Mengekang Nafsu Menurut Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani

Mengekang Nafsu Menurut Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani

PeciHitam.org – Ulama kesohor dalam bidang Tasawuf dari tanah Palembang tidak lain adalah Syaikh Abdus Shamad al-Falimbani. Nama al-Falimbani adalah nisbah kepada daerah Palembang Sumatra Selatan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beliau adalah putra dari seorang Ulama besar bernama Syaikh Abdul Jalil bin Abdul Wahab bin Ahmad Al-Mahdani Al-Yamani yang gemar mengembara untuk menyebarkan Agama Islam ke beberapa daerah antara lain ke Palembang, Jawa, India dan Kedah di Malaysia. Garis ayah adalah Ulama terkemuka di daerah Shana (Ibu Kota Yaman).

Tentang sebab Syaikh Abdus Shamad mukim di Palembang diceritakan dalam Tarikh Salasilah Negeri Kedah karya Dato Muhammad Hasan, bahwa beliau adalah putra kelahiran Palembang dari seorang Ibu bernama Raden Ranti.

Pernikahan ini atas inisatif murid ayah Syaikh Abdus Shamad yaitu Raden Siran. Anak seorang Ulama besar dan menjadi Ulama kesohor, kiranya itu kata yang mewakili pada diri Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani.

Keilmuan beliau tidak bisa dianggap sekedar menguasai Ilmu Syariat, akan tetapi melebihi itu. Beliau paham dan mahir dalam menjelaskan istilah Syariat dan Hakikat.

Baca Juga:  Ini Keutamaan Diam Menurut Imam Al-Ghazali dalam Teori Tasawufnya

Beliau membagi nafsu manusia sampai pada tingkatan 7 martabat. Pembagian Nafsu bertujuan untuk diatasi menggunakan metode dzikrullah. Ketujuh martabat itu antara lain;

Nafsu Amarah bis Suu merupakan nafsu yang akan menggiring manusia kepada maksiat kepada Allah SWT. Manusia dengan Amarah bis Suu akan menganggap maksiat hal yang biasa dan tidak menjadikannya sesuatu yang buruk.

Cara mengatasi nafsu Amarah bis Suu menurut Syaikh Abdus Shamad al-Falimbani adalah dengan berdzikir Nafi Isbat dalam keadaan duduk, berdiri an berbaring. Dzikir nafi isbat adalah ragam dzikir yang berbunyi (لا اله الا الله).

Nafsu Lauwamah adalah Nafsu yang mempunyai karakteristik mencela kejahatan dan membenci kejahatan tersebut. Nafsu ini juga menyukai kebaikan, akan tetapi kebaikan tersebut belum dilakukan secara rutin oleh seseorang.

Ketidak-rutinan ini karena di dalam hatinya masih bersemayam maksiat-maksiat batiniyah. Maksiat-maksiat batin ini berupa sifat tercela yaitu Ujub dan Riya. Walaupun demikian adanya nafsu Lauwamah masih berusaha untuk menuju kepada Allah SWT. Cara dzikir orang dengan nafsu lauwamah adalah menggunakan kalimat “Allah-Allah”( الله – الله)

Baca Juga:  Apa Maksud dari Istilah Wara’ dalam Ilmu Tasawuf? Begini Penjelasan Para Ulama

Nafsu Malhamah, pada maqam martabat ini seorang salik akan mengalami sikap Syuhud atau penyaksikan terhadap kebesaran Allah SWT. Seorang yang sampai pada maqam ini akan mengetahui Hakikat, Iman, dan Yakin dalam hatinya kepada Allah SWT. Seorang dengan nafsu ini seyogyanya berdzikir menggunakan lafdz “Hu-Hu” (هُوَ-هُوَ)

Nafsu Muthmainnah adalah martabat “Ainul Yaqin” (penglihatan hakiki), Keimanan yang sempurna kepada Allah SWT. Pada maratabat ini akan melahirkan sifat al-Juud (Murah Hati), tawakkal (berserah diri kepada Allah SWT). Orang yang memiliki nafsu muthmainnah seharusnya menggunakan redaksi “Haq-Haq” (حَقٌّ-حَقٌ).

Nafsu ar-Radliyah, seseorang dengan nafsu radliyah akan menjadikannya Ikhlas kepada semua ketentuan Allah SWT. Mereka membenci kepada selain Allah, wara dengan takdir Allah. Syaikh Al-Falimbani menerangkan bahwa manusia dengan nafsu ini harus berdzikir menggunakan “Ya Haiyu-ya Haiyu” (ياحيُّ- ياحيُّ)

Nafsu al-Mardliyah. Pada maqam ini, seorang hamba akan menyandarkan keseluruhan urusan manusia kepada Allah. Pengetahuan dan ketentuan semuanya kembali kepada dzat penguasa Alam semesta. Dizikir yang diijazahkan oleh Syaikh al-Falimbani adalah “ya Qayyum-ya Qayyum” (يا قيوم-يا قيوم)

Nafsu al-Kamilah. Tingkatan nafsu terakhir disarankan berdzikir menggunakan lafadz “Ya Qahhar-Ya Qahhar” (يا قهار- ياقهار). Pada tingkatan nafsu ini, seorang salik akan memahami  dunia berjalan atas kehendak dan perintah Allah SWT.

Baca Juga:  Qarbu dan Bu’du, Jauhkan Dirimu dari Duniawi Agar Bisa Lebih Dekat dengan Tuhan

Tidak ada satupun makhluk yang terlepas dan berbuat dengan sendirinya kecuali telah digariskan oleh-Nya. Dia-lah yang memiliki sifat Ketuhanan Mutlak atas seluruh jagat raya.

Mohammad Mufid Muwaffaq