Mengapa Jilbab Bu Nyai Tidak Syari? Apa Mereka Tidak Tahu?

Jilbab Bu Nyai

Pecihitam.org – Dalam Al-Qur’an sudah jelas dikatakan tentang kewajiban bagi setiap manusia untuk menutupi auratnya, begitupun bagi perempuan yang juga ada salah satu ayat yang medikit menyinggung tentang jilbab yaitu dalam surat Al-Ahzab ayat 59:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

يَاأَيُّهَاالنَّبِيُّ قُلْ لِّأَزْوَجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَبِيْبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُرًا رَحِيْمًا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali (menjadi identitas), dan karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Ahzab:59)

Namun dalam hal ini banyak perbedaan pendapat tentang memakai jilbab, dari foto yang dapat kita lihat bahwa perempuan zaman dulu memang sudah ada yang memakai jilbab. Namun cara berjilbab mereka sesuai dengan keadaan zaman dahulu, dimana mereka memakai jilbab biasa yang terpenting adalah menutupi kepala.

Begitu pula istri ulama besar KH Wahid Hasyim beliau Nyai Solichah dimana dari foto-foto yang dapat kita lihat bahwa beliau mengenaan jilbab biasa. Dan jilbab yang dipake beliau dilanggengkan sampai sekarang oleh keturunannya yaitu Ibu Nyai Sinta Nuriyah dan juga putrinya Ning Inayah Wahid.

Baca Juga:  Wahabi, Salah Satu Firqoh Islam Yang Sangat Lihai Berkamuflase

Padahal mereka adalah istri serta keturunan ulama besar Indonesia, dimana ketaatannya tidak diragukan lagi. Mereka tetap mengenakan jilbab, walaupun yang dikenakan adalah jilbab biasa, karena tujuan mereka ialah satu bentuk usaha menutupi aurat.

Maka mengapa jilbab Bu Nyai tidak syar’i, jawabannya ialah yang terpenting itu menutup aurat, begitu yang pernah Ibu Sinta Nuriyah katakan. Memakai jilbab biasa dan bukan syar’i sudah ada sejak zaman dahulu, mengapa baru sekarang banyak yang mempertanyakan menggunakan jilbab syar’i dan tidak.

KH. Hasyim Asy’ari menafsirkan jilbab sesuai dengan konteks budaya Indonesia. Dan masuknya jilbab syar’i adalah dimulai ketika para Tafsir kontemporer masuk ke Indonesia. Hal tersebut karena bias yang masih melekat pada mereka, dimana bahwa perempuan adalah sumber segala syahwat bagi laki-laki.

Baca Juga:  Pro Kontra Poligami dalam Hukum Perdata Islam

Padahal mereka menafsirkan demikian karena masih terpengaruh dengan kultur atau budaya timur tengah yang notebene memiliki sejarah kelam tentang pelecehan terhadap kaum perempuan. Sehingga tafsir tentang jilbab syar’i itu muncul pada akhir-akhir ini saja.

Jika jilbab yang lebar dan panjang adalah kriteria jilbab syar’i maka konsekuensinya Nyai Solichah termasuk melakukan kesalahan dan melakukan dosa, karena tidak memakai jilbab yang lebar.

Begitupun dari tafsir tersebut Nyai Sinta Nuriyah istri Gusdur serta putrinya ning Inayah Wahid mendapatkan hujatan karena jilbabnya yang tidak syar’i. Padahal terkadang yang menghujat tidaklah mengerti sejarahnya, dan hanya membaca tafsirnya secara mentah belum mendalam. Sebab apabila dia sudah membaca tafsirnya secara mendalam maka tidak akan berani menghujat.

Islam itu ramah, hingga ahli tafsir Prof. Quraish Syihab pernah mengutarakan pendapatnya bahwa para ulama memiliki pendapatnya sendiri mengenai batasan aurat. Bahkan Ibu Siti Raham, istri dari Buya Hamka tidak memakai jilbab yang syar’i.

Begitupun dengan putri beliau Prof Quraish Syihab yaitu Najwa Syihab dimana dia dalam kesehariannya tidak memakai jilbab. Begitupun istrinya Habib Luthfi bin Yahya yang memakai jilbab tidak syar’i jika menggunakan ukuran saat ini.

Baca Juga:  Belajar Agama Wajib dari Ustadz yang Sanad Ilmunya Jelas, Bukan dari Medsos

Dengan demikian mengapa jilbab bu nyai tidak syar’i itu bukan karena mereka tidak memahai tafsirnya, justru mereka memahami lebih mendalam makna dari tafsir jilbab itu sendiri.

Semua punya tafsir, pendapat dan dasarnya masing-masing. Bukan asal comot hukum, sehingga mereka menggunakan hal yang demikian. Berbeda pendapat itu wajar selama selama berdasar dan tidak saling menyalahkan. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik