Pengertian Amtsal dalam al-Quran Menurut Ahli Tafsir Beserta Contohnya

Pengertian Amtsal Dalam al-Quran Menurut Ahli Tafsir Beserta Contohnya

PeciHitam.org – Dalam perspektif Ulum al-Quran, Amtsal dalam al-Quran adalah pesan-pesan al-Quran yang disampaikan dengan perumpamaan-perumpamaan, yakni mengumpamakan hal-hal abstrak dengan yang konkret agar pesan-pesannya lebih mudah dipahami.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ini berarti pesan-pesan agung yang dikandung al-Quran akan mudah dipahami dengan melalui pemaknaan terhadap perumpamaan-perumpamaan yang dikemukakannya, sebab perumpamaan-perumpamaan dalam al-Quran mencakup berbagai aspek kehidupan yang meliputi syariat, akidah, akhlak, dan muamalah.

Dengan kata lain, ia meliputi masalah-masalah kehidupan dunia dan akhirat, hubungan manusia dengan sesama dan lingkungannya serta hubungan manusia dengan penciptaannya. Hakikat-hakikat makna dan tujuannya dikemukakan oleh al-Quran dalam bentuk perumpamaan atau analog dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin, agar lebih mengena dan lebih mudah dipahami oleh pembacanya.

Demikian banyak makna yang baik menjadi lebih indah dan menarik karena diungkapkan melalui tamtsil, yang karenanya lebih mendorong jiwa untuk menerima makna yang dimaksudkan dan membuat akal merasa puas dengannya.

Banyak sekali amtsal dengan berbagai bentuk dan jenisnya di dalam al-Quran. Para pengkaji studi al-Quran umumnya mengelompokkan menjadi tiga macam, yaitu amtsal al-musarrahah, amtsal al-kaminah, dan amtsal al-mursalah.

Dalam khazanah Ulum al-Quran, tokoh yang pertama kali membahas permasalahan Amtsal al-Quran ialah Muhammad bin Husain al-Naisaburi (w. 406 H). Pada tahap selanjutnya, langkah al-Naisaburi juga diikuti oleh Abd al-Hasan Ali bin Muhammad al-Mawardi (w. 450 H) dan Ibn al-Qayyim al-Jawziyah (w. 754 H) juga ikut menyemarakkan kajian seputar amtsal al-Quran.

Baca Juga:  Surat yang Turun Terakhir, Sebenarnya yang Mana? Begini Perbedaan Ulama dalam Riwayatnya

Kata amtsal yang merupakan bentuk plural dari mathal serta kata mitsil dan matsil, menurut Abdul Jalal adalah sama dengan kata syabah, syibih, dan syabih baik dalam kata maupun dalam maknanya. Sementara Quraish Shihab membedakan antara matsal dan mitsil, menurutnya mitsil adalah kesamaan, sedang matsal adalah keserupaan.

Lebih lanjut Jalal menyatakan bahwa secara garis besar etimologi kata amtsal ada tiga macam. Pertama, perumpamaan, gambaran atau perserupaan. Kedua, kisah atau cerita, jika keadannya sangat asing atau aneh. Ketiga, sifat, keadaan atau tingkah laku yang mengherankan.

Dalam pemakaian sehari-hari dikalangan masyarakat Indonesia, kata ini mempunyai makna perumpamaan, bandingan, contoh dan lain-lain, sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata misal dengan “sesuatu yang menggambarkan sebagian dari keseluruhan”.

Secara terminologi, definisi amtsal dapat ditemukan dalam berbagai pendapat. Sarjana ‘Ilm al-Adab biasa mendefinisikan amthâl dengan menyerupakan sesuatu (seseorang; keadaan) dengan apa yang terkandung dalam perkataan itu. Orang pertama yang mendefinisikan matsal seperti ini adalah al-Hakam bin Yagus al-Naghri.

Baca Juga:  Surah An-Nisa Ayat 153-154; Seri Tadabbur Al Qur'an

Contohnya ungkapan rubb ramyah min ghair ram (Betapa banyak lemparan panah yang mengena tanpa sengaja) yang berarti bahwa banyak musibah yang terjadi dari orang yang salah langkah. Ungkapan ini menggambarkan bahwa orang yang salah itu kadang-kadang menderita musibah, karena itu haruslah ada persamaan antara arti yang diserupakan dengan asal ungkapan ini sebagai asal ceritanya, yakni banyak kejadian atau musibah yang terjadi tanpa sengaja.

Dalam Ilm al-Bayan, amtsal didefinisikan dengan suatu bentuk rangkaian majaz murakkab yang konteksnya merupakan persamaan. Maksudnya, amtsal adalah ungkapan kiasan majmuk, di mana kaitan antara yang disamakan dengan asalnya adalah karena adanya persamaan atau keserupaan. Amtsal dalam konteks ini adalah bentuk isti‘arah tamtsiliyah (kiasan yang menyerupai).

Contohnya seperti ucapan yang ditujukan bagi orang yang ragu-ragu mengerjakan suatu perbuatan dengan kata-kata; Ma li arak taqaddam rijl wa ta’akkar ukhra (Mengapa aku lihat kamu melangkahkan satu kaki dan mengundurkan kaki yang lain?).

Menurut al-Suyuti, amtsal mendeskripsikan makna yang abstrak dengan gambaran yang konkret agar lebih memberi kesan dalam hati, seperti menyerupakan yang samar dengan yang tampak, yang gaib dengan yang hadir.

Baca Juga:  Surah Fussilat Ayat 6-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Bagi al-Qattan, definisi Amtsal al-Quran yang tepat ialah mengungkapkan suatu makna dalam bentuk kalimat indah, padat, dan akurat serta terasa meresap di dalam jiwa, baik kalimat itu dalam bentuk tasybih (penyerupaan) atau qawl mursal (ungkapan bebas). Lebih lanjut al-Qattan mengkritik definisi sarjana ‘Ilm al-Bayân, karena menurutnya di antara Amtsal al-Quran ada yang bukan isti‘arah dan penggunaannya tidak populer di masyarakat.

Mohammad Mufid Muwaffaq