Mengenal Abu Manshur Al Hallaj dan Perkataan Fenomenalnya “Ana Al Haqq”

Mengenal Abu Manshur Al Hallaj

Pecihitam.org,- Abu Manshur Al Hallaj, dialah seorang sufi yang sampai sekarang tetap menunjukkan eksistensinya dalam dunia persufian terkait perkataannya “Ana al Haqq” yang masih berstatuskan “Pro dan kontra” dikalangan masyarakat terlebih dikalangan para sufi.

Sufi, satu kata inilah yang tidak pernah lepas dari dunia keislaman yang diistilahkan sebagai paham mistik Islam, tentu kata sufi ditujukan bagi mereka yang mendalami ajaran ajaran yang mengaitkan sisi kebatinan guna mencapai tingkat Ma’rifat terhadap Allah.

Hingga tak jarang kita menemui tentang sosok para sufi yang ditolak oleh para penguasa pada masanya, ataupun dikalangan masyarakat sekelilingnya terkait ajaran yang dibawanya.

Kita bisa sedikit menoleh terkait kisah Ibnu Arabi dengan konsep Wahdah Al Wujudnya, yang harus berpindah tempat dari satu ke yang lainnya dengan alasan ajaran atau corak tasawufnya yang tidak diterima oleh masyarakat pada waktu.

Persis dengan apa yang dicatat sejarah terkait persufian seorang Al Hallaj yang begitu tragis, terlebih pada proses kematiannya yang kedengaran bagai dongeng jikalau kita membacanya di buku buku sejarah yang ada.

Dialah Abu Al Mughist Al Husain bin Manshur bin Muhammad Al Baidhawi atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Manshur al Hallaj, beliau lahir di Baidha yakni sebuah kota kecil diwilayah Persia pada tahun 244 H (855).

Dimana kakeknya sendiri adalah penganut agama Zoroaster sedangkan ayahnya yang merupakan penggaru kapas (penggaru yakni istilah yang diartikan kepada mereka yang bekerja menyisir dan memisahkan kapas dari bijinya) memilih untuk memeluk agama Islam.

Al Hallaj sendiri tumbuh menjadi dewasa di kota Wasith dekat Baghdad, hingga pada usia 16 tahun ia belajar kepada seorang sufi yang terkenal dan dipercaya mempunyai kedudukan Spritual tinggi dan ahli dalam tafsir Al Qur’annya, beliau bernama Sahl bin Abdullah At Tusturi, disanalah untuk beberapa waktu Al Hallaj mengabdi demi mendalami Agama.

Baca Juga:  Inilah Bukti-Bukti Keagungan Rasulullah SAW, Mulai dari Nama Hingga Kedudukannya

Sama halnya dengan ulama ulama lain, dalam pencarian dan penggalian ilmu tentu mereka tidak hanya akan berdiam pada satu orang guru saja, melainkan terus berkelana dan mengembara dari satu guru ke guru lainnya.

Sama halnya dengan Al Hallaj, usai dua tahun belajar dengan Sahl bin Abdullah At Tusturi, beliau kembali berpindah ke Bashrah dan berguru kepada Amr bin Utsman AL Makki yang juga merupakan seorang sufi,

Sampai pada akhirnya ketika memasuki tahun 878 Masehi, beliau memasuki kota Baghdad dan belajar dengan Syaikh Al Junaid al Baghdadi yakni seorang ulama yang berkelahiran Nihawand (Persia) yang dimana keluarganya bermukim di Baghdad.

Namun siapa sangka? Dibalik pengembaraannya dari satu tempat ke tempat lain, rupanya AL Hallaj mendapatkan banyak pengikut, bahkan ketika beliau kembali ke Kota Baghdad pengikutnya semakin bertambah.

Dan hal ini dikarenakan kecaman beliau atas pemerintahan pada waktu itu, dan secara kebetulan beliau memiliki seorag sahabat yang merupakan kepala rumah tangga istana yang bernama Nashr Al Qusyairi, dan dari sinilah Al Hallaj sering mendorongnya guna melakukan pembenahan atas apa yang terjadi dalam pemerintahan.

Tentu, sebagai seorang sufi sekaligus sebagai tokoh yang sangat aktif melontarkan kritikannya terhadap penyelewengan yang terjadi pada elit kekuasaan pada waktu itu, seolah membuat para tokoh pemerintahan merasa takut bilamana pengaruh ajaran kesufiannya masuk dalam struktur politik terlebih pada berbagai kecamannya.

Baca Juga:  Biografi Abu Hasan As Syadzili, Pendiri Thariqah Syadziliah

Al Hasil ucapan Al Hallaj yang berbunyi Ana Al Haqq atau Saya adalah kebenaran, sempat menggegerkan para ulama fiqh dan tidak diberi maaf atas ucapannya tersebut yang dianggap sebagai bentuk kegilaan dan kesesatan.

Atas insiden inilah seolah dijadikan sebagai batu loncatan bagi para elit kekuasaan atau Kelas penguasa yang berseberangan dengannya pada waktu itu untuk memenjarakan beliau. Namun setahun setelah itu beliau meloloskan diri dari penjara berkat bantuan dari seorang sipir penjara namun beberapa tahun kemudian, beliau kembali tertangkap.

Hidup di dalam tahanan inilah rupanya dijadikan Al Hallaj sebagai waktu luang dan kesempatan guna menulis ajaran ajaran tasawufnya, diantara buku bukunya ialah

  1. Kitab Ath Thawasin Al Azal
  2. Kitab Ash Shaihur fi Naqsh Ad duhur
  3. Kitab Kaifa kana wa Kaifa Yakun
  4. Kitab Al ‘Abd wa Al Ma’bud
  5. Kitab Huwa Huwa

Hingga setelah menikmati panjangnya hidup dalam penjara selama  bertahun tahun (kurang lebih 8 tahun), akhirnya Al Hallaj diputuskan utuk dieksekusi mati. Sebenarnya dalam beberapa catatan sejarah terkait eksekusi yang dialami oleh AL Hallaj memiliki beberapa keragaman,

Namun secara umumnya dikatakan bahwa AL Hallaj disiksa didepan banyak orang dan dihukum diatas tiang gantungan. Namun dengan keimanan seorang Al Hallaj, rupanya penyiksaan ini tidak membuat dirinya memperlihatkan raut wajah sakit melainkan hanya terus bersyair, dimana syair yang cukup familiarnya ialah

 “Oh Tuhan, lihatlah hamba hambaMu yang telah berkumpul,
mereka menginginkan kematianku demi membela-Mu dan untuk lebih dekat dengan-Mu.

Oh Tuhan Ampuni dan kasihi mereka.
andai saja engkau menyingkapkan kelambu Wajah-Mu kepada mereka sebagaimana engkau singkapkan kepadaku,
niscaya mereka tak akan melakukan ini kepadaku
andai saja engkau turunkan kelambu wajah-Mu dariku,
sebagaimana engkau menurunkannya dari mereka, niscaya aku tak akan diuji seperti ini.


hanya engkaulah pemilik segala puji atas doa yang engkau lakukan
hanya engkaulah pemilik segala puji atas apa yang engkau kehendaki.

Usai itu, Al Hallaj kembali bergumam

Baca Juga:  Biografi KH Maimoen Zubair, Sang Ulama Kharismatik Indonesia

“Bunuhlah aku, ohh kekasih-Ku
kematianku adalah hidup-Ku
kematianku ada dalam hidup-ku
hidupku ada dalam kematianku
ketiadaanku adalah kehormatan terbesar
hidupku seperti ini tak lagi berharga
bunuhlah aku dan bakarlah aku
bersama tulang tulang yang rapuh”

Saat itulah para algojo pun mulai menjalankan tugasnya dengan mengeksekusi diri Al Hallaj dengan mengawalinya sebuah tamparan keras dari kedua pipinya. Kemudian memotong tangan dan kakinya, yang kemudian kepalanya ditebas dari pedang para algojo. Tidak sampai disana, tubuhnya dibakar yang dimana debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai tigris dan diterpa angin dan hanyut disungai itu.

Meski dianggap sesat oleh sebagian besar kalangan, namun faktanya seabad setelah kematiannya yang cukup tragis tersebut, dikatakan bahwa ada sekitaran 4.000 orang di Irak yang menamakan dirinya sebagai Hallajiyah (Pengikut Al Hallaj).

Itulah sekilas kisah seorang Abu Manshur Al Hallaj, semoga bermanfaat!

Nonna
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *