Benih-Benih Pendidikan Islam Nusantara Era Kesultanan Demak dan Kesultanan Mataram

Benih-Benih Pendidikan Islam Nusantara Era Kesultanan Demak dan Kesultanan Mataram

Pecihitam.org- Jika kita melihat lebih dalam pada era kesultanan demak dan kesultanan mataram, sebenarnya pendidikan islam Nusantara sudah terdapat benih-benih yang muncul. Berikut beberapa hal yang menjadi embrio dari Pendidikan islam nusantara kedua masa tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Silsilah Kesultanan Demak diawali dari pernikahan Sri Kertabumi (raja Majapahit) dengan Putri Campa yang beragama Islam. Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang putra yang bernama Raden Fatah yang kemudian menjadi Raja Islam pertama di Jawa (Demak) pasca runtuhnya Majapahit.

Kesultanan Demak adalah kerajaan Islam pertama dan terbesar di pantai utara Jawa (Pasisir). Tampilnya Kesultanan Demak menandai lahirnya khazanah keilmuan Islam.

Sebagaimana halnya di Kesultanan Aceh Darussalam, Kesultanan Demak pun membangun masjid yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Di masjid, diajarkan pendidikan agama dibawah pimpinan seorang Badal untuk menjadi seorang guru, yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama Islam.

Wali suatu daerah diberi gelaran resmi, yaitu gelar sunan dengan ditambah nama daerahnya, sehingga tersebutlah nama-nama seperti: Sunan Gunung Jati, Sunan Geseng, Kiai Ageng Tarub, Kiai Ageng Sela dan lain-lain.

Baca Juga:  Pengaruh Arab dalam Proses Masuknya Islam di Nusantara

Relasi antara Kesultanan Demak dengan para wali – yang dikenal dengan Wali Songo – bersifat mutual-simbiosis. Raden Fatah menjadi Sultan atas restu para wali, di samping itu para wali juga termasuk penasehat dan pembantu sultan.

Selanjutnya, Kerajaan Demak ternyata tidak bertahan lama, pada tahun 1568 M terjadi perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang. Namun adanya perpindahan ini tidak menyebabkan terjadinya perubahan yang berarti terhadap sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang sudah berjalan.

Baru setelah pusat kerajaan Islam berpindah dari Pajang ke Mataram (1586), terutama di saat Sultan Agung (1613) berkuasa, terjadi beberapa macam perubahan.

Sultan Agung setelah mempersatukan Jawa Timur dengan Mataram serta daerah-daerah yang lain, sejak tahun 1630 M mencurahkan perhatiannya untuk membangun negara, seperti menggalakkan pertanian, perdagangan dengan luar negeri dan sebagainya, bahkan pada zaman Sultan Agung, kebudayaan, kesenian dan kesusastraan sangat maju.

Baca Juga:  Sejarah Awal Mula Diwajibkannya Puasa Ramadhan

Di era Kesultanan Mataram, pendidikan mendapat perhatian yang cukup besar. Meskipun tidak ada semacam undang-undang wajib belajar, tapi anak-anak usia sekolah tampaknya harus belajar pada tempat-tempat pengajian di desanya atas kehendak orang tuanya sendiri.

Ketika itu hampir disetiap desa diadakan tempat pengajian al-Quran, yang diajarkan huruf hijaiyah, membaca al-Quran, barzanji, pokok dan dasar-dasar ilmu agama Islam dan sebagainya. Adapun cara mengajarkannya adalah dengan cara hafalan semata-mata. Di setiap tempat pengajian dipimpin oleh guru yang bergelar modin.

Selain pelajaran al-Quran, juga ada tempat pengajian kitab, bagi murid-murid yang telah khatam mengaji al-Quran. Tempat pengajianya disebut pesantren.

Para santri harus tinggal di asrama yang dinamai pondok. Adapun cara yang dipergunakan untuk mengajar kitab ialah dengan sistem sorogan, seorang demi seorang bagi murid-murid permulaan, dan dengan cara bendungan (halaqah) bagi pelajar-pelajar yang sudah lama dan mendalam keilmuanya.

Sementara itu pada beberapa daerah Kabupaten diadakan pesantren besar, yang dilengkapi dengan pondoknya, untuk kelanjutan bagi santri yang telah menyelesaikan pendidikan di pesantren-pesantren desa. Pesantren ini adalah sebagai lembaga pendidikan tingkat tinggi.

Baca Juga:  9 Ulama Sufi Ini Memiliki Peran dalam Sejarah Perang Salib

Kitab-kitab yang diajarkan pada pesantren besar itu ialah kitab-kitab besar dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan kata demi kata kedalam bahasa daerah dan dilakukan secara halaqah.

Bermacam-macam ilmu agama telah diajarkan disini, seperti: fiqh, tafsir, hadits, ilmu kalam, tasawuf, nahwu, sorof, dan lain sebagainya. Selain pesantren besar, juga diselenggarakan semacam pesantren takhassus, yang mengajarkan satu cabang ilmu agama dengan cara mendalam atau spesialisasi.

Mochamad Ari Irawan