Orisinalitas Filsafat Islam (1): Kritik Ibnu Rusyd terhadap al-Farabi dan Ibnu Sina

orisinalitas filsafat islam

Pecihitam.orgFilsafat Islam memang bukan sesuatu yang benar-benar asli, melainkan hasil modifikasi filsafat Yunani. Bagaimana para filsuf menjelaskan orisinalitas filsafat Islam? Apa pula kritik Ibnu Rusyd terhadap al-Farabi dan Ibnu Sina?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Serangan paling keras terhadap filsafat Islam, saya kira, adalah mengenai orisinalitasnya. Dalam hal ini dipertanyakan apakah filsafat Islam itu asli atau tidak. Keaslian yang dimaksud bukanlah apakah ia benar dihidupkan oleh orang-orang Islam, atau apakah ia benar tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan Islam. Jawabanya jelas “ya”.

Adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa filsafat Islam bersumber dari filsafat Yunani melalui kebudayaan Hellenisme semasa kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah. Fakta pula bahwa para ulama-intelektual muslim membaca dan mempelajari karya-karya terjemahan filsuf Yunani terutama Plato, Aristoteles dan para komentator mereka, seperti Porphyry, Alexander dari Aphrodisias dan Galen.

Hal itu menyiratkan bahwa filsafat Islam tidak benar-benar lahir dari rahim Islam namun hanyalah copy-paste dari filsafat Yunani, kemudian diberi dalil al-Quran dan Hadis. Kritik ini biasanya datang dari dalam lingkungan filsafat sendiri yang mendasarkan penilaiannya dengan tradisi filsafat Barat.

Oleh karena itu, serangan terhadap filsafat Islam tak hanya datang dari kalangan di luar tradisi filsafat – khususnya mutakallimun yang menolak filsafat karena bukan berasal dari Islam, melainkan juga dari para pengkaji filsafat.

Sikap skeptik terhadap filsafat religius semacam itu, ditambah anggapan bahwa filsafat keagamaan akan merusak ciri khas filsafat yang bebas dan spekulatif, sering terjadi dalam diskusi filsafat. Anggapan itu juga pernah mengemuka dalam diskusi filsafat Islam saat saya mempelajarinya di ruang kuliah dulu.

Baca Juga:  Problematika Ojek “Syar’i”, Se-syar’i Itukah?

Sebagian kawan bahkan lebih senang menyebut filsafat Islam dengan istilah Muslim Philosophy tinimbang Islamic Philosophy, walaupun bagi saya kedua istilah tersebut tidak jauh berbeda.

Filsafat Islam memang bukanlah sesuatu yang benar-benar asli, melainkan hasil dari modifikasi filsafat Yunani – dan mungkin juga dipengaruhi filsafat Persia dan India. Karena itu, untuk menegaskan orisinalitas filsafat Islam, pertanyaan yang pantas diajukan adalah “apa yang membedakan filsafat Islam dengan filsafat Yunani dan tradisi-tradisi filsafat lainnya pada tataran gagasan-gagasannya (bukan sifatnya, seperti bahwa filsafat Islam menimba inspirasi dari al-Quran dan Hadis)?”

Sebagaimana disinggung di atas, filsafat Yunani masuk ke dalam kebudayaan Arab-Islam melalui karya-karya terjemahan dari bahasa Yunani ke Suriah lalu ke bahasa Arab. Detil cukup lengkap tentang tahapan penerjemahan tersebut lihat Cristina D’Acona dalam artikelnya Greek Sources in Arabic and Islamic Philosophy (2013) di sini.

Melalui transmisi pengetahuan tersebut filsafat Yunani dipelajari oleh para ilmuwan muslim dengan salah satu tujuannya “memfilsafatkan” doktrin-doktrin agama. Mengenai motif dikembangkannya filsafat Islam, pernah saya singgung dalam tulisan saya yang berjudul Filsafat sebagai Warisan Islam yang Mengagumkan.

Meski para sarjana muslim mempelajari karya-karya filsafat Yunani, yang disebut oleh Philip K. Hitti (terj., 2010: 393) tercatat tak kurang dari seratus karya, kecenderungan filsafat Islam awal mengarah kepada filsafat Aristoteles, sebagaimana tampak dalam filsafat al-Farabi dan Ibnu Sina. Walau begitu, terdapat keraguan yang cukup kuat mengenai orisinalitas Aristotelian pada filsafat Islam yang ditelurkan para filsuf muslim awal.

Baca Juga:  Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

Ibnu Rusyd adalah filsuf yang paling kritis terhadap hal ini. Sebagaimana diurai Majid Fakhry dalam Averroes: His Life, Works and Influence (terj., 2018: 21-29), sebelum menyanggah balik kritik al-Ghazali terhadap para filsuf dalam Tahafut al-Falasifah, Ibnu Rusyd dalam Tahafut al-Tahafut terlebih dahulu mengkritik al-Farabi dan Ibnu Sina yang dianggapnya telah mendistorsi filsafat Aristoteles dan mencampuraduknya dengan filsafat Plato dan mereka telah dikacaukan oleh filsafat Plotinus.

Selain itu, Ibnu Rusyd juga mengganggap para filsuf muslim awal telah keliru memahami beberapa karya Yunani yang dikira karya Aristoteles. Misalnya, Elements of Theology yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Fi al-Khayr al-Mahdh (Tentang Kebaikan Murni) sebenarnya adalah karya Proclus, tokoh Neoplatonisme Yunani.

Begitu pula Theologia Aristotelis, diterjemahkan oleh Abdul Masih ibn Na’imah al-Himsi dengan jusul Uthulijiya Aristhuthalis, disalahpahami sebagai karya Aristoteles, padahal itu komentar Porphyry terhadap Enneads karya Plotinus.

Kritik Ibnu Rusyd terhadap al-Farabi, Ibnu Sina dan para neo-platonis muslim lain, sebenarnya bertujuan untuk memulihkan, atau lebih tepatnya memurnikan, filsafat Aristoteles, serta ingin menyanggah balik al-Ghazali bahwa kritiknya terhadap filsafat Islam adalah salah alamat. Yang disasar oleh sang Hujjah al-Islam sebenarnya ialah ajaran neo-platonisme yang memang terkesan bertentangan dengan doktrin teologi yang diperpegangi al-Ghazali.

Baca Juga:  Perbedaan Filsafat Arab dan Filsafat Islam? Begini Penjelasannya

Namun, sebagaimana yang sudah kita maklumi dari Tahafut al-Tahafut, Ibnu Rusyd selanjutnya menyerang para teolog, khususnya dari kalangan Asy’ariyah, yang mengabaikan pesan-pesan Allah dalam al-Qur`an untuk merefleksikan alam semesta dengan logika demonstratif sebagaimana dilakukan para filsuf.

Dalam Tahafut al-Tahafut, Ibnu Rusyd juga membela argumen-argumen para filsuf, seperti tentang kekekalan alam, serta membuktikan keselarasan filsafat dan agama.

Melalui Ibnu Rusyd kita dapat menyimpulkan bahwa filsafat Islam merupakan hasil sintesa kreatif para ulama-intelektual muslim terhadap filsafat Yunani dengan semangat al-Quran yang berjalan selaras. Demikian, orisinalitas filsafat Islam dapat dijelaskan sampai sejauh ini.

Akan tetapi, kritik Ibnu Rusyd terhadap al-Farabi dan Ibnu Sina di atas dapat ditepis dengan argumen bahwa kedua filsuf awal itu bukanlah mencampuraduk gagasan Aristoteles dan neo-platonisme. Melainkan ingin membangun orisinalitas filsafat Islam yang membedakannya dengan filsafat Yunani sebagai sumbernya. Dalam tulisan selanjutnya kita akan melihat bagaimana Ibnu Sina ternyata sudah terlebih dahulu menegaskan filsafat Islam itu orisinal adanya.

Yunizar Ramadhani