.

Hadits ini kemudian dibajak pemaknaannya sebagai pembenaran oleh salafi wahabi yang mengatakan bahwa golongan mereka sebagai golongan yang  benar karena mereka mensertifikat  Ghuraba’. Akan tetapi pemaknaan golongan salafi wahabi hanya berasal dari nalar tekstual mereka.

Ghuraba’ dan Klaim Salafi Wahabi

Fakta bahwa secara komposisi umat Islam dunia, golongan salafi wahabi atau yang sepemikiran dengannya sangat kecil prosentasenya. Khususnya di Nusantara, gerakan salafi wahabi adalah kelompok minoritas yang mengganggu dengan tuduhan-tuduhan syirik, bid’ah, khurafat dan sesat.

Baca Juga:  Naudzubillah, Inilah Ucapan Imam Bukhari dan Imam Ahmad yang Dipelintir Wahabi

Klaim mereka, yang menyadari bahwa kelompok mereka kecil minoritas, maka menggunakan dalih dalil hadits ‘بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيباً ثُمَّ يَعُودُ غَرِيباً’ dengan dibumbui bahwa mereka termasuk golongan kecil yang bertugas memperbaiki manusia ketika rusak.

Faktanya, bukannya memperbaiki orang rusak atau mengislamkan orang non-Muslim, akan tetapi menuduh orang Islam tidak lagi beragama Islam.

Tuduhan tersebut sangat umum dilontarkan oleh sebagian orang-orang salafi wahabi dengan menggolongkan orang-orang Ahlussunnah wal Jamaah sebagai penyembah kuburan, ahlu bid’ah, kafir dan sesat.

Apakah dakwah seperti ini pantas disebut dengan Ghuraba’ yang bertitel segolongan umat Islam yang memperbaiki manusia ketika rusak?

Bukannya dekat dengan derajat Ghuraba’ yang disifati dengan manusia yang memperbaiki kerusakan Manusia, akan tetapi salafi wahabi lebih mendekati golongan sempalan dari As-Sawad al-A’dzam.

Golongan As-Sawad al-A’dzam adalah golongan mayoritas yang tidak akan mungkin bersepekat untuk sesat seluruhnya. Dalam Syarah Sullam al-Wushul diterangkan;

Baca Juga:  Memahami Gerakan Pendangkalan Agama Islam ala Salafi Wahabi

اِتَّبِعُوْا السَّوَادَ اْلأَعْظَمَ، وَلَمَّا انْدَرَسَتْ الْمَذْهَبُ الْحَقَّةُ بِانْقِرَاضِ أَئِمَّتِنَا إِلاَّ الْمَذَاهِبَ

Artinya; ‘(Rasulullah SAW) bersabda; Ikutilah Kalian As-Sawad Al-A’dzam, kelompok Mayoritas, ketika Madzahb-Madzhab yang benar telah punah dengan kematian Imamnya kecuali 4 Madzah (Hambali, Maliki, Syafii dan Hanafi).

Dan fakta bahwa salafi wahabi tidak mengakui atau mengikuti Imam Madzhab 4 atau tidak bermadzhab sama sekali menjadi bukti bahwa salafi wahabi bukan ghuraba’ namun kelompok SEMPALAN dari As-Sawad al-A’dzam. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq