Mengenal Tiga Kepercayaan Masyarakat Sulawesi Selatan Sebelum Datangnya Islam

Mengenal Tiga Kepercayaan Masyarakat Sulawesi Selatan Sebelum Datangnya Islam

Pecihitam.org – Sebagai Daerah atau tempat yang kini bermayoritaskan Islam rupanya jikalau kita tengok pada masa masa lampau, Rupanya sebelum menerima Agama Islam, Sulawesi selatan dulunya adalah daerah yang amat memegang teguh adat atau kebiasaan hidup yang pastinya berasal dari para nenek moyang terdahulu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bahkan sampai sekarang masih ditemukan beberapa kalangan yang memegang erat kepercayaan nenek moyang tersebut yang aslinya bersifat Animisme (Menyembah roh roh nenek moyang yang dipercaya bersemayam disuatu tempat, entah itu batu besar, pohon ataupun yang lainnya) ataupun Dinamisme (menyembah kekuatan alam atau benda benda tertentu).

Sehingga dari perihal ini sudah dapat kita simpulkan bahwasanya Masyarakat lokal terdahulu memang sangat percaya pada sesuatu yang Ghaib, maka tak heran jikalau kebiasaan atau adat inilah yang butuh seorang ahli seperti Sanro (Dukun), Bissu, anrong guru, matoa mato di Bone, ataupun seorang Pinati.

Tak luput pula dengan Istilah Pamali atau pakkasipallian, dimana masyarakat Sulawesi selatan terdahulu yang amat menjunjung istilah ini sebagai bentuk larangan yang bertalian pada kepercayaan.

Seperti pada buku buku sejarah yang ada dijelaskan bahwa kepercayaan orang Bugis mengalami perubahan besar besaran ketika pada awal abad ke 17 masehi, agama Islam diterima sebagai agama baru pada waktu itu. Namun kali ini, kita tidak lagi membahas mengenai bagaimana perkembangan Islam itu, namun kita akan membahas perihal tiga kepercayaan masyarakat terdahulu sebelum datangnya Islam sebagai Agama Baru.

1. Kepercayaan Towani Tolotang

Kepercayaan ini besar di Sulawesi Selatan terutama pada daerah Kabupaten Sidenreng Rappang atau yang biasa disingkat dengan nama Sidrap.

Baca Juga:  Ilmu Fiqih, Sejarah Perkembangan dan Tujuannya

Beberapa sumber menyatakan bahwa kepercayaan ini didirikan oleh La Panaungi, dan tentu kepercayaan ini bukanlah kepercayaan lebih menjurus pada Animisme atau Dinamisme melainkan kepercayaan ini telah mengenal Tuhan yang sudah dikenalnya dengan Dewata SeuwaE (Tuhan yang maha esa) dengan geral PatotoE (Yang menentukan Takdir).

Selain itu, Kepercayaan Towani Tolotang pun mengenal tiga Dewa seperti yang dikutip dari Monografi Kebudayaan Bugis Sulawesi Selatan oleh Aminah P, Hamah dkk.

Yakni Dewata Langie, langie sendiri berartikan Langit. Hingga dari dewata langie dipercaya sebagai dewa yang yang bernaung diatas langit, kemudian diharapkan mendatangkan hujan atau kemakmuran.

Namun tidak hanya itu, dewa Langie pun berpotensi membawa kerusakan kepada Manusia dengan mendatangkan petir atau kemarau panjang. Alhasil? Sebagai masyarakat mestinya melakukan persembahan (Sesajen) yang menyediakan empat warna makanan yang ditempatkan pada sebuah tempat khusus yang diletakkan di bagian atas (loteng) rumah.

Dewata mallinoe, Mallinoe berartikan bumi atau dunia hingga dari artinya sudah dapat diketahui bahwasanya dewa Mallinoe ialah dewa yang banyak menempati tempat-tempat tertentu di dunia seperti; di belokan jalan, pohon besar dan tempat-tempat keramat. Sebagai masyarakat yang mempercayai hal ini tentu akan mempersembahkan sesajen ditempat tempat yang dianggap berkeramat.

Dan yang ketiga dikenal dengan dewa Sauwae, yakni dewa air yang dipercaya berada di lautan, sungai ataupun di danau. Sehingga sebagai Masyarakat perlu membuat miniatur miniatur rumah atau kotak dari bambu yang berisikan makanan, minuman dan lainnya kemudian dilabuhkan untuk sang Sauwae ini.

Baca Juga:  Peradaban Islam Masa Usman bin Affan

2. Kepercayaan Patuntung.

Patuntung ialah sejenis kepercayaan yang bisa dibilang percaya pada hal hal yang berbaur Animisme dan Dinamisme. Namun dalam hal ini, Kepercayaan patuntung pun percaya pada dewa dewa yang dianggapnya sebagai Tuhan. Maka tak heran jikalau kepercayaan ini dianggap sebagai perpaduan antara kepercayaan lokal dengan agama Samawi (Kepercayaan yang berasal dari langit).

Perlu diketahui bahwasanya mempercayai adanya tiga dewa atau yang disebutnya dengan nama Karaeng, yaitu karaeng ampatama sebagai pencipta alam dan tinggal di langit, karaeng kannuang kammaya sebagai pemelihara alam yang tinggal di tompo tika, yaitu puncak gunung Bawakaraeng, dan karaeng patanna lino sebagai pembantu karaeng kannuang kammaya, khusus memelihara manusia di bumi yang disebut dengan pattakok.

Selain itu, kepercayaan ini pun memiliki seorang nabi yang disebutnya dengan sebutan Amma’ toa yakni seorang pemimpin pertama dalam kepercayaan itu, dan atas kepandaian seorang Amma’ toa-lah dia dapat menciptakan kitab suci yang tentu menjadi pedoman para penganut dari kepercayaan ini.

Namun yang perlu diketahui dari kitab suci kepercayaan dari Patuntung ialah apabila Kitab suci tersebut diarak ketempat itu, berarti ditempat yang bersangkutan diperkirakan akan terjadi suatu malapetaka dan pastinya hanya bisa ditanggulagi dari kitab suci tersebut.

Kepercayaan ini dapat ditemukan di kabupaten Bantaeng Sulawesi selatan, dilereng Gunung bawakaraeng dan gunung Lompobattang (Wikipedia)

3. Kepercayaan Aluk Todolo

Baca Juga:  Biografi Ulama Fiqih Klasik Syekh Zakariyya al-Anshari

Aluk Tudolo, Aluk sendiri berartikan pegangan hidup sedangkan kata tudolo berartikan leluhur atau orang dulu. Sehingga dari perpaduan kata ini dapat diartikan bahwa Alu Tudolo ialah kepercayaan pegangan hidup yang berasal dari leluhur.

Kepercayaan ini dikenal dengan Falsafah dan Asas kepercayaannya yang disebut dengan Aluk Tallu oto’na, yang artinya memiliki tiga prinsip, diantaranya yakni sebagai berikut:

  • Percaya dan memuja kepada puang matua, sebagai sang pencipta semesta alam.
  • Percaya dan memuja kepada deata-deata (dewa-dewa), yaitu sebagai sang pemelihara alam semesta ciptaan puang matua. Deata deata dalam hal ini melingkup Deata tangngana langi’ (Dewa penguasa dilangit), Deata tangngana padang (dewa penguasa dipermukaan bumi) dan deata to kengkok (Pewa penguasa isi perut bumi)
  • Percaya dan memuja kepada to membali puang yang disebut juga todolo’, yaitu arwah leluhur yang bertugas memperhatikan dan memberi berkat kepada manusia keturunannya. Kepercayaan ini berasal kepercayaan nenek moyang suku toraja yang hingga saat ini masih dipraktikkan oleh sejumlah masyarakat Toraja.

Sumber referensi: Sejarah Islam di Sulawesi Selatan oleh Suriadi mappangara dan Irwan Abbas

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *