Mengenal Kelompok Syiah: Ghulat, Ismailiyah, Zaidiyah, Hingga Itsna ‘Asyariyah

kelompok syiah

Pecihitam.org – Jika pada pembahasan sebelumnya sudah diulas tentang bagaimana Sejarah Lahirnya Aliran Syiah, yang bisa dibaca di sini, maka selanjutnya kita akan mengenali Macam-macam Kelompok Syiah yang ada di Dunia ini.

Kendati Syiah telah terbagi-bagi dalam kelompok yang jumlahnya hampir tidak terhitung, tetapi menurut al-Baghdadi (w.429 H), pengarang kitab al-Farqu baina al-Firaq, secara umum mereka terbagi menjadi empat kelompok dan masing-masing dari keempat kelompok tersebut terbagi pula menjadi beberapa kelompok kecil.

Hanya dua kelompok di antara mereka itu yang dapat dimasukkan ke dalam golongan umat Islam, yaitu kelompok az-Zaidiyah dan al-Imamiyah. Demikian menurut al-Baghdadi.

Muhammad Abu Zahrah, seorang ulama Ahlussunnah, menulis bahwa “Kelompok Syiah yang keluar dari ajaran Islam kini telah punah dan tak ada lagi pengikutnya.”

Secara umum mereka dinamai Ghulat (kelompok Ekstremis). Yang masih bertahan dari kelompok Syiah dewasa ini dan dalam jumlah yang besar hanyalah al-imamiyah yang dinamai juga al-Itsna ‘Asyariyah. Mereka tersebar di Iran, Irak, juga sebagian penduduk Afghanistan, Suriah, Pakistan, dan beberapa negara lain; dan az-zaidiyah yang sampai sekarang masih banyak bermukim di Yaman.

Di samping kedua kelompok yang dinilai tetap beradadalam koridor Islam itu,ada lagi kelompok keempat yang warnanya “abu-abu”. Mereka adalah Syiah lsma’iliyah yang juga memiliki banyak cabang. Jadi dapat kita tetapkan bahwa ada empat kelompok Syiah, sebagaimana pembagian al-Baghdadi di atas, yaitu sebagai berikut:

  • Ghulat (Ekstremis).
  • Ismailiyah
  • Zaidiyah.
  • Itsna ‘Asyariyah.

Inilah 4 Kelompok Syiah dan Cabangnya Masing-masing

Berikut ini adalah gambaran sekilas mengenai kelompok-kelompok Syiah yang sudah disebutkan sebelumnya di atas.

1. Syiah Ghulat

Syiah kelompok (ekstremis) ini hampir dapat dikatakan telah punah. Mereka antara lain adalah:

As Sabaiyah

Menurut asy-Syahrastany, mereka adalah pengikut-pengikut Abdullah bin Saba’ yang konon pernah berkata kepada Sayyidina Ali: “Anta Anta,” yakni Engkau adalah Tuhan. Dia juga menyatakan dan memopulerkan keyakinan bahwa Sayyidina Ali ra. memiliki tetesan ketuhanan. Dia menjelama melalui awan. Guntur adalah suaranya, kilat adalah senyumnya. Dia kelak akan turun kembali ke bumi untuk menegakkan keadilan sempurna.

Aliran kepercayaan yang serupa dengan ini bermacam-macam dan bercabang-cabang pula.

Al-Khaththabiyah

Mereka adalah penganut aliran Abu al-Khaththab al-Asady, yang menyatakan bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq dan leluhurnya adalah Tuhan. Imam Ja’far sendiri mengingkari bahkan mengutuk kelompok ini. Karena sikap Imam Ja’far yang tegas itu, maka punpinannya, yakni Abu al-Khaththab, mengangkat dirinya sebagai imam. Ia mengajarkan bahwa para nabi adalah Tuhan, bahkan Imam Ja’far dan para leluhur beliau pun dijadikannya Tuhan.

Al-Khaththabiyah terbagi juga pada sekian kelompok yang berbeda-beda. Sebagian di antara mereka percaya bahwa dunia itu kekal, tidak akan binasa; surga adalah kenikmatan duniawi, mereka tidak mewajibkan shalat dan membolehkan minuman keras.

Al-Ghurabiyah

Cabang kelompok ini, antara lain, percaya bahwa sebenarnya Allah mengutus malaikat Jibril as. kepada Ali bin Abi Thalib ra., tetapi malaikat itu keliru atau bahkan berkhianat sehingga menyampaikan Wahyu kepada Nabi. Karena itu, mereka mengutuk malaikat Jibril as. sambil berkata: “Khana al-Amin/Yang dipercayai telah berkhianat.”

Ali Syariati, pemikir Syiah kontemporer, berkomentar: “Jika Jibril memang salah dalam menyampaikan wahyu yang pertama kali, mengapa ia mengulangi kesalahannya selama dua puluh tiga tahun? (Yakni sejak masa turunnya wahyu pertama hingga terakhir). Atau jika Jibril telah berkhianat, mengapa Allah tidak memecatnya dari tugasnya sebagai penyampai wahyu?”

Al-Qaramithah

Kelompok ini dinisbahkan kepada seseorang yang bermukim di Kufah, Irak, yang bernama Hamdan Ibn al-Asy’ast, dan dikenal luas dengan gelar Qirmith (si Pendek), karena perawakan dan kakinya sangat menonjol pendeknya. Kelompok ini pada mulanya adalah kelompok yang terpengaruh oleh aliran Syiah Ismailiyah (yang sebentar akan dijelaskan juga) .

Keyakinan mereka sangat sesat dan ekstrem. Mereka, antara lain, menyatakan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. adalah Tuhan; bahwa setiap teks mempunyai makna lahir dan makna batin, dan yang penting adalah makna batinnya. Mereka menganjurkan kebebasan seks dan kepemilikan wanita dan harta secara bersama, dengan dalih mempererat hubungan kasih sayang. Mereka juga membatalkan kewajiban shalat dan puasa.

Ini antara lain yang menjadikan kelompok induk mereka, yakni Syiah Ismailiyah pun mengutuk mereka. Al-Qaramithah pernah berkuasa di Bahrain dan Yaman, bahkan di bawah pimpinan Abu Thaher al-Qurmuthy, mereka pernah menyerbu dan menguasai Mekkah pada 930 M. Ketika itu, mereka menganiaya jamaah haji karena mereka beranggapan bahwa ibadah haji adalah sisa-sisa praktik Jahiliyah, berthawaf dan menghormati/mencium Hajar al-Aswad adalah syirik, dan karena itu mereka merampas Hajar al-Aswad.

Mereka pada akhirnya dikalahkan oleh al-Mu’iz al-Fathimy ketika mereka menyerbu ke Mesir pada 972 M, lalu dipunahkan sama sekali di Bahrain pada 1027 M.

Masih banyak lagi cabang-mbang dari kelompok ekstrem ini, seperti al-Manshuriyah, an-Nushaiziyah, al-Kayyaliyah, Al-Kaisdniyah, dan masih banyak lainnya yang dapat mencapai puluhan dengan aneka cabang dan pecahan-pecahannya dan yang disimpulkan oleh asy-Syahrastany sebagai “kelompok-kelompok yang meiampaui batas dalam keyakinan mereka tentang imam-imam mereka sehingga menjadikan imam-imam itu keluar dari batas-batas kemakhlukan/kemanusiaan. Mereka mempersamakan imam-imam itu dengan Tuhan, sebaliknya ada juga di antara mereka yang mempersamakan Tuhan dengan makhluk.

Jika kelompok Syiah yang sesat dan menyesatkan ini belum punah sama sekali, maka kemungkinan besar pengikutnya amat sedikit dan tidak lagi memiliki peranan atau pengaruh yang besar.

Baca Juga:  Inilah Kebiasaan Buruk Yang Sama-sama Dilakukan oleh Wahabi dan Rafidhoh

2. Syiah Ismailiyah dan Cabang-cabangnya

Kelompok Syiah Ismailiyah hingga kini masih memiliki pengikut-pengikut setia, namun sebagian dari kelompok-kelompoknya memiliki pandangan-pandangan yang dapat dinilai menyimpang. Kini, Syiah Ismailiyah tersebar dalam kelompok minoritas di sekian banyak negara, antara lain Afghanistan, India, Pakistan, Suriah, dan Yaman, serta beberapa negara Barat, seperti di Inggris dan Amerika Utara.

Kelompok Syiah Ismailiyah meyakini bahwa Ismail, putra Imam Ja’far ash-Shadiq, adalah imam yang menggantikan ayahnya (Ja’far ash-Shadiq) yang merupakan imam keenam dari aliran Syiah secara umum. Memang setelah meninggalnya Imam Ja’far, sekelompok penganut Syiah percaya bahwa putra beliau, Musa al-Kadzim adalah imam ketujuh, sebagaimana kepercayaan Syiah Itsna ‘Asyariyah.

Sedang kelompok lainnya mempercayai bahwa Ismail, kemudian putranya, Muhammad, adalah Imam sesudah ayah mereka, padahal Ismail wafat lima tahun sebelum wafatnya sang ayah (Imam Ja’far).

Ismail bin Ja’far ash-Shadiq menurut kelompok ini sebenarnya belum wafat, kelak dia akan tampil kembali di pentas bumi ini. Kedatangannnya dinantikan oleh kelompok Ismailiyah, sebagaimana kelompok Syiah Itsna ‘Asyariyah-dan sebagian kelompok Ahlussunnah-menantikan kehadiran Imam Mahdi.

Dalam sekian banyak riwayat, dikemukakan bahwa Imam Ja’far telah berupaya untuk menegaskan tentang kematian putranya itu, antara lain dengan menulis keterangan tentang wafatnya yang disaksikan oleh penguasa setempat. Ini agaknya untuk menutup jalan bagi kelompok Syiah Ghulat (ekstremis) agar tidak menduga bahwa sang anak akan kembali.

Tetapi kendati demikian, ada saja pengikut-pengikut Syiah yang menyimpang dari ajaran beliau dan lahirlah tiga kelompok yang berbeda dari pengikut Imam Ja’far.

Kelompok pertama adalah Syiah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah) yang memercayai bahwa Musa al-Kadzim adalah Imam ketujuh setelah ayah beliau, Ja’far ash-Shadiq, dan ini berlanjut pada anak cucunya hingga mencapai seara kesuluruhan dua belas imam.

Kelompok kedua adalah mereka yang percaya bahwa Ismail, putra Ja’far, adalah imam yang menghilang guna menghindari kejaran penguasa Abbasiyah, tapi akan datang pada waktunya.

Kelompok ketiga adalah pengikut yang percaya bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq memang menetapkan putra beliau Ismail sebagai imam, tetapi itu untuk menunjukkan bahwa putra Ismail yang bernama Muhammad yang menjadi imam, karena Ismail wafat sebelum wafatnya Imam Ja’far. Kelompok keti ga ini dinamai al- Mubarakiyah.

Syiah Ismailiyah dinamai juga Syi’ah Sab’iah (Syiah Tujuh), karena mereka hanya memercayai tujuh orang imam sejak Sayyidina Ali ra. dan berakhir pada Muhammad, putra Ismail (putra Ja’far ash-Shadiq). Mereka juga digelari dengan al-Bathiniyah, karena mereka percaya bahwa al-Qur’an dan Sunnah mempunyai makna lahir dan makna batin (tersembunyi). Makna lahir adalah kulit, sedang makna batin adalah inti.

Kelompok Syiah Ismailiyah pernah berkuasa di Mesir dan menyebarkan pengaruhnya di wilayah Mediterania, bahkan pada 450 H/ 1058, mereka menguasai Baghdad, yang ketika itu menjadi ibukota saingan mereka, Dinasti Abbasiah. Kekuasaan penganut Syiah Ismailiyah sangat menonjol pada masa Fathimiyah, lebih-lebih dalam bidang ilmiah dan dakwah. Cairo, yang menjadi pusat pemerintahan mereka, juga menjadi pusat kegiatan ilmiah di mana lahir Dar al-Hikmah dan al-Azhar.

Pengaruh Ismailiyah yang demikian besar menyebabkan dinasti-dinasti non-Syiah berseberangan dengan mereka. Nah, ini memperlemah kedudukan mereka, ditambah lagi dengan perpecahan internal, yang pada akhirnya setelah kematian/pembunuhan al-Hakim pada 411 I-I/1021 M, sekelompok penganut Ismailiyah memisahkan diri sambil tetap setia kepada al H-hakim. Kelompok ini dikenal dengan nama kelompok Druz. Dewasa ini kelompok tersebut banyak bermukim di Lebanon.

Akidah pokok kelompok ini adalah memercayai bahwa al-Hakim bi Amrillah (985 M-1021 M) adalah Tuhan. Menurut mereka hakikat ketuhanannya tidak dapat dijangkau oleh nalar dan indra. Mereka juga memercayai adanya reinkarnasi. Mereka tidak percaya kepada hal-hal gaib, seperti surga dan neraka, malaikat dan jin. Al-Hakim bi Amrillah dikenal sangat kejam dan sewenang-wenang sehingga akhirnya terbunuh. Perlu dicatat bahwa dewasa ini sementara cendekiawan Druz enggan dinilai sebagai kelanjutan dari Syiah Ismailiyah.

Perpecahan di kalangan Ismailiyah menjadi lebih parah lagi setelah kematian al-Mustanshir (487 H/1094 M). Kelompok Ismailiyah yang bermukim di Iran dan beberapa bagian di Suriah mendukung putra al-Mustanshir yang tertua, yaitu Nizar, sementara di Mesir, Yaman, dan beberapa wilayah di India meyakini bahwa adik lelaki Nizar, yaitu al-Musta’ly, telah ditunjuk oleh ayahnya sebagai imam.

Kelompok pertama di namai Ismailiyah Nizary dan yang kedua Ismailiyah Musta’ly. Perpecahan mereka menjadikan Dinasti Fathimiyah, khususnya di Mesir, runtuh berantakan walaupun upaya-upaya mempertahankan ajarannya menjadi lebih agresif di luar Mesir.

Pada mulanya pusat gerakan Ismailiyah Nizary berada di Alamut, pegunungan Alborz, di Iran Utara. Benteng ini direbut pada 483 H/ 1090 M. Mereka memiliki kekuasaan dan mampu bertahan selama lebih dari 150 tahun. Tetapi konfrontasi dengan kekuasaan Mongol mengakibatkan hancurnya kekuasaan mereka-khususnya di Iran-dan para penganutnya berpencar, namun mereka tetap memiliki organisasi yang menjalin hubungan antara mereka.

Pada abad ke-13 H/19 M, kelompok Ismailiyah Nizary percaya bahwa imam pada masa itu adalah Hasan Ali Syah, yang dijuluki juga dengan Agha Khan, yang semakna dengan imam. Ia pindah dari Iran ke India.

Selanjutnya, pada abad kedua puluh ini Syiah Ismailiyah memiliki dua imam yang sangat aktif peranannya memimpin kaum Ismailiyah Nizary dan juga dalam kegiatan internasional. Yang pertama adalah Sir Sulthan Muhammad Syah, yang diigelari dengan Agha Khan Kedua (1877-1957 M) dan Syah Karim Husaini (1936 M) dan dingkat menjadi Agha Khan Keempat pada 1958.

Baca Juga:  Ini Tanggapan Atas Tuduhan Syiah Terhadap Prof Quraish Shihab

Demikian uraian sepintas tentang Syiah Ismailiyah pendukung Nizar putra al-Muntashir (Ismailyah Nizary).

Adapun pendukung al-Musta’ly, serta penerusnya yaitu putranya, al-Amir. Setelah kematian al-Amir timbul’perpecahan di antara mereka. Sebagian mendukung ath-Thayyib-putra al-Amir, yang ketika itu masih bayi-sebagai imam dan sebagian lainnya mendukung paman sekaligus wali al-Amir, yang bernama Abdulmajid. Pengaruh Abdulmajid sirna dengan dikuasainya Mesir oleh kaum Ayyubiyah yang bermadzhab Sunni, sementara pendukung ath-Thayyib percaya bahwa ath-Thayyib hidup dalam persembunyian dan akan muncul pada masanya nanti (serupa dengan kepercayan Imamiyah tentang Imam kedua belas al-Mahdi). Sebelum munculnya ath-Thayyib, urusan keagamaan dan penyebarannya diserahkan kepada Seseorang yang dinamai Daiy Muthlaq.

Pusat kelompok ini ketika itu berada di Yaman, namun karena ndak diterima oleh mayoritas masyarakat Yaman yang bermadzhab Syiah Zaidiyah, maka akhirnya mereka hijrah ke India. Hingga kini Penganut Ismailiyah Musta’ly atau tepatnya Ismailiyah ath-Thayyiby bermukim di provinsi Gujarat, Maharashtra, dan sekian kota besar lainnya di India dan Pakistan. Mereka dikenal juga dengan Bohara yang menunjuk pada pekerjaan mereka sebagai pedagang dan saudagar.

Pada tahun enam puluhan kelompok ini menghadiahkan sekian banyak perhiasan emas dan permata untuk menghiasi makam Sayyidina al-Husain, yang kepalanya dikebumikan di Cairo, karena mereka-sebagaimana semua kelompok Syiah yang lain-percaya bahwa Sayyidina al-Husain adalah imam ketiga kaum Syiah.

3. Az-Zaidiyah

Az-Zaidiyah adalah kelompok Syiah pengikut Zaid bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib ra. Beliau lahir pada 80 H dan terbunuh pada 122 H. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat taat beribadah, berpengetahuan luassekaligus revolusioner.

Imam Zaid lahir dan dibesarkan, bahkan hidup dalam kondisi sosial yang tidak menyenangkan semua orang yang hendak mengarah kepada Allah dan yang mendambakan keadilan.

“Kota Madinah,” tulis Muhammad ‘Imarah, Guru besar Universitas al-Azhar Mesir, “kota Rasul saw., tempat memancarnya cahaya kebenaran dan keadilan ketika itu tidak lagi memiliki peranan yang berarti. Bahkan kota tersebut diserang oleh pasukan Yazid, putra Mu’awiyah, yang dipimpin oleh Muslim bin ‘Uqbah, menghalalkan segala cara untuk menumpas lawan-lawannya termasuk membunuh, mcncincang, merampok, membakar, bahkan memperkosa wanita. Tidak dapat disangkal bahwa dinasti Bani Umayyah telah membangun satu negara besar dan meme pcrluas wilayah kekuasaan Islam, tetapi keberhasilan dalam bidang politik itu, dibayar dengan mengorbankan keadilan yang oleh Allah swt. ditegaskan bahwa penegakan keadilan adalah tujuan dari diturunkannya kitab-kitab suci dan diutusnya para rasul. Bani Umayyah telah melakukan perombakan terhadap falsafah hukum Islam, yakni menjadikan kekuasaan sebagai hak turun temurun Setelah sebelum itu adalah Syura. Mereka melakukan aneka Penganiayaan sehingga kezaliman merajalela, menyeluruh, dan menjadi dasar pemerintahan, sedang keadilan yang menjadi tujuan, beralih menjadi pengecualian yang langka. Di sisi lain, kalau tadinya Islam datang menekankan persaudaraan Islam, maka kebijakan Dinasti ini adalah menonjolkan fanatismse Arab yang sempit. Walhasil, dinasti ini telah mencapai puncak penganiayaan dan penindasan terhadap semua yang berusaha mengembalikan nilai-nilai yang pernah subur pada masa Nabi dan sahabat-sahabat beliau. Nah, dalam situasi semacam itulah Imam Zaid lahir dan dibenarkan.”

Demikian gambaran singkat dari apa yang dikemukakan oleh Muhammad ‘Imarah ketika memperkenalkan Imam Zaid yang ajarannya kemudian menjadi anutan Syiah Zaidiyah.

Setelah tragedi Karbala (680 M), di mana Imam al-Husain, putra Sayyidina Ali ra., tampil memerangi penguasa yang dinilai berlaku aniaya, yaitu Yazid, putra Muawiyah (645-683 M). Tetapi akhimya terbunuh bersama seluruh keluarga beliau dengan cara yang sangat mengerikan, sesudah kegagalan gerakan at-Tawwabin di Irak yang dipimpin oleh Sulaiman bin Shard (595-684 M), juga setelah kegagalan Muhkhtar ats-Tsaqafi (622-687 M), serta kegagagalan gerakan-gerakan pemberontakan lainnya –baik dari kalangan Syiah maupun selainnya-yang semuanya dihadapi’dengan tangan besi tanpa kasih, maka di kalangan Syiah timbul pertanyaan mendasar, Yakni: Apakah mereka tetap akan menempuh cara revolusioner melawan pemerintah yang zalim, walau dengan pengorbanan yang amat besar, ataukah berdiam diri, menyerahkan persoalan kepada Allah semata, walau itu berarti berlanjutnya penganiayaan dan penindasan terhadap masyarakat, khususnya Ahl al-Bait?

Sementara pengikut Syiah memilih untuk tidak terlibat sama sekali dalam pergolakan politik, berdiam diri, melakukan taqiyah terhadap penguasa yang zalim demi memelihara diri sambil berdakwah dengan keteladan yang baik. Sikap inilah yang dianut oleh Imam Ali Zainal Abidin, satu-satunya anak Sayyidina al-Husain, yang selamat dari pembntaian di al-harrah Karbala.

Sikap Imam Ali Zainal Abidin itu serupa dengan sikap paman beliau, Sayyidina al-Hasan, putra bin Abi Thalib, yang mengakui kekuasaan Muawiyah demi kedamaian dan memelihara kesatuan umat Islam. Sikap itulah yang dilanjutkan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq, putra Muhammad al-Baqir, dan berlanjut hingga imam-imam Syiah Itsna ‘Asyariyah selanjutnya.

Sedang sikap kedua, yakni tampil melakukan perlawanan dianut oleh Imam Zaid, putra Imam Ali Zainal Abidin sekaligus paman Imam Ja’far ash-Shadiq, dan yang kemudian melahirkan Syiah Zaidiyah
Sikap Zaid yang berbeda dengan sikap ayah dan kemenakannya itu diambil setelah melihat dalam kenyataan bahwa walaupun mereka sudah tidak aktif berpolitik, namun penganiayaan dan penghinaan terhadap mereka tetap saja berlanjut.

Demikianlah sehingga perlawanan menghadapi penguasa-penguasa yang berlaku aniaya merupakan dasar Utama lahirnya Syiah Zaidiyah. Mereka lebih merujuk kepada Sayyidina Ali ra. (Imam pertama) dan Sayyidina al-Husain (Imam ketiga Syiah) di mana keduanya tampil memerangi kezaliman walaupun dengan jumlah terbatas dan berakibat pada gugurnya mereka.

Baca Juga:  Propaganda Dibalik Kata Syiah Bukan Islam oleh Mereka Yang Berlagak Tuhan

Syiah Zaidiyah menetapkan bahwa imamah dapat diemban oleh siapa pun yang memiliki garis keturunan sampai dengan Fathimah, putri Rasul saw., baik dari keturunan putra beliau, al-Hasan bin Ali, maupun al-Husain, dan selama yang bersangkutan memiliki kemampuan keilmuan, adil, dan berani-keberanian yang mengantarnya mengangkat senjata melawan kezaliman Karena itulah mereka mengumumkan dan memilih Zaid, putra Ali Zainal Abidin, daripada Imam Ja’far ash-Shadiq yang kendati ilmunya melebihi Zaid bahkan “membimbing Zaid”, namun karena beliau enggan mengangkat senjata, maka mereka menilainya tidak wajar menjadi imam. Bahkan jangankan kemanakan Imam Zaid, yakni Imam Ja’far, ayah Zaid pun, yakni Imam ‘Ali Zainal Abidin, tidak diakui sebagai imam oleh Syiah Zaidiyah, karena keengganan beliau mengangkat senjata.

Imam-dalam pandangan Zaidiyah-setelah gugumya Zaid, beralih kepada putranya, Yahya, lalu kepada sejumlah orang, baik dari keturunan yang bersangkutan maupun selalunya selama dia memiliki garis ketururan yang bersambung kepada putri Nabi, Fathimah, dan selama dia tampil mengangkat senjata melawan penguasa yang zalim. Bahkan az-Zaidiyah membenarkan adanya dua atau tiga imam dalam dua atau tiga kawasan yang berjauhan. Agaknya tujuannya adalah untuk memperlemah kekuatan penguasa yang zalim.

Syiah Zaidiyah kendati bekeyakinan bahwa bahwa Ali bin Abi Thalib ra. adalah sahabat Nabi yang termulia, bahkan melebihi kemuliaan Abubakar dan Umar dan Utsman ra., namun mereka mengakui sahabat-sahabat Nabi itu sebagai khalifah-khalifah yang Sah. Karena itulah dan karena keengganan mereka mempersalahkan Para sahabat Nabi itu, apalagi mencaci dan mengutuk mereka, maka Peugikut-pengikut Imam Zaid dinamai dengan ar-Rafidhah, yakni penolak (untuk) menyalahkan dan mencaci.

Imam Zaid berguru, antara lain, kepada Washil bin Atha’. tokoh aliran Mu’tazilah, yang dikenal sangat rasional, karena itu banyak pandangan Zaidiyah yang sejalan dengan aliran Mu’tazilah, seperti al-Manzilah baina al-Manzilatain, dan Kebebasan kehendak manusia. Mereka-tidak seperti Syiah yang lain-menolak menggunakan taqiyah, tidak juga menyatakan bahwa para imam mengetahui ghaib dan tidak juga menetapkan ‘ishmah (keterpeliharaan dari dosa dan kesalahan) bagi para imam.

Mereka tidak mengakui adanya ilmu khusus dari Allah kepada imam-imam atau tepatnya pemimpin-pemimpin mereka sebagaimana kepercayaan Syiah yang lain, termasuk Syiah Imamiyah, sebagaimana mereka tidak mengakui adanya Raj’ah, yakni kembalinya hidup orang-orang tertentu ke pentas bumi ini dan dengan demikian mereka tidak mengakui adanya seseorang tertentu yang dinamai Imam Mahdi. Siapa pun yang adil, berpengetahuan, berani dan tampil mengangkat senjata melawan kezaliman maka ia adalah al-Mahdi.

Az-Zaidiyah dalam konteks menerapkan hukum menggunakan al-Qur’an dan Sunnah, dan nalar. Mereka tidak membatasi penerimaan hadits dari keluarga Nabi semata-mata, tetapi mengandalkan juga riwayat-riwayat dari sahabat-sahabat Nabi yang lain.

Demikian sekelumit dari pandangan Syiah Zaidiyah yang dinilai sebagai kelompok Syiah yang paling dekat dengan Ahlussunnah wa al-Jama’ah.

Muhammad ‘Imarah, cendekiawan Mesir kontemporer, menukil dari buku Talhkish Muhassal Afkar al-Mutaqaddimin wa al-Mutaakhkhirin, karya Nashiruddin ath-Ththusy, mengatakan bahwa Syiah Zaidiyah menganut paham Mu’tazilah dalam bidang prinsip’ prinsip ajaran agama (akidah), bahkan mereka mengagungkan tokoh-tokoh Mu’tazilah melebihi pengagungan mereka terhadap imani-imam Syiah Itsna ‘Asyariyah. Sedang dalam hukum-hukum yang berkaitan dengan rincian ajaran agama, mereka banyak sejalan dengan pandangan mazhab Abu Hanifah dan sedikit dengan mazhab Syafi’i.

Tidak heran jika dalam sekian banyak pesantren di Indonesia, beberapa buku karya ulama-ulama Zaidiyah di jadikan rujukan, misalnya buku Nail al-Authar dalam bidang hadits dan interperetasinya, Irsyad al-Fuhul dalam bidang Ushul Fiqih, karya ulama Yaman kenamaan, Muhammad bin Ali asy-Syaukani (1760-1834 M).

Sementara pakar menilai bahwa az-Zaidiyah memiliki juga beberapa pecahan yang berbeda beda. Ada yang menyatakan bahwa pecahan tersebut mencapai belasan dan ada juga yang membatasinya pada tiga, yakni al-jarudiyah, as-Sulaimaniyah, dan ash-Shalihiyah.

4. Syiah Itsna ‘Asyariah

Syiah Itsna ‘Asyariah, biasa juga dikenal dengan nama Imamiyah atau Ja’fariyah, adalah kelompok Syiah yang memercayai adanya dua belas imam yang kesemuanya dari keturunan Ali bin Thalib dan Fathimah az-Zah ra’, putri Rasulullah saw.

Kelompok ini merupakan mayoritas penduduk Iran, Irak, serta ditemukan juga di beberapa daerah di Suriah, Kuwait, Bahrain, India, juga di Saudi Arabia, dan beberapa daerah (bekas) Uni Sovyet.

Karena kelompok ini merupakan mayoritas dari kelompok Syiah, maka sewajarnya mereka dan pendapat-pendapat merekalah yang seharusnya diketengahkan ketika berbicara tentang Syiah secara umum, bukannya pendapat ketiga kelompok tersebut di atas, Ghulat, Isma’iliyah, dan Zaidiyah.

(Kutipan tulisan Bapak Prof. M Quraish Shihab dalam bukunya Sunnah Syiah – Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

Muhammad Ali

Santri Aswaja An Nahdliyyah at Pecihitam Store
Hanya seorang santri yang ingin mengambil peran dalam menebarkan Nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin ala Aswaja Annahdliyyah
Muhammad Ali