Patutkah Membandingkan Nabi Muhammad Saw dengan Tokoh-tokoh Lain?

Membandingkan Nabi Muhammad dengan tokoh Lain

Pecihitam.org – Bagi saya, fenomena membandingkan Nabi Muhammad dengan tokoh lain yang ada di dunia ini bukanlah sesuatu yang baru, bahkan sesuatu yang biasa. Alasannya, sejak dulu sudah banyak dari kalangan peneliti dan penulis yang mencoba meneropong sosok Nabi Muhammad di antara tokoh-tokoh besar dunia dalam spektrum perbandingan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam pengertian lain, banyak orang ingin melihat sejauh mana sepak terjang dan pengaruh Nabi Muhammad bila dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain. Apakah Nabi Muhammad lebih unggul dari tokoh lainnya? Atau justru sebaliknya. Pada tataran ini rasa-rasanya tidak ada yang perlu dirisaukan atau diperdebatkan.

Sebenarnya, soal membandingkan Nabi Muhammad dengan tokoh yang lain lebih mengacu pada soal etis dan etika sopan santun. Banyak kalangan umat Islam yang menilai bahwa membandingan Nabi dengan tokoh-tokoh lain bukan hanya tidak pantas, tetapi sudah masuk pada tataran penghinaan terhadap Nabi dan agama.

Meskipun, harus diakui bahwa soal banding-membandingkan ini tidaklah masuk kategori hukum, sebabnya tidak ada materi hukum Islam yang secara rinci membahas masalah seperti ini.

Lebih tepatnya, sebagaimana disinggung di atas, perkara ini lebih berkaitan dengan masalah etika dan batas kepatutan, bahwa tidak elok bagi siapapun untuk membandingkan sang Nabi dengan yang lainnya.

Tapi bila masalah membanding-bandingkan itu berada dalam konteks penelitian dan pemikiran yang serius, tentu masalahnya menjadi berbeda. Misalnya begini, sejauh ingatan saya, ternyata sudah banyak sekali orang-orang yang mencoba meneliti dan mengkaji Nabi Muhammad di antara tokoh-tokoh besar dunia, penelitian itu juga secara terang-terangan membandingkan Nabi Muhammad dengan banyak tokoh lainnya.

Baca Juga:  Antara Pendekatan Tekstualis, Semi-Tekstualis, dan Kontekstualis dalam Menafsirkan Al-Qur’an

Sebagai contoh, di tahun 1978, salah seorang profesor dan penulis dari Amerika, Michael H. Hart, pernah menulis buku berjudul “Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah”. Dalam proses penulisan buku ini, Hart mencoba menelurusi ribuan tokoh dunia yang banyak mempengaruhi peradaban sepanjang sejarah umat manusia.

Walhasil, dari ribuan tokoh yang diteliti tersebut, Hart kemudian memilih seratus besar tokoh paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah. Dan, yang paling mencengangkan, hasil penelitian itu menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ternyata berada di urutan pertama sebagai sosok yang paling berpengaruh sepanjang sejarah dunia.

Hasil penelitian itu pun seakan menggemparkan dunia dan membuat banyak umat Islam merasa senang dan luar biasa bangga. Artinya, betapapun agama Kristen memiliki penganut terbesar di dunia, pamor Nabi Isa atau Yesus Kristus kalah jauh dari sosok Nabi Muhammad yang telah terbukti memberikan pengaruh yang lebih besar bagi perubahan peradaban manusia ke arah yang lebih baik.  

Buku ini juga seakan membari kekuatan baru bagi umat Islam bahwa betapa Nabi Muhammad adalah sosok yang luas biasa besar pengaruhnya. Da’i-da’i internasional juga sering mengutip buku ini dengan perasaan bangga, padahal penulisnya beragama Kristen dan berasal dari Amerika.

Baca Juga:  Betulkah Ayat tentang Khalifah Itu Perintah Mendirikan Khilafah?

Selain itu, masih ada pula buku yang mencoba membandingkan Nabi Muhammad dengan tokoh lain. Sebut saja buku yang ditulis oleh Saudara Munir Che Anam berjudul “Nabi Muhammad dan Marx” terbitan Pustaka Pelajar.

Dalam buku ini, penulis mencoba membandingkan pengaruh antara Nabi Muhammad dan tokoh Jerman bernama Karl Marx yang juga merupakan pendiri Partai Komunis Internasional.

Penulis buku ini ingin melihat bagaimana sepak terjang kedua sosok ini dalam memperjuangkan rakyat dari penindasan dan kemiskinan. Hasilnya, pengaruh Nabi Muhammad jauh di atas Karl Marx.

Meskipun, penulisnya juga memberi penjelasan bahwa ada saat di mana Karl Marx mengungguli Nabi Muhammad dalam konteks pengaruhnya, yakni kira-kira pada awal abad ke-20 di mana pemikiran Karl Marx dalam bentuk Marxisme dan Komunisme begitu mempengaruhi dunia, bahkan sepertiga penduduk dunia kala itu sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Marx.

Selebihnya, Nabi Muhammad lah yang memiliki pengaruh lebih besar dibanding Mark. Terkait buku ini, perlu juga saya sampaikan bahwa buku berjudul “Nabi Muhammad dan Marx” ini diberi kata pengantar langsung oleh KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Artinya, sebagai karya akademik dan ilmiah, buku ini sangat jauh dari anggapan penistaan dan penodaan agama, justru mendapat apresiasi langsung dari Gus Dur.

Beberapa karya di atas saya kira sudah cukup menjadi contoh bahwa Nabi Muhammad sudah sering dibanding-bandingkan dengan tokoh-tokoh dunia lainnya. Tujuannya, agar kita semua menjadi tahu sejauh mana pengaruh Nabi Muhammad dalam lintasan sejarah umat manusia. Dan bukan bertujuan menghina dan menodai Islam.

Baca Juga:  Polemik Pembatalan Ceramah UAS di Masjid Kampus UGM

Soal fenomena membanding-bandingkan Nabi Muhammad dengan bung Karno yang dilakukan oleh Sukmawati baru-baru ini, saya kira kita juga harus bisa bersikap secara bijak dan jangan buru-buru emosi. Belum tentu yang dimaksud oleh Sukmawati itu benar-benar ingin mengunggulkan ayahnya dihadapan sosok Nabi Muhammad.

Umat Islam perlu memahami masalah ini secara teliti dan serius, bukan hanya bermodalkan video yang sepotong-potong. Artinya, video yang sudah terlanjur viral itu sebenarnya hanya potongan dari rangkaian ceramah panjang yang dilakukan oleh Sukmawati. Jangan sampai dengan hanya bermodal potongan video itu, kita sudah memastikan bahwa Sukmawati telah merendahkan Islam.

Saya tidak bermaksud membela Sukmawati, hanya saja ingin mendudukan persoalan ini secara semestinya. Jadilah umat yang dewasa dan tidak mudah marah, lihatlah video itu secara menyeluruh bersamaan dengan konteks pembicaraan dalam video tersebut.

Dengan begitu, baru kita bisa menilai secara langsung apa sesungguhnya maksud dari perkataan Sukmawati itu. Bila memang menista, maka buru-burulah meminta kepada Sukmawati untuk memohon maaf dan biarlah hukum yang berbicara.

Rohmatul Izad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *