Mengenal Sultan Muhammad al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel

muhammad al fatih

Pecihitam.orgSultan Muhammad II yang lahir pada tanggal 30 Maret 1432 M, atau sebagian sumber mengatakan bahwa beliau lahir pada tanggal 3 Maret 1432 M. Beliau merupakan Sultan Turki Utsmani ketujuh dalam silsilah keturunan keluarga Utsman. Beliau dikenal pula dengan nama Muhammad Al-Fatih dan Abu Al-Khairat. Selain itu, beliau pun memerintah hampir selama tiga puluh tahun yang diwarnai dengan kebaikan dan kemuliaan bagi kaum muslimin.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Adapun kapan beliau mulai memangku kesultanan ialah tepat ketika setelah ayahnya wafat pada tanggal 16 bulan Muharram 855 H, bertepatan dengan tanggal 18 Februari 1451 M yang mana pada Waktu itu umurnya baru menjelang 22 tahun.

Sultan Muhammad al Fatih sendiri memiliki kepribadian yang komplit. Bisa digambarkan bahwa beliau merupakan pribadi yang menggabungkan antara kekuatan dan keadilan. Dan ini nampak ketika masa muda beliau yang telah banyak mengungguli teman-teman seangkatannya dalam menyerap dan menangkap ilmu pengetahuan. Sehingga mengantarkan beliau pada diri yang berpengetahuan yang luas, khususnya dalam bahasa yang ada saat itu dan pada saat yang sama memiliki kecenderungan yang besar terhadap buku-buku sejarah.

Berangkat dari kepandaian dan kejeniusannya inilah yang menambah kemantapan kepribadiannya dalam masalah manajemen dan administrasi negara, serta penguasaan medan dan srategi perang. Maka pantas rasanya jikalau kemudian hari beliau menjadi sosok yang demikian terkenal di dalam sejarah. Dan ini Berkat dari keberhasilannya dalam menaklukkan kota Konstantinopel.

Baca Juga:  Kesaksian Gus Mus: Gus Dur yang Tak Punya Dompet

Pendidikan

Sejak kanak-kanak, Muhammad Al-Fatih banyak terpengaruh dengan ulama-ulama Rabbani. Khususnya seorang alim Rabbani Ahmad bin Ismail Al-Kurani, sosok ulama yang memiliki keutamaan yang sempurna, yang mana guru satu ini adalah pengajarnya dimasa pemerintahan Sultan Murad II, ayah Muhammad Al-Fatih.

Pada saat itu Ayahnya yang telah mengirimkan sejumlah pengajar, namun al Fatih tidak menaati perintah-perintahnya, bahkan tidak membaca apa pun hingga tidak mampu mengkhatamkan Al-Qur’an.

Menyaksikan hal tersebut tentu Sultan Murad II pun mengorek informasi siapa di antara guru yang memiliki karisma dan sikap tegas. Para pembantunya menyebut nama Al-Kurani. Maka Sultan mengangkatnya menjadi pengajar anaknya dan memberinya tongkat yang bisa dipergunakan, jika anaknya tidak menuruti perintahnya.

Menerima mandat demikian, Al-Kurani pergi menemuinya dengan memegang tongkat ditangannya. Dia berkata. “Ayahmu menyuruhku datang menemuimu untuk mengajarimu. Jika kamu tidak menurut apa yang aku katakan, maka kamu akan mendapat pukulan.”

Mendengar itu Al-Fatih tertawa dan Al-Kurani pun memukulnya di majlis tersebut dengan pukulan yang sangat keras, hingga membuat Sultan Muhammad takut dan jera. Akibatnya, dalam jangka yang sangat pendek dia mampu mengkhatamkan Al-Qur’an.

Adapun jika kita menoleh pada sikap sang guru, Al-Kurani tidak pernah merundukkan kepalanya kepada Sultan. Bahkan ketika beliau memanggil Sultan, dia akan memanggil-nya dengan nama aslinya dan tidak pernah mencium tangannya, bahkan Sultanlah yang mencium tangannya.

Baca Juga:  Ibnu Khaldun; Latar Belakang Kehidupan, Perjalanan Karir dan Karya Karyanya

Maka tak heran, jika dari tangan mereka lahir orang-orang besar seperti sultan Muhammad Al-Fatih. Dari tangannyalah lahir orang-orang mukmin dan muslim yang komitmen dengan syariat untuk melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

Adapun Peran yang dimainkan Syaikh Aaq Syamsuddin dalam membentuk kepribadian Muhammad Al-Fatih dan selalu dia tanamkan sejak kecilnya pada dua hal:

  1. Meningkatkan gerakan jihad Utsmani
  2. Dia selalu mengisyarakan padanya sejak kecil, bahwa yang dimaksud dalam hadits dengan pemimpin yang akan membuka kota Konstantinopel adalah dirinya sendiri.

Sabda Rasulullah tersebut adalah, “Konstantinopel akan takluk di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana, adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. “

Oleh sebab itulah, Muhammad Al-Fatih sangat merindukan agar dirinya menjadi orang yang mampu merealisasikan sabda Rasulullah diatas.

Didikan alim ulama yang diterima, telah banyak menyumbangkan perkembangannya untuk mencintai Islam, memiliki iman yang kokoh dan keislaman yang baik, serta kecintaannya untuk mengamalkan apa yang ada di dalam Al-Our’an dan sunnah Rasulullah.

Oleh karenanya beliau tumbuh dan berkembang dengan komitmen yang demikian kuat terhadap syariat Islam, memiliki sifat takwa dan wara’, mencintai ilmu dan ulama serta semangat yang tinggi untuk menyebarkan ilmu pengetahuan.

Wafatnya Muhammad al Fatih

Pada bulan Rabiul Awal tahun 887 H. yang bertepatan dengan tahun 1481 M., Muhammad II Al-Fatih berangkat menuju Asia Kecil dimana di Askadar telah dipersiapkan sebuah pasukan dalam jumlah besar.

Baca Juga:  Sayyidah Nafisah binti Hasan, Cicit Rasulullah Guru Imam Syafii

Sebelum keluar dari Istanbul menuju Asia Kecil, beliau memang telah diserang penyakit panas. Namun karena kecintaannya untuk berjihad di jalan Allah dan kerinduannya yang terus menerus untuk melakukan perang yang langsung berada di bawah komandonya sendiri, beliau tak pernah merasa lemah. Namun sayangnya, jika dsebelumnya dalam perang yang berkecamuk, beliau akan mendapatkan kesembuhan.

Maka berbeda dengan kali ini, ternyata penyakitnya semakin parah dan panasnya meninggi. Maka sesampainya di Askadar, dia memanggil para dokter. Namun ketentuan Allah telah berlaku, dimana saat itu telah tidak berguna lagi dokter dan obat. Beliau menutup usia di tengah tengah pasukan besarnya pada tanggal 4 bulan Rabiul Awwal 836 H/Mei 1481 M. Dan saat wafatnya beliau berusia 52 tahun setelah berkuasa selam tiga puluh tahun lebih.

Sumber: Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Ustmaniyah oleh Dr. Ali Muhammad ash Shalabi

Rosmawati