Penjelasan Makna Syukur yang Terdapat dalam Ayat Al-Quran Menurut Para Ahli Bahasa

Penjelasan Makna Syukur yang Terdapat dalam Ayat Al-Quran Menurut Para Ahli Bahasa

Pecihitam.org – Berbicara tentang makna syukur, tak jarang para agamawan yang membawakan tema tersebut melalui Surat Ibrahim ayat 7 dalam ceramahnya. Begini bunyi ayat tersebut,

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS Ibrahim [14]: 7). 

Perintah dalam ayat tersebut sangat jelas yaitu anjuran untuk bersyukur, jika ingin ditambah nikmat oleh Allah SWT. Karena tidak jarang kita sering sekali mendengar nasihat, “Bersyukur aja, nanti ditambah nikmatnya,” sebenarnya nasihat ini terinspirasi dari Alquran surat Ibrahim ayat 7 ini.

Sebelumnya (di ayat 5) perintah bersyukur ini sudah ditegaskan secara khusus untuk kaum Nabi Musa AS (Bani Israil). Namun, di ayat 5 termaktub bahwa bersyukur saja tidak cukup, umat Nabi Musa (juga secara umum umat Rasulullah SAW) harus mampu menahan diri (bersabar) terhadap hal-hal yang kurang atau bahkan tidak disukai.  

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 53-55; Seri Tadabbur Al Qur'an

Nah, kembali ke lafal syukur yang terdiri atas kata syinkaf, dan ra’, secara bahasa,  kata ini bermakna membuka, menampakkan, menyingkap, dan menunjukkan.

Dalam karyanya Maqayis al-Lughah, Ahmad ibn Faris mengemukakan beberapa makna dari kata ini:

  1. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh seseorang.
  2. Syukur juga bermakna penuh atau lebat. 

Dengan demikian, dua makna tersebut korelatif dengan sikap manusia yang ridha dan puas atas nikmat Allah SWT, baik banyak maupun sedikit.  Melalui makna dasar tersebut itulah, maka tergambar bahwa siapa yang merasa puas dengan perolehan yang sedikit setelah berusaha dengan maksimal.

Pada hakikatnya dia akan memeroleh nikmat yang banyak, lebat, dan subur, mengingat balasan Allah tidak selalu dalam bentuk material yang kasat mata. 

Senada dengan Ahmad ibn Faris, pakar bahasa Arab, Syekh ar-Raghib al-Ashfahani dalam Mufradat-nya berpendapat bahwa makna kata Syukur juga berarti sebagai upaya untuk mau menampakkan nikmat-nikmat Tuhan ke permukaan (lihat pengujung surah adh-Dhuha). Karenanya, makna syakara adalah yang merupakan lawan dari kafara (menutup) atau tidak mau mensyukuri nikmat Allah SWT.

Baca Juga:  Meneladani Kesuksesan Dakwah Rasulullah

Dengan demikian, makna kata dasar syukur di atas dapat kita pahami dengan perasaan syukur menuntut pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan dan pengamalan/ pemanfaatan nikmat tersebut melalui anggota tubuh. Sehingga akhirnya, makna ini sangat terkait dengan kata yasykur, syakir maupun syakur.

Apa perbedaan ketiganya? Kata yasykur terambil dari bentuk fi’l mudhari/ kegiatan yang terus menerus dilakukan yang mempunyai arti upaya sungguh-sungguh untuk mensyukuri nikmat Allah (walau sesekali khilaf dan lupa) namun tetap mengupayakannya.

Sedangkan syakir, jika bersyukur semakin sering dilakukan oleh seorang hamba, maka ia memeroleh derajat syakir ini, maka syakir tingkatannya lebih tinggi dari pada yasykur

Selanjutnya, terakhir yaitu syakur, bila perasaaan mau dan sadar untuk mensyukuri nikmat Allah telah mendarah daging (baik bersyukur terhadap cobaan dari Allah) telah menjadi kepribadian seorang hamba, maka ialah yang memeroleh derajat tertinggi yakni syakur.  

Baca Juga:  Pandangan Islam Tentang Perempuan yang Melamar Laki-laki

Tingkatan ketiga inilah yang rasanya masih sulit dilakukan, meski tentu sangat mungkin bisa diupayakan oleh seluruh hamba, karenanya, Alquran melukiskan bahwa sangat sedikit hamba-Nya yang memeroleh derajat syakur.

“Dan sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang syakur (mau berterimakasih),” (QS Saba [34]: 13).

Semoga ulasan sederhana ini mampu menguatkan kita untuk berupaya menjadi hamba syakur, hamba yang mau dan tulus secara sadar mengucapkan terimakasih pada Tuhan yang telah memberi hidup juga memanfaatkan nikmat-nikmat tersebut kepada sesama makhluk-Nya. 

Mochamad Ari Irawan