Nabi Muhammad dan Keluarganya Hanya Makan Sekali dalam Sehari

Nabi Muhammad dan Keluarganya Hanya Makan Sekali dalam Sehari

Pecihitam.org – Nabi Muhammad merupakan seseorang yang berbadan sehat dan bugar. Salah satu rahasianya adalah beliau menjaga pola makan yang sehat. Selain itu, tahukah Anda bahwa Nabi Muhammad SAW dan keluarganya hanya makan sekali dalam sehari?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Begitulah Nabi Muhammad. Sangat sederhana. Beliau sungguh mempraktikkan salah satu sabdanya yang berarti “wadah yang paling buruk adalah perut yang diisi penuh dengan makanan halal”.

Hakikatnya, sebagai pemimpin negara Nabi Muhammad bukanlah orang yang kekurangan. Tetapi untuk kehidupan pribadi dan keluarganya beliau memilih hidup sederhana. Makanya ada doa dari beliau yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkanlah aku pada hari kiamat bersama orang-orang miskin.

Apakah hadis tersebut merupakan permintaan Nabi kepada Allah agar beliau dijadikan miskin dan apakah ini juga isyarat agar umatnya menjadi miskin? Bukankah di dalam hadis yang lain, Nabi menjelaskan kemiskinan bisa mengantarkan orang pada kekafiran?

Baca Juga:  Ini 3 Sumpah Nabi Muhammad SAW Untuk Kebaikan Umat Islam

كاد الفقر أن يكون كفرًا وكاد الحسد أن يغلب القدر

Hampir saja kekemiskinan membuat orang kafir dan hampir kedengkian itu mendahului takdir Allah.

Dengan demikian, maka maksud doa Nabi dalam hadis tersebut adalah meminta agar hidup miskin. Perhatikan, dalam doa tersebut, Nabi menggunakan redaksi ahyini (hidupkanlah), bukan ij’alni (artinya (jadikanlah).

Dengan demikian, jelas bahwa isyarat Nabi dalam doa ini adalah agar kita memilih pola hidup miskin walaupun hidup dalam berkecukupan. Sebaliknya, jangan jadi orang yang berpola hidup foya-foya padahal hidup dalam kekurangan.

Hidup sederhana itu, oleh Nabi Muhammad dan keluarganya, salah satunya diwujudkan dalam makan yang hanya sekali dalam sehari.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا أَكَلَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْلَتَيْنِ فِي يَوْمٍ إِلَّا إِحْدَاهُمَا تَمْرٌ

Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata, “Keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tidak makan dua kali dalam sehari kecuali salah satunya berupa kurma” (HR. Bukhari)

Baca Juga:  Menghina Agama Lain dalam Islam, Apakah di Perbolehkan? Yuk Pahami

Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari Juz 11 halaman 292 menjelaskan maksud hadis di atas. Menurut beliau, hadits ini menjadi isyarat bahwa Nabi Muhammad dan keluarga kadang dalam sehari tidak menemukan makanan kecuali hanya sekali.

Kalaupun makan dua kali, maka salah satunya adalah kurma. Selain itu, beliau juga menjelaskan di dalam riwayat yang lain, misalnya di dalam riwayat Imam Muslim terdapat hadis yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan keluarga tidak makan roti gandum dua kali dalam sehari kecuali salah satunya berupa kurma.

Atau di dalam riwayat yang lain jika Nabi Muhammad dalam sehari makan roti, maka makan yang kedua kalinya adalah dengan kurma.

Atau sebaliknya jika jika Nabi Muhammad dan keluarga dalam sehari pertama kalinya makan gandum, maka kedua kalinya ia makan kurma. Atau sebaliknya jika makan yang pertama berupa kurma, maka makan yang kedua adalah berupa roti gandum.

Baca Juga:  Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin: Nilai-Nilai Yang Bisa Terapkan Di Indonesia

Sekali lagi, begitulah pola makan Nabi Muhammad dan keluarga. Sangat sederhana. Makan tidak lebih sekali dalam sehari. Kalaupun makan lebih dari satu kali, maka jenis makanan yang kedua adalah berupa kurma (makanan yang lebih ringan dari makanan utamanya).

Begitulah, kita sepatutnya meniru pola hidup beliau yang sangat sederhana, karena kita sebagai umatnya memang sudah seharusnya meneladani apa yang dilakukan oleh beliau.

Faisol Abdurrahman