Nuruddin Ar Raniri, Ulama yang Berpengaruh Bagi Penyebaran Islam di Aceh

Nuruddin Ar Raniri, Ulama yang Berpengaruh Terhadap Penyebaran Islam di Aceh

Pecihitam.org – Dialah Nuruddin Muhammad bin Hasanjin al Hamid Asy Syafi’i ar Raniri atau beliau lebih dikenal dengan nama Nuruddin Ar Raniri, seorang ulama dilahirkan di Ranir, yakni sebuah kota pelabuhan tua di pantai gujarat (India).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terkait tahun kelahiran beliau rupanya tidak diketahui secara pasti, akan tetapi ada kemungkinan bahwa beliau lahir menjelang abad XVI (Azyumardi Azra, Jaringan ulama timur tengah dan kepulauan nusantara Abad XVII dan XVIII, hlm. 196).

Perihal orang tuanya, sang Ibu merupakan keturunan Melayu sedang sang ayah berasal dari keluarga Imigran Hadramaut.

Dalam dunia pendidikan, beliau belajar Ilmu Agama di Negara asalnya sebelum berkelana ke Tarim (Hadramaut, Yaman) yang dimana pada waktu itu menjadi tempat pusat studi Agama Islam, dan salah satu gurunya yang berpengaruh ialah Abu Nafs Sayyid Imam bin Abdullah Ba Syaiban, yakni seorang guru Rifa’iyyah berketurunan Gujarat (India).

Itulah mengapa jikalau Nuruddin Ar Raniri pernah dibaiat sebagai Khalifah untuk menyebarluaskan tarekat Rifa’iyyah di tanah melayu.

Hingga pada tahun 1621 Masehi, beliau mengunjungi Mekah dan Madinah untuk menunaikan Ibadah Haji sekaligus menuntut ilmu di sana.

Baca Juga:  Mengenal Sosok Abu Ibrahim Woyla, Sang Waliyullah Asal Aceh

Bagaimana bisa seorang Nuruddin Ar Raniri yang asalnya dari India menjadi Ulama yang berpengaruh terhadap penyebaran Islam Di Aceh?

Dalam hidupnya, Ar-Raniri dikenal sebagai seorang perantau, dari satu tempat ke tempat lainnya. Persis jikalau kita membaca terkait kisah-kisah para ulama terdahulu yang demi mendapatkan Ilmu Agama dan pengalaman pasti mereka melaluinya dengan merantau dari tempat satu ke yang lainnya.

Diketahui bahwa daerah Asal Ar-Raniri sebagaimana layaknya kota-kota pelabuhan yang lain, maka tak heran jikalau sangat ramai akan pendatang dari penjuru dunia seperti ada yang berasal dari Asia Selatan, Asia tenggara, Afrika bahkan Eropa, dan tujuan para pendatang tidak lain untuk melakukan aktivitas perdagangan, dan adapula yang datang sebagai pendakwah demi menyebarluaskan ajaran Agama.

Sehingga dari sini, Ar-Raniri kemudian ikut berlayar dengan tujuan yang sama ke pelabuhan pelabuhan lain seperti semenanjung Melayu dan Hindia.

Dari berbagai perjalanannya dalam menyebarkan Agama, sampailah dirinya merantau ke Wilayah Nusantara dengan memilih Aceh sebagai tempat tinggalnya (1637 M). Mengapa?

Baca Juga:  Biografi Imam Al Baihaqi Al Hafidz Pembela Madzhab Syafii

Karena pada waktu itu, Aceh menjadi tempat yang amat ramai dari para pengunjung dari berbagai mancanegara baik sebagai pusat perdagangan, kebudayaan, maupun politik.

Disanalah Nuruddin Ar Raniri menjadi seorang Mufti kesultanan Aceh pada masa Iskandar Tsani, yang dimana mufti sebelumnya ialah Syamsuddin As Sumatrani (Beliau wafat pada masa Sultan Iskandar Muda).

Sedangkan dalam corak pemikirannya, ternyata Ar-Raniri memiliki paham yang berbeda dengan para mufti sebelumnya seperti Hamzah AL fansuri terhadap paham Wujudiyyah nya yang berasal dari pengaruh Ibnu ‘Arabi.

Sebagai seorang mufti, Nuruddin Ar Raniri dekat dengan Sultan, sehingga beliau seringkali mendapatkan pemintaan darinya untuk menulis kitab kitab Agama, terutama tentang tasawuf demi membasmi paham Wujudiyyah Di Aceh.

Maka tak heran jikalau dalam satu kesempatan beliau didukung oleh Sultan untuk mengadakan majelis persidangan dengan 40 ulama pendukung Wujudiyyah,  Sehingga dari sini lahirlah fatwa dari Mufti Ar-Raniri untuk menghukumi kafir terhadap para pengikut paham Wujudiyyah sehingga boleh dibunuh.

Selain dikenal sebagai seorang mufti, Nuruddin Ar Raniri juga dikenal sebagai seorang Ulama yang bercakrawala luas, berpengaruh besar terhadap nusantara sekaligus seorang ulama penulis yang sangat produktif.

Baca Juga:  AGH Daud Ismail, Penulis Kitab Tafsir Al-Munir Beraksara Lontara Bugis

Hal ini dapat dilihat dari berbagai karya karyanya yang ditulis dalam bahasa Melayu. Diantaranya ialah Ash Shirat Al Mustaqim (Jalan yang lurus), Bustan Ash Shalatin (Taman raja raja), Rafiq Al Muhammadiyah fi Thariq Ash Shufiyyah (Teman umay Muhammad pada jalan Sufi) dan Syifa AL Qulub (Tentang cara cara berdzikir).

Itulah sekilas kisah hidup seorang Nuruddin Ar Raniri, semoga bermanfaat!

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.