Pembukuan Hadits pada masa Umar bin Abdul Aziz dan Tuduhan Orientalis

pembukuan hadits

Pecihitam.org – Umar bin Abdul Aziz, yakni seorang khalifah yang cukup berperan dalam pembukuan hadits pada masa pemerintahannya, sekalipun ini bukan berarti bahwa penulisan hadits baru dimulai pada masa beliau yang ketika memerintahkan beberapa tokoh hadits dalam mengumpukan hadits hadits yang beredar dan membukukannya. Karena faktanya, penulisan hadits sendiri telah dilakukan pada masa Rasulullah sesuai dengan beberapa riwayat yang ada.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Latar belakang perintah pembukuan hadits

Sebagai seorang khalifah yang dikenal dengan keadilan dan kehati hatiannya, tentu melihat Islam yang semakin meluas dan menyebar sampai ke pelososk pelosok wilayah, seolah membuatnya khawatir dan merasakan tentang adanya kebutuhan yang cukup mendesak dalam memelihara pembendaharaan Sunnah.

Terlebih pada awal masa abad kedua sampai pada awal abad ketiga yang memang telah ditandai dengan beberapa peristiwa yang cukup menonjol, diantaranya

  • Melemahnya daya hafal dikalangan umat Islam sebagaimana disebutkan oleh Adz Dzahabi dalam kitab Tadzkirat al Huffazh
  • Panjang dan bercabangnya sanad sanad hadits lantaran bentangan jarak, waktu dan semakin banyaknya rawi. Misalnya, hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat kemudian diterima oleh beberapa kelompok umat yang berasal dari berbagai daerah, sehingga sanadnya menjadi banyak. Ditambah lagi kemungkinan masuknya sejumlah faktor yang mencatatkannya atau mengandung banyak illat yang jelas atau samar.
  • Munculnya sejumlah kelompok umat Islam yang menyimpang dari jalan kebenaran yang ditempuh para sahabat dan tabi’in. (Dr. Nuruddin ‘Itr, ‘Ulumul Hadis, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya: 2017), h. 49)
Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 654-655 – Kitab Adzan

Akhirnya untuk mengantisipasi terjadinya kekacauan akibat beberapa point diatas, maka salah satu jalan yang ditempuh oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz ialah dengan mengirimkan surat permintaan kepada beberapa tokoh hadits untuk menuliskan hadits hadits yang terpercaya dan menyatukannya dalam bentuk buku.

Sebagaimana yang riwayatkan oleh Imam Al Bukhari bahwasanya Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Abu Bakar bin Hazm yang berisi

“Perhatikanlah hadits hadits Rasulullah Saw., yang kau jumpai dan tulislah, karena aku takut akan lenyapnya ilmu disebabkan meninggalnya para ulama. Janga diterima selain hadits Rasul Saw., dan hendaklah disebarluaskan ilmu dan diadakan majelis majelis ilmu supaya orang yang tidak mengetahuinya dapat mengetahuinya … “

Selain itu, Khalifah pun mengirimkan permintaan yang  sama kepada Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab az Zuhri. Persis dengan Abu Bakar bin Hazm, Imam az Zuhri pun menulis atas dasar perintah sang khalifah. Tidak hanya itu, sumbangsih Imam az Zuhari dalam dunia hadits pun dinilai sangat besar, bagaimana tidak? Beliau tidak hanya menyelamatkan hadits hadits dari berbagai kemungkinan yang bisa saja merusak kualitas hadits,

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 266 – Kitab Mandi

Namun beliau pun dikenal sebagai orang yang pertama kali menghimpun istilah istilah yang dipakai oleh para Muhadditsin, lalu disampaikannya kepada umat dan memerintahkan para pengikutnya untuk mengumpulkannya. Atas dasar inilah, sebagian ulama menetapkan beliau sebagai peletak ‘ulum al hadits’.

Selain itu, penyebab lainnya yang mendorong khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk membukukan hadits ialah, karena adanya sejumlah ulama yang belum melakukan pembukuan hadits dan tidak mau tukar menukar kitab hadits guna dijadikan sebagai pegangan bersama. Maka tak heran jika pada masa Umar bin Abdul Aziz lah keluar sebuah instruksi dalam pembukuan hadits guna menjadi pegangan umum.

Tuduhan orientalis

Orientalis, istilah inilah yang kadang kita temukan jikalau berada dalam pembelajaran al hadits atau as sunnah, sekalipun tidak semua orientalis memiliki tujuan yang hanya untuk meruntuhkan eksistensi hadits. Namun beberapa dari mereka seperti Goldziher dan Prof. Schacht memang telah dikenal sebagai orientalis yang sangat berbahaya dan bertujuan untuk melumpuhkan Islam melalui komentar buruk mereka terhadap hadits.

Memandang dari pembukuan dan pengumpulan hadits pada masa Umar bin Abdul Aziz, rupanya penerjunan diri dalam mempelajari Islam sampai keakar keakarnya  membuat goldziher (Seorang orientalis Yahudi Hungaria yang memiliki banyak referensi Arab, sehingga pada masanya ia dikenal sebagainya Syaikh-nya Orientalis) berkomentar bahwa sebenarnya pembukuan dan pengumpulan hadits yang dilakukan oleh Imam Az Zuhri dan kawan kawan hanyalah bentuk pemafaatan penguasa terhadap dirinya.

Baca Juga:  HaditsShahih Al-Bukhari No. 271-272 – Kitab Mandi

Bahkan pengumpulan dan pembukuan hadits pada masa itu dinilai sebagai upaya pengumpulan hadits palsu. Dan tentu komentar buruk ini dilayangkan oleh goldziher karena memang dia memandang bahwa tidak ada penulisan hadits pada masa Rasulullah Saw., sehingga para ulama belakangan mencoba menuliskan dan membukukan hadits itu sesuai dengan kepentingan masing masing dan sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Sungguh tuduhan yang tidak berdasar, terlebih jika mengatakan bahwa Imam Syihab az Zuhri adalah seorang ulama yang sengaja membuat hadits palsu atas dasar perintah khalifah. Padahal Imam Syihab az Zuhri sendiri merupakan seorang ulama yang memiliki sikap amanah dalam masalah Hadits.

Wallahu A’alam Bissawab …

Rosmawati