Pentingnya Meneladani Sifat Tawadhu yang Diajarkan Para Ulama

pentingnya sifat tawadhu

Pecihitam.org – Tawadhu merupakan sikap rendah hati seseorang yang ditujukan kepada Allah yang tercermin dari sikap dan perilaku kepada sesama makhluk-Nya. Tawadhu’ merupakan lawan dari sombong, orang yang punya sifat ini maka ia akan terbebas dari sombong, itulah mengapa betapa pentingnya karakter tawadhu.

Adapun orang yang tawadhu’ ia akan dimuliakan oleh Allah baik di dunia maupun di akhirat kelak, sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Dari sahabat Aus bin Khauli r.a:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَوَاضَعَ لِلهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَّبَرَ وَضَعَهُ اللهُ

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang tawadhu’ karena Allah, maka Allah akan mengangkat (derajat) nya (di dunia dan akhirat), dan siapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.” H.R Imam Ibnu Mandah dan imam Abu Nu’aim.

Menurut Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya Risâlatul Mu‘awanah wal Mudhaharah wal Muwazarah ia mengemukakan tentang ciri-ciri orang yang tawadhu’:

فمن أمارات التواضع حبُّ الخمول وكراهية الشهرة وقبول الحق ممن جاء به من شريف أو وضيع. ومنها محبة الفقراء ومخالطتهم ومجالستهم. ومنها كمال القيام بحقوق الإخوان حسب الإمكان مع شكر من قام منهم بحقه وعذرمن قصَّر.  

Artinya: “Tanda-tanda orang tawadhu’, antara lain, adalah lebih senang tidak dikenal daripada menjadi orang terkenal; bersedia menerima kebenaran dari siapa pun asalnya baik dari kalangan orang terpandang maupun dari kalangan orang yang rendah kedudukannya; mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan duduk bersama mereka; bersedia mengurusi dan menunaikan kepentingan orang lain dengan sebaik mungkin; berterima kasih kepada orang-orang yang telah menunaikan hak yang dibebankan atas mereka, sementara memaafkan mereka yang melalaikannya.”

Maka dari itu sangat pentingnya sifat tawadhu itu, karena tidak mungkin kita bisa bersifat tawadhu’ melainkan dengan pembelajaran-pembelajaran, karena praktek lebih susah dari pada teori yang dipelajari.

Baca Juga:  Bahaya dan Keburukan Sifat Dengki yang Patut Kita Jauhi

Diawali dengan menahan diri dari hal-hal yang yang bisa menimbulkan rasa sombong hingga kita dapati bahwa kita lebih memilih tawadhu’ dari pada sombong padahal kita bisa seandainya kita melakukan kesombongan. Maka semakin tinggi tawadhu’ kita maka semakin tinggi pula Allah mengangkat derajat kita disisi-Nya.

Dari Anas bin Malik r.a

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَا مِنْ آدَمِيِّ إِلاَّ وَفِيْ رَأْسِهِ سِلْسِلَتَانِ: سِلْسِلَةٌ فِى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَسِلْسِلَةٌ فِى الْأَرْضِ السَّابِعَةِ، فَإذَا تَوَاضَعَ رَفَعَهُ اللهُ بِالسِّلْسِلَةِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، وَإِذَا تَجَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ بِالسِّلْسِلَةِ إِلَى الْأَرْضِ السَّابِعَة.

Nabi saw. bersabda, “Tidak ada manusia kecuali di kepalanya ada dua rantai, rantai di langit ke tujuh dan rantai di bumi ke tujuh, jika ia tawadhu’ maka Allah akan mengangkatnya dengan rantai ke langit ke tujuh, dan jika ia sombong maka Allah akan merendahkannya dengan rantai ke bumi ke tujuh.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Kharaithi, imam Al-Hasan bin Sufyan, Ibnu La’al, dan imam Ad-Dailami.

Begitu pentingnya sifat tawadhu, maka sudah seharusnya kita praktekan dalam kehidupan sehari-hari, baik dengan Allah maupun dengan makhluk-Nya. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani telah memberikan gambaran untuk kita tentang penerapan tawadhu’.

Baca Juga:  Orang yang Tawadhu’ Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad

اذا لقيت أحدا من الناس رأيت الفضل له عليك وتقول عسى أن يكون عند الله خيرا منى وأرفع درجة, فإن كان صغيرا قلت هذا لم يعص الله وأنا قد عصيته فلا شك إنه خير منى, وإن كان كبيرا قلت هذا قد عبد الله قبلى, وإن كان عالما قلت هذا أعطي مالم أبلغ ونال مالم أنال وعلم ما جهلت وهو يعمل بعلمه, وإن كان جاهلا هذا أعصى الله بالجهل وأنا عصيته بالعلم ولا أدرى بما يحتمل لى ولا يحتمل له

Jikalau kamu berjumpa dengan seseorang maka hendaklah engkau melihat keunggulannya dibanding denganmu. Dan katkanlah (dalam hati) bahwa “orang itu lebih baik dari pada aku di mata Allah swt”. Maka apabila (kamu berjumpa) dengan anak kecil, hendaklah berkata (dalam hati) dia ini belum terlalu banyak maksiat (karena umurnya lebih muda) dan otomatis dia lebih baik dari pada aku. Dan apabila (kamu berjumpa) dengan orang tua, hendaklah berkata orang ini telah lama beribadah kepada Allah sebelum aku (karena umurnya lebih tua, maka dia lebih baik dia dari pada aku). Apabila (kamu berjumpa) dengan seorang yang ‘alim, hendaklah berkata (dalam hati) dia telah diberi sesuatu (pengetahuan) yang aku belum memilikinya dan dia telah memperoleh sesuatu yang aku belum peroleh dan dia juga telah mengerti apa yang aku tidak mengerti. Dia beramal dengan ilmunya (pastilah lebih diterima amalnya dari padaku). Apabila (kamu berjumpa) dengan seorang yang bodoh, hendaklah berkata dia maksiat karena kebodohannya, sedangkan aku melakukan maksiat dengan ilmuku. Sungguh aku tidak tahu apakah aku lebih baik dari pada dia?

Dari perkataan Syaikh Abdul Qadir diatas dapat kita simpulkan kepada siapapun kita harus tetap tawadhu’, menghinakan diri sendiri dan memuliakan orang lain, tidak sombong karena usia, kealiman, dan sebagainya.

Baca Juga:  Pamer Harta di Media Sosial Menurut Pandangan Islam

Karena ketika kita sudah menganggap orang lain lebih buruk dari pada kita, maka sungguh kita telah berada dalam kesombongan bahkan kepada seorang yang fasik sekalipun. Karena ending dari kehidupan ini kita tidak tahu, apakah kita nanti mati dalam keadaan mulia atau dihinakan oleh Allah ta’ala. Wallahua’lam.

Lukman Hakim Hidayat
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *