Musuh Pura-pura Haji dan Mengepung Utsman Selama 40 Hari Sebelum Membunuhnya

pembunuhan usman

Pecihitam.org – Peristiwa terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, adalah salah satu sejarah kelam dalam rentetan perjalanan Islam. Peristiwa tersebut tidak terlepas dari banyaknya fitnah yang menimpa umat Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dampak peristiwa tersebut bahkan berlanjut hingga generasi selanjutnya. Pada masa awal pemerintahan Ali bin Abi Thalib misalnya, tuntutan untuk segera menjatuhi hukuman atas para pembunuh Utsman sangatlah kuat. Dari sinilah kemudian dikenal dengan munculnya golongan Khawarij yang menjadi biang kerok perpecahan Islam.

Sebetulnya fitnah sudah mulai muncul pada 34 hijriyah ketika beberapa orang bodoh berusaha memberontak Khalifah Utsman. Khalifah kemudian menangkap mereka namun kemudian melepaskannya.

Sayangnya mereka bukan orang-orang yang dapat menahan diri. Orang-orang itu kemudian melakukan persiapan yang lebih besar dan melakukan pemberontakan untuk kedua kalinya pada 35 hijriyah.

Kahlifah Utsman bin Affan radhiyallahuanhu wafat setelah pengepungan yang berlangsung selama 40 hari oleh musuh. Sebelumnya mereka pura-pura ingin ibadah haji melewati Madinah.

Baca Juga:  Potret Peradaban Islam di Spanyol, dari Masa Jaya Hingga Runtuhnya

Kemudian mereka mengepung Amirul Mukminin Utsman bin Affan di kediamannya. Selama masa pengepungan itu, ia dilarang melakukan segala sesuatu, sampai-sampai ia dilarang mengerjakan sholat di masjid.

Para pembunuh memanjati rumahnya, dan membunuh Khalifah ketika dia sedang membaca Al Quran. Mereka adalah orang-orang yang keras dan kasar.

Dalam sebuah riwayat dikatakan seseorang bertanya kepada Hasan al-Bashri, ketika itu dia sudah lahir, karena dia termasuk Tabiin senior, “Apakah ada di antara mereka yang membunuh Utsman itu seorang dari kalangan Muhajirin dan Anshar?”

Hasan al-Bashri menjawab, “Para pembunuh Utsman adalah orang-orang keras dan kasar dan berasal dari penduduk Mesir.” (Tarikh Khalifah).

Meski demikian, orang-orangnya bisa dikenali. Mereka adalah, Kinanah bin Bisyr, Ruman al-Yamani, seorang yang mempunyai panggilan Jabalah, Sudan bin Humran, dan seorang yang dijuluki kematian hitam dari Bani Sadus. Ada yang mengatakan, di antara mereka juga adalah, Malik bin al-Asytar an-Nakha’i.

Baca Juga:  Filsafat Timur Tengah Pada Masa Permulaan Peradaban Islam

Mereka itulah tokoh penggerak fitnah yang menimpa Khalifah Utsman bin Affan. Adapun menurut pendapat yang masyhur orang yang membunuhnya secara langsung adalah orang Mesir yang bernama Jabalah.

Dari Amrah binti Arthah, dia menuturkan, “Aku keluar bersama Aisyah menuju Makkah pada tahun Utsman terbunuh. Kami kemudian melewati Madinah. Saat itu, kami sempat melihat mushaf yang berada di pangkuannya saat ia dibunuh. Kami melihat juga bahwa tetesan darah pertama yang menimpa mushaf itu adalah pada awal ayat:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al- Baqarah: 137).

Amrah melanjutkan, “Maka, tidak seorang pun di antara para pembunuh itu yang mati secara wajar.” (Riwayat Ahmad)

Baca Juga:  Istri Nabi Muhammad, Nama, Gelar Dan Urutannya

Demikian sejarah singkat mengenai peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Tidak dipungkiri sejak zaman sahabat sudah beberapa kali terjadi peristiwa kelam yang menyayat hati, mulai dari fitnah, intrik politik kotor sampai pembunuhan.

Sejarah peradaban Islam seperti ini memanglah harus diketahui oleh umat muslim. Hal ini sekaligus menjadi pengingat untuk diri kita agar dapat mengambil hikmah dari suatu peristiwa tersebut. Wallahua’lam bisshawab.

Lukman Hakim Hidayat