Muhasabah: Hidup Ini Hanya Sementara Jadi Jangan Mengikuti Hawa Nafsu Semata

Muhasabah

Pecihitam.org – Introspeksi diri atau Muhasabah merupakan usaha untuk mengoreksi kemampuan kita sebagai manusia dalam mengelola karunia akal dan nafsu yang diberikan oleh Allah, apakah sudah berjalan secara baik atau tidak.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Muhasabah adalah sesuatu hal yang penting dan menjadikannya sebuah kebutuhan dalam tiap-tiap diri manusia. Dalam agama Islam, muhasabah juga sangatlah dianjurkan karena jika dijalankan dengan baik akan memberi banyak manfaat yang akan di dapatkan di dunia maupun diakhirat kelak.

Muhasabah juga perintah dari Allah Swt, hal itu sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Quran surah al-Hasyr ayat 18.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Makna Muhasabah

Muhasabah secara bahasa berasal dari akar kata hasiba-yahsabu-hisab, makna dari kata tersebut secara etimologis ialah melakukan perhitungan. Sedangkan secara terminologi, makna dari muhasabah ialah sebuah upaya untuk melakukan evaluasi diri baik terhadap setiap kebaikan dan keburukan beserta semua aspeknya.

Evaluasi tersebut meliputi hubungan seorang hamba (manusia) dengan Allah (hablum minallah), maupun hubungan sesama makluk ciptaan Allah seperti dalam kehidupan sosial yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia (Hablum minannas), lalu secara umum dengan tumbuhan, hewan bahkan makhluk seperti air, udara dan benda-benda-benda mati (Hablum minal alam).

Senantiasa bermuhasabah juga salah satu jalan atau sarana untuk mengantarkan manusia menjadi makhluk yang mulia sebagai hamba Allah Swt.

Hakikat Muhasabah

Manusia ditakdirkan ahsanu taqwim (sebagai ciptaan terbaik). Ia memiliki kecenderungan-kecenderungan pribadi atau nafsu yang tidak dimiliki malaikat. Manusia juga mempunyai akal sehat yang tidak dimiliki hewan.

Dengan kedua karunia itulah manusia hidup di dunia ini beraktivitas sedemikian rupa: bekerja, bergaul, belajar, makan, minum, bepergian, bersantai, dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Kewajiban Puasa Bagi Pekerja Berat, Bolehkah Ditinggalkan?

Namun, apakah apa yang kita lakukan itu tidak menimbulkan mudarat? Mudarat berarti merugikan. Mudarat dibagi menjadi dua, yakni mudarat pada diri sendiri dan mudarat pada orang lain. Beberapa perbuatan mungkin tak mendatangkan mudarat bagi diri sendiri namun bisa saja mudarat bagi orang lain.

Contohnya, berbisnis dengan cara merugikan orang lain, menduduki kursi di angkutan umum yang bukan haknya, atau sejenisnya. Sebaliknya, banyak pula yang tampak tak mudarat bagi orang lain namun merugikan diri sendiri. Misalnya, mengonsumsi obat-obatan terlarang, meninggalkan ibadah, dan lain-lain.

Kemudian, meski tidak menimbulkan mudharat misalnya, sudahkah perbuatan yang kita lakuklan bukan termasuk yang mubadzir (sia-sia)? Seperti sikap malas kita, bersenang-senang secara berlebihan, berbelanja di luar kebutuhan, gosip ke sana kemari, bermain media sosial secara berlebihan, mungkin secara kasat mata tak merugikan orang lain maupun diri sendiri tapi sukar menghindari dari kemubadziran. Padahal, (“sesungguhnya orang-orang berbuat boros atau mubadzir adalah kawannya setan”).

Pertanyaan-pertanyaan di atas sebetulnya merupakan bagian dari cara manusia berintrospeksi diri atau muhasabah. Muhasabah penting dilakukan untuk mengetahui diri sendiri bukan sekedar pada kelebihan-kelebihan yang dimiliki, melainkan juga kekurangan-kekurangan supaya kita memperbaiki diri sendri.

Sayyidina Umar bin Khattab pernah bertutur:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

“Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

Sayyidina Umar menganggap bahwa muhasabah lebih dini akan menguntungkan kita pada kehidupan kelak. Mengapa? Karena dengan mengevaluasi diri sendiri, manusia akan mengenali kekurangan-kekurangannya yang diharapkan dapat diperbaiki sesegera mungkin.

Baca Juga:  Berita Bohong Menurut Pandangan Al Quran dan Cara Menyikapinya

Kondisi ini akan meminimalkan kesalahan sehinga tanggung jawab dalam kehidupan di akhirat nanti menjadi sangat ringan. Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, ‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.’ (HR Tirmidzi. Ia berkata, “Ini hadits hasan”).

Hadits ini secara tersirat mengungkapkan bahwa akallah yang seharusnya menundukkan nafsu bukan sebaliknya. Nafsu merupakan sebuah potensi yang sejatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan wajar dan alamiah manusia, semisal makan, minum, kawin, tidur, atau sejenisnya.

Tatkala nafsu menunggangi akal sehat, maka yang terjadi adalah tamak dan kesewenang-wenangan. Saat itulah muhasabah dibutuhkan untuk memperbaiki diri.

Manfaat Muhasabah Diri

Dari penjelasan ini, setidaknya ada beberapa manfaat penting yang bisa dicatat dari muhasabah diri:

Pertama, ishlah atau semangat membenahi diri. Introspeksi memberitahu kita akan kelemahan dan kekurangan, untuk di kemudian diperbaiki. Introspeksi juga mengandaikan adanya perencanaan sebelum melakukan sesuatu agar kesalahan yang serupa tidak terulang.

Sebagai hamba, manusia diwajibkan untuk memposisikan kehidupan di akhirat lebih utama daripada alam duniawi ini. Dengan introspeksi diri sesungguhnya kita sedang menjalankan ajaran bahwa kelak semua perbuatandari anggota badan manusia akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Sebagiamana tertuang dalam Surat Yasin ayat 65:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (Q.S. Yasin/36 : 65)

Kedua, muhasabah merupakan ciri-ciri orang yang bertaqwa. Rasanya, tidak mungkin derajat taqwa dapat dicapai oleh orang yang menghindari sikap muhasabah. Dengan bermuhasabah diri, seseorang dapat sadar dan pada akhirnya, dia kian termotivasi untuk meningkatkan kualitas amalan-amalan demi mendapatkan ridha-Nya.

Baca Juga:  Kabut Asap, Teguran Tuhan yang Diabaikan

Ketiga, muhasabah adalah kunci sukses dunia maupun akhirat. Dengan bermuhasabah, ada dorongan dari diri sendiri untuk melakukan hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari pada hari ini.

Generasi Islam yang gemar bermuhasabah tidak akan berpangku tangan alias bersantai-santai dalam menjalani kehidupan. Sebab, mereka meyakini adanya Hari Perhitungan (Yaumul Hisab), yakni ketika Allah SWT menunjukkan dan membalas setiap amal baik dan buruk, meski sekecil apa pun itu.

Keempat, introspeksi diri menjauhkan kita dari sifat ujub atau sombong. Muhasabah fokus pikiran tertuju pada kekurangan diri sendiri. Hal ini akan banyak mengurangi perilaku manusia yang cenderung gemar menilai atau mengoreksi diri sendiri.

Orang akan disibukkan dengan mencermati kesalahan diri sendiri ketimbang memvonis salah orang lain; mencari kesesatan pikiran dan perilaku diri sendiri ketimbang menghakimi sesat orang lain.

Sifat ini sebenarnya selaras dengan pesan Al-Qur’an yang mendorong setiap manusia agar tidak sok suci. Allah berfirman,

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS An-Najm: 32)

Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang senantiasa introspeksi dan memperbaiki diri demi kepada yang lebih baik. Wallahua’lam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik