Meneladani Toleransi Beragama dalam Islam dari Rasulullah

toleransi beragama dalam islam

Pecihitam.org – Sikap toleransi beragama dalam Islam sangat dianjurkan karena didalamnya akan muncul hal lain seperti, tolong menolong, hidup yang harmonis dan dinamis tanpa memandang agama, ras, bahasa dan suku mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Toleransi sangatlah indah, dimana kita dapat berbaur dengan orang-orang dari berbagai kalangan, karena menganut Bhineka tunggal ika kita menjadi orang yang toleran tanpa memandang tinggi ataupun rendah.

Sikap toleransi bukan untuk mengorbankan diri sendiri, ketika kita memberikan ruang bagi orang lain, bukan berartii akan mengubah sikap serta keyakinan yang ada dalam diri kita sendiri. Disinilah letak keindahan dari sebuah toleransi antar manusia apalagi antar umat beragama.

Dari sikap toleransi kita belajar bagaimana menjadi istiqomah pada jalan dan keyakinan kita, tanpa mengganggu pendapat dan pendirian orang lain. Toleransi juga sebagai gambaran cara bersyukur menurut Islam dan cara mensyukuri nikmat Allah kita terlahir dengan berbagai perbedaan.

Sikap toleransi beragama dalam Islam dapat kita teladani dari kisah Rasulullah SAW saat membangun negara Madinah, dimana ketika beliau datang ke Madinah, beliau melihat adanya banyak perbedaan yang ada, tidak hanya dari segi etnis saja namun juga perbedaan agama atau keyakinan.

Dengan adanya pluralisme atau perbedaan tersebut, kemudian Rasulullah SAW membangun toleransi dalam bentuk Piagam Madinah. Piagam Madinah adalah dokumen politik pertama yang membicarakan prinsip kebebasan beragama.

Baca Juga:  Antara Usaha dan Takdir, Bagaimana Porsi Kedua Hal Tersebut Bagi Manusia

Dalam Al-Qur’an Allah juga berfirman tentang toleransi, yaitu dalam Surat al-Mumtahanah ayat 8-9 ;

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu, (yaitu) orang-orang yang memerangimu dalam urusan agaman dan mengusirmu dari kampung halamanmu, serta embantu orang lain untuk mengusirmu. Barang siapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Imam Al-Syaukani menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah tidak melarang Umat Islam untuk berbuat baik kepada orang-orang non Muslim yang mengadakan perjanjian dengan umat Islam dalam menghindari peperangan dan tidak membantu non Muslim lainnya dalam memerangi umat Islam.

Ayat diatas juga menunjukkan bahwa Allah tidak melarang manusia untuk berbuat baik kepada mereka orang-orang non Muslim selama mereka tidak ikut campur dalam urusan agama kita. Berteman baik diperbolehkan selama kita tetap dalam jalan dan aqidah kita sendiri. Karena urusan pertemanan tidak ada sangkut pautnya dalam urusan keagamaan atau keyakinan.

Baca Juga:  Beginilah Seharusnya Sikap Seorang Muslim ketika Menghadapi Bencana

لكم د ينكم ولي د ين
“Untukmu agamamu dan untukku agamaku”

Ayat ini turun ketika sekelompok kafir Quraisy datang menghadap Rasulullah SAW dan bermaksud untuk mengajak beliau agar menyebah Tuhan mereka selama satu tahun. Dan merekapun akan menyembah sesembahan Rasulullah SAW yaitu Allah SWT juga dalam waktu satu tahun.

Kemudian Allah menurunkan ayat tersebut, sebagai penegasan bahwa tidak ada ikut campur antara agama satu dengan agama lain, dan agama tidak untuk dipermainkan. Agamamu ya agamamu dan agamaku adalah agamaku. Ketika kamu (non Muslim) ingin mengikuti agama Islam maka ikutlah, dan masuklah tidak ada bantahan dan tidak ada paksaan.

Sehingga dapat kita ketahui bahwa toleransi beragama dalam Islam telah ada semenjak zaman Rasulullah SAW dan sampai sekarang. Di Indonesia ada salah satu tokoh pluralisme yang tidak pernah takut dicaci dan dimaki, tidak pernah takut dalam melakukan toleransi beliaulah presiden ke 4 Indonesia KH. Abdurrahman Wahid atau biasa dipanggil GusDur bapak pluralisme.

Baca Juga:  Makna Hadits: Allah itu Maha Indah dan Menyukai Keindahan

Beliau mengatakan bahwa Indonesia ada karena perbedaan. Sehingga tidak membeda-bedakan dari mana kita berasal, agama apa yang kalian anut dan bahasa apa yang kalian gunakan, selama tidak saling memerangi satu sama lain dan tidak saling menjelekkan satu sama lain kita adalah satu.

Terlepas dari agama yang paling benar dihadapan Allah namun ketika orangnya tidak taat kepada Allah itu sama saja percuma, karena semua manusia dihadapan Allah itu sama yang membedakan adalah ketaqwaannya.

Toleransi dalam Islam memang dianjurkan demi kerukunan bersama, namun tidak untuk mencampur adukkan ritual, ibadah dan identitas agama lain dengan agama Islam. Toleransi beragama boleh namun juga jangan sampai kebablasan. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik