Mengapa Harus Bertarekat, Bukankah Syariat Islam Sudah Cukup?

mengapa harus bertarekat

Pecihitam.org – Mengapa harus bertarekat? Bukankah sudah cukup Allah dan Rasul-Nya telah mewajibkan kita ibadah dalam rukun Islam dan tidak perlu ditambah-tambahi? Pertanyaan ini sering muncul dari mereka-mereka yang tidak mengerti atau belum menekuni Tarekat. Bahkan ada yang lebih ekstrem lagi dengan protes sambil marah-marah, “Apa kalau kami tidak bertarekat, terus kami tidak masuk surga?”.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian ada juga orang yang terlanjur membenci tarekat karena ketidaktahuannya kemudian mencari-cari kesalahan. “Orang tarekat tidak ternyata jauh dari syariat”, “orang tarekat itu syirik karena mengkultuskan manusia”, “amalan mereka bid’ah” dan berbagai tuduhan keji lainnya yang tidak pernah terbukti, karena memang tidak demikian.

Pertanyaan mengapa atau apakah dalam menjalankan agama Islam harus bertarekat, sebetulnya tidak bisa dijawab Ya atau TIDAK. Semua tergantung dari diri kita memahami tarekat itu apa. Jika kita memahami tarekat itu sekedar kumpulan orang-orang yang mengamalkan dzikir sunnah diluar amalan wajib, maka kita tidak harus bertarekat.

Namun jika kita memahami bahwa tarekat merupakan sebuah metodologi atau cara untuk melaksanakan syariat maka tarekat bisa menjadi WAJIB. Sebab tanpa tarekat tidak mungkin kita bisa melaksanakan syariat dengan benar sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah dan diperintahkan Allah Swt.

Baca Juga:  Puasa dalam Kacamata Tasawuf - Perjalanan dari Ana Menuju Anta

Analogi bertarekat itu ibarat kita mau menyeberang jalan yang sangat ramai. Ada dua pilihan, apakah mau langsung menyeberang atau memakai jembatan penyeberangan. Jika kita memilih langsung menyeberang maka diperlukan fokus, konsentrasi yang tinggi, kelincahan dan keahlian agar tidak di tabrak kendaraan.

Sedangkan jika memakai jembatan penyeberangan akan lebih mudah, bahkan bisa menyeberang sambil menutup mata dan tidak tidak akan takut ditabrak, karena kita telah berada di atas jalan. Nah, menyeberang langsung itu ibarat tidak bertarekat sedangkan menyeberang memakai jembatan penyeberangan itu ibarat kita bertarekat.

Tarekat itu bukan melenceng dari syariat, malah tarekat merupakan metodologi atau cara untuk melaksanakan syariat secara benar yaitu meliputi fiqih, tauhid dan tasawuf sehingga bukan sekedar menjadi tulisan dan ucapan, namun bisa direalisasikan.

Kita mungkin saja dengan mudah bisa melaksanakan syariat Islam dengan membaca, tapi tanpa bimbingan seorang Guru maka ibadah hanya menjadi sebuah formalitas tanpa bisa menghadirkan spiritualitas disana.

Baca Juga:  Meluruskan Salah Paham Tentang Tarekat

Tidak ada nikmat yang lebih besar nilainya dalam kehidupan ini melebihi nikmat Iman dan Islam. Namun, terkadang Iman itu fluktuatif, naik turun. Sedangkan “yakin” itu tidak pernah menurun tapi terus bertambah. Nah tujuan kita bertarekat itu untuk menguatkan keyakinan, sehingga menjadikan iman kita semakin kokoh dan keyakinan semakin bertambah.

Tarekat itu pengamalan dari ihsan, untuk lebih mengenal dan makrifat kepada Allah sehingga mampu melihat Tuhan dengan bashirah (musyahadah) atau minimal kita merasa diperhatikan oleh Allah (muraqabah).

Bertarekat itu agar bagaimana caranya ibadah kita kepada Allah tidak sia-sia dan kosong belaka; ibarat orang memanah tidak hanya sekedar melepaskan busur saja tapi jelas arah dan sararannya.

Kemudian, orang yang bertarekat dan tahu bagaimana nikmatnya dekat dengan Allah, maka dia tidak ingin jauh. Karena jika orang sudah dekat dengan Allah, ketika jauh dari-Nya, maka hatinya itu akan merasa tersiksa.

Seorang sufi ditanya, “Apa yang paling membuat Anda tersiksa dalam kehidupan?” Sang sufi menjawab, “Ketika saya merasa tidak ingat kepada Allah, merasa jauh dari Allah, itulah merupakan siksaan terbesar.”

Baca Juga:  Titik Temu Ajaran Tasawuf dan Mistik Kejawen

Jika kita sadar, Allah telah memberikan segalanya kepada kita. Kita diciptakan dalam bentuk fi ahsani taqwim, diberi hati, diberi Iman, Islam, Nafas, Akal, kesehatan dan seterusnya. Bukankah itu semua anugerah luar biasa. Pertanyaannya apakah kita sudah benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Allah?

Maka dari itu, kita bertarekat dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, dan benar-benar menaruhkan hati, jiwa dan raga kita kepada-Nya. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik