Peran dan Provokasi Media Massa Sejak Zaman Nabi Hingga Sekarang

peran media

Pecihitam.org – Al-Walid bin Uqbah adalah satu-satunya Sahabat Nabi yang mendapat “kehormatan” digelari Fasiq sampai dua kali di dalam al-Qur’an. Ketika ia diutus oleh Nabi saw untuk mengambil zakat Bani al-Musthaliq, dan secara historis al-Walid bin Uqbah ada sejarah kelam dengan Bani al-Musthaliq.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Saat al-Walid bin Uqbah datang dan disambut oleh Bani Musthaliq, lalu al-Walid mengira akan diserang sebab melihat banyak Bani al-Musthaliq berkumpul. Maka Uqbah kembali dan melaporkan kepada Nabi saw bahwa Bani Musthaliq murtad dan sedang mempersiapkan pemberontakan. Hampir saja Nabi saw terpengaruh dengan informasi dari al-Walid bin Uqbah. Namun, saat itu turun surah al-Hujurat ayat 6 Allah swt berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

Terjemahnya: hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka telitilah (dengan baik) supaya kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohanmu. Lalu kamu menyesali apa yang telah kamu lakukan (Qs. al-Hujuraat/49: 6).[1]

Selanjutnya, ketika al-Walid berdebat dengan Ali bin Abi Thalib, dan tentu saja kalah sebab Ali adalah madinatul ilmi Nabi saw. Maka al-Walid ingin memenangkan perdebatan itu dengan membanggakan dirinya. “Aku lebih pemberani daripada kamu dan lidah yang lebih panjang daripada kamu. Sambil mengacu pada ayat al-Hujurat/49:6 Ali berkata: Ana mu’min wa anta fasiq (saya mukmin dan anda fasik). Berkenaan dengan peristiwa ini, Allah swt menurunkan surah as-Sajadah/32: 18

أَفَمَن كَانَ مُؤْمِنًا كَمَن كَانَ فَاسِقًا ۚ لَّا يَسْتَوُۥنَ

Terjemahnya: apakah sama orang mukmin dengan orang fasiq? Mereka tidaklah sama.[2]

Dalam perjalanan sejarah kita mengenal pelaku fasiq pertama dari kalangan sahabat adalah al-Walid bin Uqbah, ia menjadi personifikasi orang fasik, karena profesinya adalah, “menyebarkan isu dikalangan kaum muslimin, sehingga menimbulkan keresahan”.

Baca Juga:  Ketika Toleransi Tercederai, Apakah Karena Agama atau Ego Manusianya?

Ketika menjadi gubernur ia di Kufah, ia minum khamr dan shalat dalam keadaan mabuk. Abdullah bin Mas’ud menegurnya dan banyak yang mendukung Ibnu Mas’ud. Al-Walid melapor kepada khalifah bahwa Abdullah bin Mas’ud meresahkan masyarakat, menghasut orang untuk memberontak, mengganggu stabilitas dan keamanan.

Demikian penjelasan Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam aktual tentang peran media-massa islam. Tulisan ini menarik untuk disegarkan kembali oleh karena mulai muncul al-Walid yang baru yang suka menyebarkan fitnah namun menuduh orang lain yang melakukannya. Mereka menutupi keburukannya dengan menilai buruk orang lain.

Contohnya sekelas Media TV Nasional juga diduga melakukan kebohongan dan virus corona menjadi sesuatu yang sangat ditakuti. Itu karena peran media dalam memfreming berita soal virus corona. Masker menjadi laku terjual habis karena orang takut dengan virus tersebut, padahal virus corona sebenarnya tidak begitu mengkhawatirkan, ia sama dengan virus-virus yang lainnya.

Seorang ustadz dengan bangga mengatakan bahwa virus corona adalah tentara Allah untuk muslim Uighur, sebab banyak masyarakat china yang terkena virus Corona, namun saat virus yang sama menimpa umat Islam sang ustadz kelabakan mencari pembenaran dengan dalil-dalil agama. Nampaknya, jadi ustadz memang asyik di Indonesia. 

Bashar Asad membantai rakyat sunni, akibat dari isu tersebut banyak umat islam membenci Bashar Asad maka ramai-ramailah mereka menggalang dana untuk Suriah dan berdatanganlah mereka ke Suriah untuk membantu rakyat suriah yang katanya dibantai oleh Bashar Asad. Menurut media, Bashar Asad itu rezim yang harus ditumbangkan, namun faktanya tidak demikian.

Baca Juga:  Beragam Ekspresi Maulid Nabi Muhammad di Nusantara

Keperhatinan kepada Muslim Uighur maupun di Suriah  adalah ulah media berdasarkan pesanan, media hari ini tidaklah menjadi objektif tetapi sangat subjektif. Media sering kali dijadikan sebagai alat untuk memperburuk citra seseorang atau suatu negara tergantung kepentingan media.

Selain media yang sudah tidak lagi objektif, para “ustadz” pun mengambil bagian untuk semakin memperparah keadaan, dengan mengutip ayat, hadis mereka “boleh” menghina, merendahkan orang lain dan menyebarkan hoax. Bukankah Ahok didemo dan dipaksa menistakan agama islam karena berawal dari media yang tidak objektif dalam menyampaikan berita.

Jika al-Walid bin Uqbah menyebarkan berita-berita provikatif, dampaknya tidak begitu banyak pengaruh bagi umat Islam pada saat itu karena belum ada media, namun saat ini dengan kecanggihan teknologi, kejadian di seluruh dunia dapat didapatkan dengan waktu yang begitu singkat.

Maka memberikan berita yang provokatif sambil membungkusnya dengan dalil-dalil agama oleh seorang “ustadz” dampaknya tentu saja akan lebih berbahaya bagi masyarakat muslim di seluruh dunia.

Benarlah petunjuk al-Qur’an bahwa setiap berita, media seharusnya diposisikan sebagai sesuatu yang belum dapat dibenarkan sampai berita tersebut dapat terklarifikasi agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat luas akibat ketidaktahuan kita.

Semangat jihad umat Islam seharusnya sebanding dengan semangat tabayyun (klarifikasi) sehingga ada kehati-hatian dalam menetapkan sesuatu. Bukankah sifat terburu-buru adalah bagian dari sifat setan. Lebih baik terlambat dalam memberikan keputusan daripada cepat memberikan keputusan yang didasarkan pada fitnah.

Baca Juga:  Sufisme Adalah Solusi Bagi Penyakit Ekstremisme Islam dan Hati yang Kering

Penyebaran berita hoax, fitnah sering kali terjadi dikalangan “intelektual” terlebih lagi pada masyarakat awam, baik yang digelari ustadz maupun yang bukan. Apa sebabnya? Karena tidak membiasakan diri untuk melakukan klarifikasi sebelum menyebarkan berita tersebut.

Umat islam secara keseluruhan seharusnya membiasakan diri untuk mencurigai sebuah berita yang mengandung nilai negatif bagi orang lain sampai berita tersebut dapat dibenarkan isi beritanya walaupun berita tersebut berasal dari seorang ustadz.

Kata fatabayyanu adalah fi’il amar kata perintah. Dalam kaidah ushul fiqh “al-amr lil ijabah (perintah itu konsekuensi adalah wajib). Maka pada dasarnya melakukan klarifikasi terhadap sebuah berita adalah wajib dalam Islam.

Melakukannya bernilai ibadah, mengabaikannya adalah berdosa. Selain waspada setiap berita, memberikan berita yang berimbang menjadi penting untuk dilakukan hari ini. Jihad di medsos menjadi penting, mungkin karena itu ulama NU menyerukan untuk jihad lewat medsos.

Media harus dikuasai oleh orang-orang yang terjaga kredibilitasnya dalam menyebarkan sebuah berita sehingga masyarakat tidak menjadi korban dari berita-berita yang hoax yang dilakukan oleh orang-orang fasik seperti al-Walid bin Uqbah.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwami at-Thariq. 


[1] Asbab al-Nuzul ayat ini dapat ditemukan dalam keterang Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Thabari, al-Dur al-Mantsur dan tafsir-tafsir lainnya.

[2] Asbab al-Nuzul ayat ini berkaitan antara Imam Ali dengan al-Walid bin Uqbah, Ali sebagai orang mukmin, dan al-Walid bin Uqbah sebagai orang fasik. Lihat tafsir al-Thabari, tafsir al-Dur al-Mantsur, Tafsir al-Zamakhsyari dll.

Muhammad Tahir A.