Meluruskan Stigma Sosial Bagi Perempuan (Kodrat Macak, Masak, Manak)

Macak, Manak Masak

Pecihitam.org – Perempuan dalam pandangan masyarakat jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya dipersepsikan sebagai mahluk penggoda, perayu, penarik syahwat laki-laki. Ia sebagimana disitir dalam Al-Qur’an adalah perhiasan dunia yang paling indah. Perhiasan identik dengan keindahan, kemolekan, kecantikan kemewahan,kemuliaan dan keanggunan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Persepsi ini membuat mayoritas perempuan mengeluarkan biaya besar untuk mempercantik wajah dan tubuhnya (macak), bahkan ada yang sampai operasi. Kalau dilihat laki-laki tampil tidak mempesona, merasa tidak percaya diri, menyalahkan diri sendiri dan frustasi.

Mereka akan banga kalau bisa naik podium, meliuk-liuk mempertontonkan kemolekan wajah dan kelangsingan tubuhnya, menebar daya asmara yang besar, membuat laki-laki terkesima terbuai dan terbayang-bayang. Dalam persepektif agama, wanita semacam ini seperti ular berbisa yang membahayakan mental laki-laki.

Kecantikan dan kemolekan hanya dilihat dari luarnya saja yang nisbi, menipu, dan membuat kecewa ( wamal hayatut dunya illa laibun mata ul ghurur ). Sedangkan kecantikan yang sebenarnaya adalah kecantikan batin yang terpancar dari keanggunan akhlaknya, kecerdasan otaknya, dan dedikasi sosialnya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Inner beauty ini bersifat permanen, malakah, yang dihasilkan lewat proses pendidikan yang mematangkan karakter dan kepribadiannaya, memperindah moralitas dan kredibilitasnya, mempertajam analisis, kreativitas, dan imajinasinya, memperkokoh visi sosialnya, memperkuat komitmen dan konsistenya dalam ranah perjuangan, serta mempertebal keyakinan dan optimisnya dalam mengarungi kehidupan untuk menggapai sukses dunia akhirat.

Baca Juga:  UAS Hina Salib: Saya Muslim, Saya Bela Hak Saudara Non Muslim

Hal lain yang selalu mendiskriditkan perempuan dalam kodrat manak (melahirkan), atau sebagai ibu yang harus menyusui, membesarkan, menunggui proses pertumbuhan anak, sejak lahir sampai dewasa, mendidik dan mendewasakan watak dan kepribadianya.

Peran ini tentu sangat alami sifatnya. Negatifnya, peran alami digunakan sebagian kelompok untik membatasi perempuan dalam ranah publik, dalam kegiatan-kegiatan sosial yang lebih besar seperti sebagai aktifis sosial, pejabat negara, ilmuan besar, pendagang lintas negara, komisaris dan akuntan perusahaan dan sebagainya.

Yang memebutuhkan energi dan jam terbang tinggi. Jabatan-jabatan ini di kawatirkan akan mengganggu peran-peran vital perempuan dalam mendidik anakanya. Perempuan lebih baik dirumah saja demi optimalisasi fungsi mendidik anak ini.

Imbas paradigma ini adalah terpangkasnya peluang perempuan dalam memperoleh pendidikan secara memadahi sebagai sarana menraih SDM berkualitas untuk meraih profesi-profesi bergengsi seperti di atas.Tentu ini adalah realita ironis yang masih menjadi maintream publik negara ini.

Tidak jauh dari fungsi manak adalah masak. Tugas perempuan adalah melayani suami secara sempurna. Wanita solikhah adalah pelayan terbaik suami. Ia harus bisa memasak demi suami dan anak-anaknya. Ini sebagaimana manak adalah alami sekali. Yang jelek, laki-laki kalau tugas semacam ini kemudian membatasi kebebasan waita untuk memperoleh pendidikan yanag lebih tinggi.

Baca Juga:  Non Muslim Itu Kafir atau “Dikafirkan?” Ini Pendapat KH. Afifuddin Harisah

Masyarakat biasanya akan berkata, setinggi apapun pendidikan wanita, paling-paling nanti juga masak, manak,macak.Tidak lebih dari itu, ngapain tinggi-tinggi pendidikanya. Cukup aliyah atau tsanawiyah saja. Tidak ada gunanya kalau sampai kuliah, lalu menjadi komisaris perusahaan, guru besar, dan lain-lain, karena profesi besar ini hanya akan mengganggu stabilitas keluarganya nanti.

Pernyataan senada sering kita dengar dalam masyarakat agraris tradisional kita. Mereka masih berkeyakinan, peran domestik ( masak,manak,macak) perempuan adalah segala-galanya.

Perspektif minor inilah yang menjadikan perempuan tidak bisa berkembang secara pesat dan optimal. Mereka tidak diberi peluang dan kesempatan untuk unjuk diri, menunjukkan jati diri dan eksitensi menggali, mengasah dan mengembangkan potensi dan kualitasnya, serta mengukir tinta emas dengan kreasi dan dedikasinya.

Secara faktual perempuan biasanya hanya diberi kesemaptan belajar, paling tinggi tingkat alaiyah.Sedikit sekali dari mereka yang mencicipi baangku kuliah. Setelah lulus aliah mereka biasanya langsung dinikahkan oleh orang tua.

Dan setelah menikah, wanita secerdas dan sekreatif apapun biasanya tenggelam potensi besarnya dengan tugas-tugas ruti primer yang dijalaninya sebagai ibu rumah tangga yang selalu berkisar pada macak, manak dan masak. Hanya laki-laki yang diberi kesempatan besar untuk memperoleh pendidikan yang tinggi.

Baca Juga:  Pancasila Memang Bukan Wahyu Ilahi, Namun Ia Fikrul Islami

Menurut kebanyakan masyarakat kita laki-laki harus betul-betul pintar dan kreatif karena mereka adalah penaggung jawab rumah tangganya kelak, baik sisi materi, sosial, budaya, politik, pendidikan, dan sebagainya. Apalagi ditengah iklim dunia yang kompetitif ini , laki-laki harus lebih cerdas, kreatif dan progresif dengan bekal pendidikan setinggi-tingginya.

Begitulah kiranya image dan presepsi masyarakat akan eksistensi dan fungsi laki-laki dan perempuan selama ini. Ini adalah bukti faktual yang sulit terbantah samapai saat ini, kecuali sedikit orang tua yang sudah tercerahkan yang jumlahnya masih sangat sedikit, khususnya dilevel desa.

Belum lagi persoalan-persoalan teologis lain yang mengekang kebebasan perempuan semacam konsep wali mujbir ( orang tua memaksa kawin dengan laki-laki yang tidak di cintainya ).

Mari kita berfikir lebih cerdas, agar stigma tersebut tidak membatasi ruang gerak perempuan apalagi mendiskeditkan mereka, dengan tidak mengurangi nilai-nilai tanggungjawab perempuan sebagai seorang istri.