Mengenal Fiqih Melalui Kiai Bisri Syansuri

Mengenal Fiqih Melalui Kiai Bisri Syansuri

PeciHitam.org – Untuk beberapa orang, mendalami ilmu diperlukan “rolemodel“ supaya lebih termotivasi untuk memahaminya. Adapun salah satu ilmu yang harus dalami sebagai seorang muslim ialah tentang fiqih. Maka dari itu kita perlu mengenal fiqih melalui kiai Bisri Syansuri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

“Kiai Bisri terlibat sepenuhnya dalam proses konsolidasi kegiatan organisasi NU, seperti terbukti dri kiprahnya dalam mengembangkan dan mengawasi kegiatan lailatul ijtima, sebuah forum keagamaan untuk mengingat jasa mereka yang telah berpulang ke Rahmatullah..” (Gus Dur).

Kesetiaan Kiai Bisri pada fiqih, sering membuatnya tampak bersebrangan dengan karibnya, Kiai Wahab. Padahal tidak, keduanya memiliki tugas yang berbeda. Bila Kiai Bisri berperan sebagai kiai yang harus memandang dan memeriksa persoalan dalam segi fiqih murni, maka Kiai Wahab mencari solusi dari pelbagai aspek secara menyeluruh, tidak hanya aspek fiqih.

Dua pendapat ini akan ditemukan  untuk mendapatkan jalan keluar yang pas, relevan dengan keadaan, dan tidak bertentangan dengan fiqih. Kedua kiai ini saling menghormati. Saking hormatnya, kiai wahab tidak bersedia menjaadi Rais Aam di muktamar NU Bandung, tahun 1967. Padahal waktu itu, kiai wahab sudah banyak udzur karena sepuh. Selgi kiai Wahab ada, apapun keadaannya, Kiai Bisri tidak bersedia menjadi rais ‘am.

Baca Juga:  Sayyidah Nafisah binti Hasan, Cicit Rasulullah Guru Imam Syafii

Sebagai murid terkasih Mbah Hasyim Asy’ari dan sebagai sahabat karib Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri terlibat aktif dalam melahirkan Nahdlatul Ulama. Mula-mula Kiai Bisri diajak mendirikan Nahdlatut Tujjar oleh Kiai Wahab.

Ketika rezim Wahabi di Saudi semakin keras menolak pemahaman orang-orang bermadzhab dan menganut pemirikannya mereka, Kiai Wahab dan Kiai Bisri berkeliling ke Jawa, dari Banyuwangi hingga ke Menes banten, guna mensosialiasi pemikiran-pemikiran keagamaan yang menghormati orang bermadzhab.

Setelah solid, terbentuklah komite hijaz, sebuah kepanitiaan yang mengajukan konsep beragama yang menghargai paham lain, kebebasan menjalankan ibadah haji dan penolakan penghancuran situs-situs bersejarah di Mekkah dan Madinah, termasuk kuburan Rasulullah.

Komite hijaz menjadi salah satu titik tolak lahirnya NU, 31 Januari 1926. Diceritakan, pada hari-hari menjelang berdirinya NU di Surabaya itu, di saat kiai dan ulama dari seluruh Jawa, Madura, Kalimantan Selatan sudah berkumpul, Mbah Hasyim masih di Jombang, belum yakin atas gagasan mendirikan NU. Maka, Kiai Bisrilah yang diminta menjemput Mbah Hasyim Asyari dari Jombang untuk berangkat ke Surabaya. Gus Dur memberi catatan, hanya Kiai Bisrilah yang dapat meyakinkan gurunya atas berdirinya NU.

Baca Juga:  Syaikh Wahbah al Zuhaili, Ulama Kontemporer Ahli Fiqih dan Tafsir

Pasca berdirinya NU, Kiai Bisri terlibat langsung mengikuti pergerakan organisasi sebagaimana karibnya, Kiai Wahab. Kiai Bisri tercatat sebagai penggerak Lailatul ijtima’, wadah konsolidasi jamaah. Ia sangat tekun dan istikomah dalam menggerakkan majlis tersebut. Majlis tersebut mengumpulkn para aktifis NU pada malam hari, umumnya sebulan sekali, baik di tingkat kecamatan hingga tingkat kabupaten. Lailatul ijtima berisi tahlilan, kirim doa kepada yang sudah meninggal, hingga perbincangan seputar organisasi.

Kiai Bisri juga terlibat aktif dalam pemerintahan. Pada tahun 1946, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), anggota konstituante, DPR-GR, dan anggota DPR pasca pemilu 1971.

Semasa menjadi DPR, Kiai Bisri berhasil membuat RUU Perkawinan tandingan yang lebih sesuai dengan ketentuan fiqih. Ketika sidang umum MPR tahun 1977, sikap Kiai Bisri yang juga diikuti anggota dari Fraksi Persatuan Pembangunan, yang tidak setuju pemberian status aliran kepercayaan, membuat sidang menjadi goyah. Kiai Bisri memelopori walkout, sebagai bagian dari sikap menolak.

Baca Juga:  Sekilas Tentang Sosok Syaikh Ali Jum'ah, Sang Mufti Agung Republik Arab Mesir

Ia menempati kedudukan tertinggi NU sebagai Rais Aam, setelah Kiai Wahab wafat tahun 1973. Kiai Bisri wafat pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1400 atau 24 April 1980 di usianya yang ke 94 tahun. Ia dimakamkan di tempat perjuangannya, Pesantren Denanyar, Jombang.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published.