Mengenal Khabar Ahad: Hadits yang Diterima dan Disampaikan oleh Satu Perawi

khabar ahad

Pecihitam.org – Khabar (Hadits) yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW baik perkataan, perbuatan, taqrir serta sifat. Khabar ahad, yaitu hadits dengan riwayat yang diterima dan disampaikan dari satu orang perawi. Sedangkan menurut terminologi Khabar Ahad ialah hadist yang tidak memenuhi syarat-syarat tertentu untuk mencapai tingkat mutawatir.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ahad di ambil dari bahasa arab yaitu واحد, bentuk jama’nya adalah آحاد yang berarti satu. Hadits ahad tidaklah seperti hadits mutawatir yang memiliki banyak perawi di setiap sanadnya sehingga mustahil adanya plagiasi atau persekongkolan untuk memalsukan atau berbohong terhadap hadits Rasulullah SAW.

Dengan demikian hadits ahad memberi faidah ilmu nadzhori yaitu ilmu yang diperlukan dalam penelitian dan pemeriksaan terlebih dahulu, apakah jumlah perawi pada setiap tobaqot sanadnya memiliki sifat-sifat yang dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.

Kemudian setelah adanya penelitian terhadap perawi yang ada dalam hadits ahad tersebut barulah para ulama bisa menentukan tingkat kualitas hadits ahad tersebut, apakah sohih, hasan, dan dhoif.

Khabar ahad dibagi menjadi beberapa bagian;

Pertama, Hadits mansyur

Secara bahasa berasal dari kataشهر يشهر شهرة ومشهور yang memiliki arti yang sama dengan ظهر atau أعلن yang artinya adalah tenar, terkenal dan menampakkan.

Hadits mansyur ada dua yaitu mansyur istilahi dan ghairu istiilahi. Masyhur istilahi adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang lebih dari beberapa tingkatan sanad namun sampai pada kriteria mutawatir. Hadits masyhur goiru istilahi tidak disyaratkan seperti yang demikian.

Kadang hadits masyhur istilahi datang dengan 2 sanad, kadang dengan 1 sanad, bahkan kadang ada hadist mansyur goiru istilahi yang datang tanpa sanad yang sering kita dengar pada kajian kutubussittah kata-kata لا اصل له.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 7 - Kitab Iman

Kedua, Hadits Aziz

Dari segi bahasa kata aziz bersifat Musyabbahah dari kata عز يعز yang berarti قل و نذر atau dari kata عز يعز yang berarti قوي واشتد berarti kuat. Diberi nama aziz yang berarti langka, sedikit dan kuat. Sedikit atau langka yang kemudian posisinya menjadi kuat. Adapun secara istilah yaitu الذى يكون فى طبقة من طبقات سنده راويان فقط hadits yang satu tingkatan dari beberapa tingkatan sanadnya terdapat dua orang saja.

Ketiga, Hadits Ghorib

Kata ghorib dalam bahasa sifatnya juga musyabbahah yang berarti sendirian atau munfarid/mufrod jauh dari kerabat, asing dan sulit dipahami. Kalau dalam ilmiah seperti introvert. Secara istilah
ما تفرد به راو واحد فى أي طبقة من طبقات السند hadits yang berdiri sendiri, seorang perawi dimana saja tingkatannya dari beberapa tingkatan yang ada.

Nama lain dari hadits ghorib adalah fardun, yang dalam bahasa artinya tunggal atau satu. Adapun macam dari hadits ghorib yaitu ghorib mutlak dimana hadis yang gharobahnya (perawi atau satu orang) terletak pada pokok sanad.

Pokok sanad adalah ujung sanad yaitu seorang sahabat. Kemudian ghorib nishby yang artinya hadits yang ghurobah atau perawinya satu orang ditengah sanad, misalnya:

عن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة و على رأسه المغفر

Dari anas ra. Bahwa nabi masuk ke kota Makkah diatas kepalanya mengenakan igal. (HR. Bukhari Muslim)

Menurut para ulama gharib nishby dibagi menjadi tiga:

  • Muqoyyadbiats-tsiqah, yang berarti keghoriban perawi hadits dibatasi pada sifat ke istiqohan seseorang atau beberapa orang perawi saja.
  • Muqoyyadbial-balad, sebutah hadis ini hanya diberikan pada hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok penduduk tertentu sedangkan tidak oleh penduduk yang lainya.
  • Muqoyyad’ala ar rawi, periwayatan hadis ini dibatasi dengan perawi hadis tertentu, misalnya hadis dari Sufyan bin Uyaynah dari Wa’il bin Dawud dari putranya Bakar biWa’il dari Az-Zuhri dari Anas.
Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 79 – Kitab Ilmu

Dalam kitab al-Risalah juz dua, Imam Syafii menuliskan bab khusus tentang Khabar Ahad. Bab ini dimulai dengan dialog sebagai berikut:

‎فقال لي قائل: احْدُدْ لي أقلَّ ما تقوم به الحجة على أهل العلم، حتى يَثْبَتَ عليهم خبرُ الخاصَّة. ‎فقلت: خبرُ الواحد عن الواحد حتى يُنْتَهَى به إلى [ص: ٣٧٠] النبي أو مَنْ انتهى به إليه دونه. ‎ولا تقوم الحجة بخبر الخاصة حتى يَجْمَعَ أُموراً: ‎- منها أن يكون مَنْ حدَّثَ به ثِقَةً في دينه، معروفاً بالصِّدق في حديثه، عاقِلاَ لِمَا يُحَدِّثُ به، عالمِاً بما يُحيل مَعَانِيَ الحديث مِنَ اللفظ، وأن يكون ممن يُؤَدِّي الحديث بحروفه كما سَمِعَ، لا يحدث به على المعنى، لأنه إذا حدَّث على المعنى وهو غيرُ [ص: ٣٧١] عالمٍ بما يُحِيلُ به معناه: لم يَدْرِ لَعَلَّهُ يُحِيل الحَلاَلَ إلى الحرام، وإذا أدَّاه بحروفه فلم يَبْقَ وجهٌ يُخاف فيه إحالتُهُ الحديثَ، حافظاً إن حدَّث به مِنْ حِفْظِه، حافظاً لكتابه إن حدَّث مِنْ كتابه. إذا شَرِكَ أهلَ الحفظ في حديث وافَقَ حديثَهم، بَرِيًّا مِنْ أنْ يكونَ مُدَلِّساً، يُحَدِّثُ عَن من لقي ما لم يسمعْ منه، ويحدِّثَ عن النبي ما يحدث الثقات خلافَه عن النبي. ‎ويكونُ هكذا مَنْ فوقَه ممَّن حدَّثه، حتى يُنْتَهَى بالحديث مَوْصُولاً إلى النبي أو إلى مَنْ انْتُهِيَ به إليه دونه، لأنَّ كلَّ [ص: ٣٧٢] واحد منهم مثْبِتٌ لمن حدَّثه، ومثبت على من حدَّث عنه، فلا يُسْتَغْنَى في كل واحد منهم عمَّا وصفْتُ.

Seseorang berkata kepadaku, “definisikan untukku teks yg paling sedikit hujjahnya tapi ia memiliki kekuatan mengikat bagi para ulama?” Imam Syafi’i menjawab: “Itu adalah Khabar (Hadits) Ahad dari satu orang perawi ke satu perawi lainnya baik yang jalurnya sampai kembali ke Nabi atau terhenti pada selain beliau.”

“Kehujjahan Khabar Ahad tidak terjadi melainkan memenuhi persyaratan seperti perawinya tsiqah dalam agamanya, terkenal jujur dalam ucapannya, paham dengan apa yang dia riwayatkan, mengerti dengan perbedaan redaksi atau lafaz. Dia jg bisa mengulangi teks Hadits huruf demi huruf seperti yang dia dengar, karena kalau disampaikan secara makna maka boleh jadi nanti dia tidak akan paham mana yang halal dan haram.”

“Dia harus punya hafalan yang bagus baik menyampaikannya dari memori atau catatannya. Dan jika diambil dari catatanya maka itu harus cocok dengan hafalan Hadits yang disampaikan pihak lain. Dia tidak boleh mudallis yang meriwayatkan dari orang yang dia temui tapi sebetulnya dia tidak mendengar Hadits darinya atau meriwayatkan dari Nabi yang kontradiksi dengan apa yang disampaikan orang yang tsiqah. Juga, semua perawi di atasnya bersambung sampai ke Rasul atau berhenti pada orang lain. Soalnya masing-masing perawi akan saling menetapkan satu sama lain. Tidak ada yang melewati persyaratan yang aku sampaikan ini [barulah Hadits Ahad itu diterima sebagai hujjah].”

Wallahua’lam bisshawab

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 100 – Kitab Ilmu
Arif Rahman Hakim
Sarung Batik