Inilah Urutan Jalur Nasab Nabi Muhammad dari Keluarga Bani Hasyim

Keluarga Bani Hasyim

Pecihitam.org – Nabi Muhammad SAW merupakan keturunan dari keluarga Bani Hasyim, keluarga ternama dalam jejeran masyarakat Jazirah Arab saat itu. Berikut adalah urutan jalur nasab Rasulullah dari keluarga Bani Hasyim.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nama asli Hasyim adalah Amr bin Abdul Manaf yang lahir tahun 464 M. Ia disebut Hasyim yang artinya si penumbuk roti karena suka menumbuk roti untuk dibuat tsarid (sejenis roti yang dimakan campur kuah) yang dibagikan untuk jamaah haji.

Hasyim adalah pemegang hak siqayah dan rifadah dari keluarga Bani Abdul Manaf. Siqayah adalah memberi minum jamaah haji, sedangkan rifadah adalah memberikan makanan.

Fatimah binti Sa’ad bin Sahl kawin dengan Kilab dan mempunyai anak bernama Zuhrah dan Qushay. Qaushayy (lahir tahun 400 M) seorang yang banyak harta dan jadi pemimpin Makkah.

Setelah Qushayy berusia lanjut beberapa kewenangan yang ada di tangannya diserahkannya kepada anaknya yang tertua Abdud Dar, seperti memegang kunci Ka’bah, panji suku, membagi air minum dan makanan untuk jamaah haji.

Di samping itu, Abdul Manaf (lahir tahun 430 M) adik Abdud Dar juga sudah tampil sebagai tokoh terpandang pada masyarakat Qurasy. Sepeninggal Abdud Dar, tugas itu diteruskan oleh anak-anaknya.

Sementara itu, anak-anak Abdul Manaf seperti Hasyim, Abdus Syam, Muththalib dan Naufal sebenarnya memiliki kedudukan yang lebih dan terpendang di kalangan masyarakatnya. Mereka sepakat mengambil pimpinan Makkah dari tangan sepupu-sepupu mereka.

Baca Juga:  Tiru Cara Berjalan Ala Rasulullah, Ternyata Bermanfaat Bagi Kesehatan

Menyikapi persaingan ini pihak Qurasy terbelah dua. Untuk mencegah terjadinya perang saudara akhirnya kewenangan dibagi. Keluarga Abdul Manaf dapat bagian mengurus persoalan air minum dan makanan untuk jamaah haji, sedangkan kunci Kabah, panji dan pimpinan rapat ditangan keluarga Abdud Dar.

Suatu ketika, dalam perjalanan dagang ke Syam, Hasyim singgah di Madinah (Yatsrib) dan menikah di sana dengan Salma binti Amrdari Bani Adi ibn Najar dan menetap di sana beberapa waktu.

Setelah itu Hasyim meneruskan perjalanannya ke Syam dan meninggalkan Salma di Madinah dalam keadaan hamil. Ternyata Hasyim meninggal di Gaza Palestina.

Salma melahirkan seorang putera tanpa sang suami pada tahun 497 M dan diberi nama Syaibah. Salma mengasuh bayinya di rumah ayahnya di Yatsrib. Tidak seorangpun keluarga Bani Hasyim di Makkah yang mengetahuinya.

Sepeninggalnya Hasyim, tugas sebagai pemberi minum dan makanan kepada jamaah haji diteruskan oleh saudaranya, Muththalib ibn Abdul Manaf yang dikenal dermawan.

Ketiga Syaibah ibn Hasyim berumur 7 tahun barulah Muththalib mengetahui Syaibah adalah anak saudaranya dan ia pergi ke Yatsrib menjemput kemenakannya tersebut. Setelah mendapat izin dari ibunya maka Syaibah dibawanya ke Makkah.

Masyarakat Makkah mengira Syaibah adalah budak Muthalib sehingga mereka memanggilnya Abdul Muththalib (budaknya Muththalib). Meski sudah dijelaskan oleh Muththalib bahwa Syaibah bukan budaknya tapi anak saudaranya Hasyim, namun nama itu tetap melekat dan Syaibah populer dengan sebutan Abdul Muththalib dan tinggal dengan pamannya sampai dewasa.

Baca Juga:  Surat al Ikhlas; Tulisan Arab, Manfaat dan Hadis Tentang Keutamaannya

Muththalib meninggal di Yaman, posisinya pun digantikan oleh kemenakannya Abdul Muththalib dan dia berhasil tampil sebagai pemimpin suku Quraisy yang disegani.

Abdul Muththalib punya sepuluh anak laki-laki yaitu Harits, Zubair,  Abu Thalib,  Abdullah (lahir tahun 545 M), Hamzah, Abu Lahab, Ghaidaq. Muqawwim, Dhirar dan Abbas.

Tatkala puteranya masih satu orang, Abdul Muththalib pernah bernazar jika ia punya sepuluh orang anak laki-laki, salah seorangnya akan dia korbankan. Ternyata Allah mengabulkan doanya.

Setelah anak laki-lakinya berjumlah sepuluh orang,maka nazar itu dia laksanakan. Dia mengundi dari sepuluh anaknya tersebut siapa yang akan dikorbankan.

Undian jatuh kepada Abdullah, anak yang paling tampan dan paling disayanginya. Lalu dia membimbing Abdullah menuju Ka’bah sambil membawa sebilah parang untuk dijadikan tumbal. Orang-orang Qurasy yang melihatnya berusaha mencegah, lebih-lebih paman-pamannya dari Bani Makhzum.

Saudaranya Abu Thalib juga mencegah bapaknya. Akhirnya mereka meminta pertimbangan kepada seorang yang bijak. Orang itu menyarankan supaya diundi antara Abdulllah dan 10 ekor onta.

Dua anak panah disiapkan untuk undian. Yang satu pada batangnya ditulis nama Abdullah, dan pada yang satu lagi ditulis 10 ekor onta. Lalu dicabut salah satunya. Ternyata yang tercabut tetap nama Abdullah. Lalu anak panah yang satu lagi diganti dengan anak panah yang bertuliskan 20 ekor onta, kemudian dicabut kembali.

Baca Juga:  Pentingnya Belajar Ilmu Mantiq (Ilmu Logika)

Ternyata yang tercabut tetap nama Abdullah. Hal yang sama dilakukan berulang kali dengan menambah 10 ekor setiap kali diulang. Akhirnya pada angka 100 ekor onta, barulah nama Abdullah tidak lagi tercabut. Akhirnya 100 ekor onta disembelih sebagai tebusan nazar Abdul Muththalib. Kisah ayah Nabi yang hendak disembelih selengkapnya bisa baca disini.

Setelah berumur 24 tahun, Abdullah menikah dengan Aminah binti Wahab ibn Abdul Manaf ibn Kilab. Aminah dikenal sebagai seorang perempuan dengan nasab dan martabat paling mulia di tengah-tengah suku Quraisy. Ayahnya adalah pemuka Bani Zuhrah. Dari pernikahan inilah lahir sang Nabi akhir zaman, Muhammad Saw. (ar-Rahiq al-Makhtum, hal. 62).

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik