Menolak Bermadzhab? Begini Klaim Penganut Sunnah Oleh Wahabi

Menolak Bermadzhab? Begini Klaim Penganut Sunnah Oleh Wahabi

PeciHitam.org Islam secara resmi menjadi agama samawi ketiga atau paling muda dari dua saudara ajaran sebelumnya yakni  Yahudi dan Nasrani. Sudah 14 abad lebih Islam menjadi rujukan kebenaran yang diridhai Allah SWT sejak pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad pada tahun 610 M.

Pasang surut peradaban Islam mewarnai sudah terjadi sejak dakwah Nabi SAW, Khulafaur Rasyidin, Dinasti Kerajaan sampai lahirnya Negara-negara modern sekarang ini.

Diakhir zaman, otentisitas ajaran sejak Nabi Muhammad SAW tentunya tidak berdiam diri sebagai monumen mati. Namun oleh golongan salafi wahabi, teks Al-Qur’an dan Hadits dipandang sebagai teks anti-dialektika.

Maka dari itu golongan ini menjadi pengamal terdepan tekstualisme beragama dan berimbas kepada kebutaan realitas.

Penolakan Bermadzhab

Golongan salafi wahabi merupakan gerakan yang merujuk kepada pendirinya Muhammad bin Abdul Wahhab, meskipun belakangan sudah jarang dipakai.

Namun rujukan pemikiran dan gerakannya sudah sangat jelas kemana arah tujuannya. Beliau adalah sekutu utama Muhammad bin Saud ketika mendirikan Negara Arab Saudi pertama didaerah Najd atau Dir’iyyah.

Sedangkan Istilah Salafi belakangan digunakan sebagai usaha untuk memperhalus gerakan mereka yang memiliki catatan berbau anyir darah pada akhir abad 18.

Baca Juga:  Beginilah Cara Mereka Membajak Ayat-Ayat Sebagai Klaim Kebenaran

Istilah salafi adalah pencatutan kepada golongan Salafush Shaleh atau orang terdahulu yang baik-baik. Golongan ini merupakan golongan pengamal Islam dengan lurus dan benar sesuai semangat Islam yang membawa kedamaian.

Namun hakikatnya salafi wahabi tidak ubahnya seperti gerakan yang diprakarsai oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan dakwah Purifikasi Radikal condrong kepada ekstrim.

Istilah salafi digunakan sebagai tameng, yang sebenarnya mereka berkecondongan kepada Qaul Ulama sekelasa Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Nashiruddin Albani.

Bukti penolakan mereka terhadap Aqidah Asy’ariyyah Maturidiyyah dan Penolakan terhadap Madzhab sudah tidak terbantahkan. Bahwa Ays’ariyyah Maturidiyyah dan Sistem Bermadzhab adalah aliran para Salafush Shaleh.

Sedangkan mereka menolaknya dengan berbagai alasan dan argumentasi baru yang in-rasional. Alasan salafi wahabi ketika menolak bermadzhab berlandas qaul Imam Malik RA;

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوا فِي قَوْلِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْا بِهِ وَمَا لَمْ يُوَافِقْ االكِتَابَ وَالسُّنَّةّ فَاتْرُكُوْهُ

Artinya; “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah

Rancunya pendapat salafi wahabi ketika menola bermadzhab yang jelas masuk golongan Ulama Salaf mereka sendiri selalu merujuk kepada Fatwa Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Syaikh Idahram, Syaikh Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Baz dan Ulama Khalaf lainnya.

Baca Juga:  Nalar Wahabi Tentang Klaim Syirik dan Bid'ah Manaqib

Klaim Penganut Sunnah

Penolakan salafi wahabi kepada sistem bermadzhab berasal dari kepercayaan diri mereka ketika memahami teks Al-Qur’an dan Hadits secara langsung.

Nalar mereka adalah bahwa Al-Qur’an sudah terbukukan dengan baik, pun ia berbahasa Arab yang dapat dipelajari, maka mengapa harus menggunakan  pendapat Ulama Madzhab.

Sebagaimana dengan Hadits, sudah ada ratusan bahkan ribuan kitab induk yang membahas Hadits, untuk apa menggunakan pendapat Ulama Madzhab yang sudah usang. Oleh karenanya, jargon paling banyak diucapkan oleh salafi wahabi adalah ‘Kembali ke Al-Qur’an dan Hadits’ tidak harus memahami Qaul Ulama.

Menggunakan jargon tersebut, golongan salafi wahabi sangat percaya diri bahwa mereka adalah golongan ter-sunnah dalam pengamalan Islam. Sedangkan keislaman orang Islam di Nusantara yang beramaliah Yasinan, Tahlilan, Manaqiban, Slametan, dan lain sebagainya menyalahi sunnah.

Sepintas lalu sangat meyakinkan dan sangat fenomenal pandangan salafi wahabi namun harus dipahami bahwa Ilmu tidak akan tertranfer hanya melalui teks atau Maqal, harus juga disertai dengan Ilmu Ahwal dengan berhadapan  langsung dengan gurunya. Syaikh Abu Yazid Al-Busthami mengatakan;

Baca Juga:  Pendapat Para Sahabat, Imam Madzhab dan Para Ulama Atas Aqidah Mujassimah Wahabi (Bag II)

من لم يكن له شيخ فشيخه الشيطان

Artinya; “Barangsiapa tidak memiliki guru maka gurunya adalah syaithan.”

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG