Membaca dan Menuntut Ilmu Lebih Utama daripada Ritual Ibadah

Membaca dan Menuntut Ilmu Lebih Utama daripada Ritual Ibadah

Pecihitam.org – Kata ilmu terserap dari bahasa arab. Yang terdiri dari tiga huruf, ‘ain, lam, dan mim. Dalam bahasa arab semua bentuk kata yang terdiri dari ketiga huruf itu mengandung makna kejelasan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Misalnya gunung dan bendera karena sangat menonjol dan berkibar dengan jelas dinamai ‘alam. Alam raya yang bagian-bagiannya tampak demikian jelas dinamai juga demikian. Alamat adalah tanda yang jelas bagi sesuatu. Nah, ilmu pun dalam arti pengetahuan juga demikian. Ia harus jelas. Demikian kata Habib Qurais Shihab pakar tafsir terkemuka Indonesia dalam bukunya Yang Hilang Dari Kita Akhlak.

Di dalam al-Qur’an Allah swt mengangkat derajat hamba-Nya melalui dua hal yaitu orang yang berilmu dan orang-orang yang beriman (lihat Quran surah al-Mujadalah/58 ayat 11). Umat Islam atau negara-negara muslim selamanya akan tertinggal dari bangsa-bangsa lain bila tidak memperdalam diri mereka dengan ilmu dan iman.

Di dalam al-Qur’an, Nabi Muhammad saw diperintahkan oleh Allah swt untuk bermohon agar ditambahkan ilmu buat beliau Lihat Qs. Thaha/20 ayat 114

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Terjemahnya: Katakanlah (muhammad), Ya Tuhanku tambahkan ilmu bagiku

Pertanyaanya kenapa itu yang diperintahkan Nabi Muhammad saw untuk diminta? Itu menunjukkan bahwa yang paling dan paling utama bagi Nabi Muhammad saw dan umatnya adalah ilmu pengetahuan. Jika sekirannya ada yang lebih penting dari itu maka tentu Allah swt akan memerintahkan selain ilmu pengetahuan bagi beliau.

Ilmu pengetahuan adalah samudra yang tak bertepi. Ia selalu bertambah dari masa ke masa dan sarana untuk mencapainya itu semakin mudah. Di saat ini untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sangatlah mudah. Cukup menggunakan HP kita maka puluhan, ratusan, ribuan topik yang sama dibahas oleh orang yang berbeda dapat kita temukan.

Baca Juga:  Urgensi Agama dalam Mencegah Terjadinya Perusakan Lingkungan Hidup

Berbeda dengan zaman dulu untuk membaca buku saja kita kesulitan mendapatkannya ditambah sifat malas yang sering kali diikuti dan kita larut dengan sifat malas tersebut.

Orang bijak berkata: “tinta para ilmuwan lebih mulia daripada  dara para syuhada. Perolehan sedikit ilmu lebih utama daripada pelaksanaan ibadah ritual. Pelajarilah satu ayat dari kitab Allah karena itu lebih baik daripada shalat sunnah seratus rakaat. Mempelajari satu bab dari ilmu pengetahuan lebih baik daripada shalat seribu rakaat“.

Jika ulama wafat ia meninggalkan tulisan (buku) yang senantiasa kita baca dan membaca memberi spirit baru bagi para pembaca, berbeda dengan darah syuhada. Ketika ia wafat ia dikenang karena perjuangannya tetapi ilmu pengetahuannya hilang bersama dengan dirinya.

Melakukan ibadah tanpa didasari ilmu pengetahuan akan memiliki kualitas rendah, berbeda dengan ibadah yang dilakukan dengan didasari dengan ilmu pengetahuan.

Bisa saja kita melakukan ibadah secara berjamaah, tetapi tentu saja nilai ibadahnya akan berbeda antara orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Inilah yang disinggung dalam al-Qur’an “apakah sama orang-orang yang mengatahui (ilmuwan) dengan orang-orang yang tidak mengetahui“.

Dalam realitas sosial saja, derajat perlakuan orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu akan sangat berbeda. Contoh sederhanya, bila kita ingin shalat berjamaah maka secara sadar kita akan memilih dan mempersilahkan bagi mereka yang fasih bacaan al-Qur’an, yang latar belakang pendidikan agamanya jelas.

Baca Juga:  Benarkah Imam Asy-Syafi'i Mencela Sufi Sebagaimana Tuduhan Para Salafi Wahabi?

Lalu bagaimana cara mendapatkan ilmu pengetahuan? Dengan alat apa kita memperoleh ilmu pengetahuan? Jawabannya ialah Membaca. Ayat pertama kali diterima Nabi Muhammad saw adalah Qs. al-Alaq ayat 1-5. Iqra’ Bacalah. Apa yang harus dibaca? Al-Qur’an tidak menjelaskan objek apa yang harus dibaca. Maka ulama menyimpulkan bahwa boleh membaca segala sesuatu selama didasari atas nama Allah.

Ini sekaligus mengandung makna bahwa dalam hal membaca tidak mengenal batasan, kita boleh membaca apapun karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan itu netral tanpa memihak. Boleh dipelajari dari manapun asalnya tanpa melihat agama, suku, bangsanya.

Menurut survai yang terpecaya dari 61 negara, Indonesia berada pada urutan ke-60 dari kualitas literasi, minat bacanya orang Indonesia, itu akan terbalik bila kita survai pengguna media sosial. Indonesia menjadi yang terdepan dalam penggunaan media sosial.

Sebabnya bukanlah karena adanya komputer karena lewat komputer kitapun bisa membaca, bukan karena adanya HP Android karena lewat HP Android kitapun bisa membaca, bukan karena televisi sebab lewat televisi kitapun bisa belajar. Sebab utamanya karena kita terlalu sering menghabiskan waktu kita pada hal-hal yang tidak penting, hiburan yang tidak mendidik. Inilah yang menghambat minat baca kita.

Habib Quraish Shihab menyebutkan dalam buku Dia Dimana-mana mengemukakan bahwa, “kalau anda membiasakan diri membaca. Anda dapat membaca 300 kata dalam semenit. Ini berarti dalam 15 menit Anda dapat membaca sekitar 4.500 kata. Dalam sebulan yang hanya menggunakan 15 menit per hari itu, Anda dapat menyelesaikan 135.000 kata. Kalau rata-rata satu buku saku memuat sekitar 67.500 kata, itu berarti setiap bulan Anda dapat membaca dua buku. Ajaib kan.

Baca Juga:  Bahasa sebagai Media dan Simbolisasi dalam Kekuasaan

Kitab Suci al-Qur’an dinamakan  juga tilawah yang makna dasarnya adalah mengikuti. Membaca bukan sekedar mengikuti proses membaca huruf demi huruf, kata demi kata, atau kalimat demi kalimat tetapi juga mengikuti tuntunan yang kita baca.

Bacaan yang paling utama adalah al-Qur’an tetapi ini tidak menafikan mengenai pentingnya membaca selain al-Qur’an, setiap yang bacaan selain al-Qur’an akan membantu untuk memahami isi pesan-pesan di dalam al-Qur’an.

Sekiranya bisa memilih dan meninggalkan yang lain maka lebih baik menghabiskan waktu membaca daripada beribadah kepada Allah swt, lebih baik menghabiskan satu jam membaca daripada menghabiskan waktu beribadah seratus rakaat shalat sunnah, lebih baik menghabiskan satu bab ilmu daripada beribadah seribu rakaat shalat sunnah.

Saya pernah membaca buku yang berkisah mengenai seorang ulama besar yang lupa di malam pertama pernikahannya karena keasyikan membaca hingga menjelang subuh, hingga ia meminta maaf pada istrinya. Seorang teman berkisah kepada saya bahwa sebelum menikah ia mengajukan persyaratan kepada calon istrinya, “jika saya ingin beli buku jangan melarangku“.

Semoga kita bisa memanfaatkan karunia terbesar yang Allah swt berikan kepada kita semua dengan membiasakan diri untuk senantiasa membaca kalam ilahi (al-Qur’an) dan membaca buku sesuai dengan minat masing-masing. Wallahu A’lam bis Shawab.

Muhammad Tahir A.