Mengulas Tradisi Merokok dan Ngopi Ala Ulama Sufi di Nusantara

Merokok dan Ngopi Ala Ulama

Pecihitam.org – Merokok dan ngopi adalah dua konsumi yang biasanya selalu melekat di dalam diri seorang kiai, tidak semua tapi kebanyakan. Biasanya seorang yang merokok tidak luput dengan hadirnya sebuah minuman kopi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Merokok juga menjadi isu pro dan kontra dikalangan ulama modern saat ini. Seperti antara ulama Muhammadiyah dan ulama NU. Namun jika kita melihat sejarah para ulama dulu sperti KH. Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dalhan mereka adalah tokoh-tokoh ulama yang merokok aktif dizamannya.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan mereka merokok pasti ada alasan yang jelas, seperti yang ungkapkan oleh ulama-ulama dulu. Merokok adalah mediator sebagai sarana untuk mereflesikan pikiran dan dalam setiap hembusanya selalu mengeluarkan kalimah syukur atas nikmat Allah yang diberikan kepadanya.

Rokok ditemukan seorang pelaut terkenal yang bernama Chistoper Colombus yang konon juga menemukan benua Amerika pada tahun 1492 M. Ketika itu dia menyaksikan penduduk setempat yaitu orang-orang Indian sedang asyik menghisap lintingan tembakau yang sekarang kita kenal dengan sebagai rokok.

Di Indonesia sendiri, penggunaan tembakau sebagai rokok baru dikenal sejak kedatangan penjajah dari Eropa. Awalnya kebiasaan ini masih dianggap aneh namun lama kelamaan tembakau sudah menjadi sesuatu yang didambakan oleh mayoritas penduduk di negeri ini karena zat aditif yang ada pada rokok telah membuatnya kecanduan.

Baca Juga:  Ini Alasan Kenapa Kita Harus Memilih Menjadi Warga NU?

Dalam sebuah buku karya Sukendro yang berjudul Filosofi Rokok  ia menjelaskan bahwa pada tahun 1990-1997 pertumbuhan jumlah perokok di Indonesia telah mencapai 44 %, dan merupakan yang tertinggal di Dunia. Pertumbuhan yang sangat signifikan, namun mennanggapi hal demikian. Para ulama dulu telah mempertimbangkan hukum merokok yakni ada yang memperbolehkan dan ada juga yang mengharamkannya.

Terlepas dari sebuah hukum agama, merokok yang selama ini menjadi salah satu penyebab kerusakan dalam kesehatan manusia. Namun disisi yang lain, merokok juga mempunyai manfaat. Seperti, memperbaiki sirkulasi darah sejak berhenti merokok dalam waktu 20 menit detak jantung menjadi normal.

Hal tersebut dapat menyehatkan jantung dan menyembuhkan penyakit jantung. Selain itu, dari hasil penelitian yang dilakukan di University Of Central Florida ( UCF ) fungsi dari nikotin dapat menyebabkan terbunuhnya kuman Tuberculocis ( TBC ).

Baca Juga:  Persiapan New Normal dan Plus Minusnya Bagi Pondok Pesantren

Selain merokok dapat menyembuhakan penyakit TBC, ternyata merokok dapat menyembuhkan dan penyegahan terhadap kangker kulit. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nasional Center Institut.

Penelitian yang berobyek pada orang tua di Mediterania, wilayah disebalah selatan Italia dan Yunani. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa merokok ternyata dapat mencegah penyakit kangker kulit langka.

Jika kita melihat pemaparan di atas. Maka kita dapat mengetahui manfaat rokok dalam tubuh manusia. Hal serupa telah dilakukan oleh kalangan ulama nusantara dulu. Para ulama dulu, merokok bukan hanya sekedar mencegah penyakit kangker kulit, batuk atau yang lainya.

Namun merokok juga dapat menjadikan hubungan antar mamsyarakat semakin erat. Selain itu, tradisi merokok yang lakukan oleh para ulama juga dapat menjadikan salah satu wasilah doa terhadap kenikmatan yang diberikan oleh Allah swt kepadanya.

Biasanya merokok juga dibarengi dengan ngopi.  Ngopi dan merokok menjadi tardisi ulama zaman dulu yang saat ini masih dilaukan oleh beberapa ulama salaf. Biasanya tradisi ngopi dan merokok sering sekali kita lihat ketika  kita memasuki wilayah atau lingkuangan pondok pesantren salaf. Seperti, beberapa pondok yang ada di Jawa Timur, Madura, Jember dan masih banyak lagi yang lainya.

Baca Juga:  Apakah Merokok Membatalkan Puasa? Inilah Jawaban Dan Penjelasannya.

Dengan demikian, merokok dan ngopi selain mencegah penyakit ternyata dapat menjadikan suasana diskusi, ngaji, dan ramah-tamah semakin hidup,  dan rasa bersyukur kepada Allah swt atas kenikmatan yang telah diberikan-Nya.  Oleh sebab itu, merokok dan ngopi adalah dua istilah yang sering sekali melekat kepada para ulama, khususnya ulama shufi.

M. Dani Habibi, M. Ag