Periode Penulisan Hadis Dimulai Sejak Zaman Rasulullah atau Sahabat?

penulisan hadis

Pecihitam.org – Al Qur’an dan hadis, tentu dua pedoman penting inilah yang selalu kita jadikan sebagai landasan dalam menjalani berbagai rutinitas keseharian, baik pada masalah ibadah, muamalah maupun pada masalah atau perkara lainnya. Namun yang perlu kita ketahui rupanya dalam menguak sejarah penulisan Al-Qur’an dengan hadis rupanya memiliki perbedaan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam penulisan Al Qur’an sendiri sudah jelas dikatakan dalam sejarah bahwasanya penulisan dari ayat ayat suci ini memang diperintahkan oleh Rasulullah Saw., kepada para Sahabat.

Dengan menunjuk Beberapa sahabat yang pada masa itu pandai baca tulis sebagai penulis wahyu, yang salah satunya ialah Zaid bin Tsabit. Lain halnya dengan penulisan hadis yang dimana para ulama masih berada pada status pro dan kontra.

Tak sedikit yang mengatakan bahwa penulisan hadis baru dimulai pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (Khulafaur Rasyidin kelima). Khalifah ketika itu memerintahkan tokoh tokoh hadis pada waktu itu agar menuliskan dan membukukan hadis. Mengingat sudah banyak para tokoh hadis dan para perawi hadis yang meninggal dunia dan sebagiannya lagi yang keluar daerah dalam menyebarkan ajaran Agama.

Diantaranya Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada waktu itu meminta kepada Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin Syihab bin ‘Abdullah bin al-Harith bin Zuhrah atau yang dikenal dengan nama Ibnu Syihab Az Zuhri.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 582 – Kitab Adzan

Beliau merupakan seorang shighar at-tabi’in (tabi’in junior) yang ahli dalam bidang fiqh dan hadis dan selain itu. Umar bin Abdul Aziz pun mengirimkan sepucuk surat kepada Abu bakar ibn Muhammad ibn Amr ibn Hazmin yang merupakan Gubernur Madinah pada waktu itu, dimana isi suratnya berbunyi;

“Lihat dan periksalah apa yang dapat diperoleh dari hadis Rasul, lalu tulislah karena aku takut akan lenyap ilmu disebabkan meninggalnya ulama dan jangan Anda terima selain dari hadis rasul dan hendaklah Anda tebarkan ilmu dan mengadakan majelis-majelis ilmu, supaya orang yang tidak mengetahui dapat mengetahuinya sehingga ilmu tidak hilang hingga dijadikannya barang rahasia.”

Lantas apakah ini bukti bahwa tidak ada penulisan hadis pada masa Rasulullah Saw.? mengingat pada waktu itu para sahabat fokus dalam menuliskan ayat-ayat suci AlQuran. Sedangkan hadis hanya diperintahkan untuk menghafalkannya saja. Bahkan dalam Riwayat Muslim dikatakan bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda

“Janganlah kalian tulis apa saja dariku selain Al Qur’an. Barang siapa telah menulis dariku selain Al Qur’an, hendaklah di hapus. Ceritakan saja apa yang diterima dariku, ini tidak mengapa. Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah ia menempati tempat duduknya di Neraka”

Namun rupanya dalam menjelajahi penulisan penulisan hadis, tentu tidak membuat para tokoh hadis langsung menyimpulkan bahwa di zaman Rasulullah Saw., tidak ada proses penulisan hadis.

Baca Juga:  Apa Sih Takhrij Hadits Itu? Ini Pengertian dan Penjelasannya

Karena faktanya salah seorang sahabat yakni Abdullah ibn Amr Al ‘Ash memiliki catatan hadis yang ditulisnya bahkan diakui dan dibenarkan oleh Rasulullah Saw., dan catatan itu sendiri diberinya nama “Al Shahifah al Shadiqah”

Maka dari sikap Abdullah ibn Amr Al ‘Ash inilah sering mendapatkan kritikan dari orang orang Quraish dengan mengatakan “Engkau tuliskan apa saja yang datang dari Rasul, padahal Rasul itu manusia, yang bisa saja bicara dalam keadaan marah”.

Tentu dalam hal ini Abdullah ibn Amr Al ‘Ash tidak tinggal diam begitu saja melainkan mengadukan terkait kritikan orang orang Quraish kepada Baginda Rasulullah Saw. Mendengar pengaduannya maka Rasulullah berkata

“Tulislah! Demi zat yang diriku berada ditangan-Nya, tidak ada yang keluar daripadanya kecuali yang benar” (HR. Bukhari)

Sehingga dari pemaparan singkat diatas, tentu kita akan bertanya tanya tentang adanya dua hadis yang kontradiktif. Dimana yang hadis pertama tentang larangan penulisan hadis, dan yang kedua adalah pengakuan dan pembenaran Rasulullah Saw., terhadap penulisan hadis yang dilakukan oleh beberapa sahabat yang salah satunya ialah Abdullah ibn Amr Al ‘Ash.

Memandang hadis yang kontradiktif seperti diatas, tentu para ulama tidak mengambil jalan dengan menggugurkan salah satu hadis, melainkan mencoba mengkompromikan keduanya sehingga kedua hadis tidak dinilai berseberangan.

An-Nawawi dan As-Suyuthi berpendapat bahwasanya pelarangan hadis hanya dimaksudkan kepada mereka yang kuat hafalannya, sehingga tidak terjadi kekhawatiran akan terjadinya lupa. Akan tetapi bagi mereka yang kurang kuat hafalannya maka diperbolehkan untuk menuliskannya. (Al Suyuthi, Tadrib al Rawy fi Syarh Taqrib Al Nawawi, Juz 2, [Beirut: Dar al Fikr, 1988], h. 67)

Sedangkan Ibnu Hajar Al Asqalani sendiri beranggapan bahwa larangan Rasulullah Saw., terhadap penulisan hadis khusus ketika Al Qur’an turun, dan ini dikarenakan khawatirnya Rasulullah Saw., bilamana terjadi percampur adukan antara Naskah ayat Suci dengan hadis.

Baca Juga:  Macam-macam Hadis Dhaif Menurut Para Ulama Hadis, Bagian 2

Itulah sekilas sejarah kapan penulisan hadis dan terkait penulisan hadis pada masa Umar bin Abdul Aziz sebetulnya merupakan bentuk penulisan dan pembukuan hadis secara resmi yang diperintahkan. Dengan alasan sudah banyak tokoh tokoh hadis pada waktu itu yang meninggal dunia. Sehingga berangkat dari sini muncul ketakutan bilamana hadis itu tidak dibukukan tentu akan berdampak pada umat Muslim itu sendiri.

Wallahu a’lam…

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.