Perebutan Kekuasaan dan Periodesasi Dinasti Abbasiyah

Perebutan Kekuasaan dan Periodesasi Dinasti Abbasiyah

PeciHitam – Sejarah Peralihan kekuasaan dari Daulah Umayyah kepada daulah Abasiyah bermula ketika adanya pihak oposan yakni Bani Hasyim yang menuntut kepemimpinan Islam berada di tangan mereka karena mereka adalah keluarga Nabi saw yang terdekat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tuntutan itu sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi baru menjelma menjadi gerakan ketika Bani Umayyah naik tahta dengan mengalahkan Ali bin Abi Thalib dan bersikap keras terhadap Bani Hasyim.

Alasan lainnya kenapa mereka bersikap oposan adalah karena menurut mereka pemerintahan Umayyah telah banyak menyimpang jauh dari nilai-nilai Islam.

Propaganda Abbasiyah di mulai ketika Umar bin Abdul Aziz (717-720) menjadi khalifah Daulah Umayyah. Umar memimpin dengan adil. Ketentraman dan stabilitas negara memberi kesempatan kepada gerakan Abbasiyah untuk menyusun dan merencanakan gerakannya yang berpusat di al-Humayyah.

Pimpinannya waktu itu adalah Ali bin Abdullah bin Abbas, seorang zahid. Dia kemudian digantikan oleh anaknya, Muhammad, yang memperluas gerakannya.

Dia menetapkan tiga kota sebagai pusat gerakan yaitu kota al-Humayyah sebagai pusat perencanaan dan organisasi, kota Kuffah sebagai kota penghubung dan kota Khurasan sebagai pusat gerakan praktis. Muhammad wafat pada tahun 125 H/743 M dan digantikan oleh anaknya Ibrahim al-Imam.

Panglima perangnya berasal dari Khurasan bernama Abu Muslim al-Khurasani. Abu Muslim berhasil merebut Khurasan dan kemudian menyusul kemenangan demi kemenangan.

Pada awal tahun 132 H/749 M Ibrahim al-Imam tertangkap oleh pemerintah Daulah Umayyah dan dipenjara sampai ia meninggal. Setelah Ibrahim al-Imam meningga pada akhirnya ia digantikan oleh saudaranya Abu Abbas.

Tidak lama setelah itu, dua bala tentara Abbasiyah dan Umayyah bertempur di dekat sungan Zab bagian hulu. Dalam pertempuran itu Bani Abbas mendapatkan kemenangan dan bala tentaranya terus menuju ke negeri Syam (Suriah) dan disinilah pada akhirnya kota demi kota dikuasainya.

Masa pemerintahan Abul Abbas sangatlah singkat yaitu dari tahun 150-754 M. Kemudian digantikan oleh Abu Ja’far Al-Mansur yang merupakan saudara dari Abul Abbas. Abu Ja’farlah sebenarnya yang dikenal sebagai pembina sekaligus bapak dari keturunan para khalifah dalam kelanjutan Periodesasi Dinasti Abbasiyah.

Abu Ja’far dikenal sebagai seorang yang keras dalam menghadapi lawan-lawannya terutama dari keturunan bani Umayyah, Khawarij, Syi’ah yang merasa terdiskriminasi oleh Dinasti Abbasiyah.

Baca Juga:  Timbuktu, Kota yang Pernah Menjadi Pusat Pendidikan Islam

Setelah Abu Ja’far Al-mansur meninggal, maka jabatan khalifah digantikan oleh anaknya Al-Mahdi, dalam masa pemerintahan Al-Mahdi ia mempunyai kebijakan membuka dan melepaskan orang-orang hukuman politik dan yang tidak boleh dilepaskan adalah para penjahat (pencuri atau perampok), orang yang tertuduh membunuh.

Setelah Al-Mahdi mangkat maka khalifah pun berganti dan diganti oleh putranya yang tertua bernama Al-Hadi. Pada masa pemerintahannya adanya pemberontakan yang berasal dari Madinah.

Pemberontak ini dipimpin oleh keturunan Ali yang berkehendak merebut jabatan khalifah, ia bernama Al-Husain bin Ali Al-Husain Al-Musalats.

Kabar bahwa ia akan melakukan pemberontakan ternyata sudah tercium oleh khalifah terlebih dahulu, sehingga khalifah pun mengirimkan tentara yang bertujuan untuk menghancurkan para pemberontak tersebut. dalam pertempuran ini pihak Al-Husain mengalami kekalahan disebabkan oleh perbedaan jumlah tentara.

Dalam Peristiwa pertempuran itu Al-Husain dan pengikutnya mati terbunuh, hanya dua orang kerabat Husain yang berhasil meloloskan diri dari kematian.

Beberapa catatan peristiwa di atas merupakan cuplikan singkat mengenai kisah perebutan kekuasaan yang terjadi pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Saling sikut, intrik politik bahkan sampai mengorbankan nyawa demi sebuah tahta memang benar-benar terjadi dari masa ke masa.

Lebih lanjut, agar para pembaca mengetahui secara ringkas periode kekuasaan Dinasti Abbasiyah tersebut, berikut kami jelaskan secara singkat.

Periodesasi Kekuasaan Dinasti Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah adalah salah satu dinasti yang paling lama berkuasa yakni sekitar 5 abad dan dalam dinasti ini pernah terwujud masa keemasan umat Islam.

Jika dilihat dari masa kekuasaannya maka Periodesasi Dinasti Abbasiyah dapat dilihat dari beberapa periode yang masing-masing periode mempunyai titik tekan yang berbeda baik itu dari ciri, pola, perubahan struktur pemerintahan dan kondisi sosial politik yang berkembang. Secara umum kekeuasaan dinasti Abbasiyah dapat dilihat dari tiga periode:

Pada periode ini diawali sejak Abu Abbas menjadi khalifah (132 H /750 M) dan berjalan hingga satu abad dan pada akhirnya menjelang meninggalnya atau bergantinya khalifah Al-Watsiq (232 H/847 M).

Menurut beberapa ahli sejarah di perkuat dengan bukti-bukti otentik bahwa masa inilah merupakan masa keemasan dinasti Abbasiyah. Pada masa ini ada sepuluh orang khalifah yang berkuasa mereka adalah:

Baca Juga:  Sunan Giri, Seorang Sunan yang Mempunyai Kerajaannya Sendiri

Abul Abbas As-Saffah (132 H/750 M), Abu Ja’far Al-Mansur (136 H/754 M), Al-Mahdi (158 H/775 M), Al-Hadi (169 H/785 M), Harun Ar-Rasyid (170 H/786 M), Al-Amin (193 H/ 809 M), Al-Ma’mun (198 H/813 M), Al-Ma’mun (198 H/813 M), Al-Mu’tasim (218 H/ 833 M), Al-Watziq (227 H/ 842 M).

Periode lanjutan yakni tahun 847 M-945 M.

Pada periode ini di awali dengan meninggalnya Khalifah Al-Watsiq dan berakhir ketika keluarga Buwaihi bangkit memerintah (847 M-932 M). sepeninggal Al-Watsiq, Al-Mutawakil naik menjadi khalifah. Masa ini ditandai dengan bangkitnya pengaruh Turki.

Pada periode ini juga muncul persaingan antara militer di Bagdad dan di Samarra, bahkan antar kelompok di masing-masing kota, munculnya beberapa orang yang mengaku sebagai keturunan Ali bin Abi Thalib dan berkeinginan merebut jabatan khalifah. Dan khalifah yang berkuasa yang termasuk dalam periode ini ada 13 khalifah yakni:

Al-Mutawakkil, Al-Muntasir, Al-Musta’in, Al-Mu’taz, Al-Muhtadi, Al-Mu’tamid, Al-Mu’tadhid, Al-Muktafi, Al-Muqtadir, Al-Qahir, Ar-Radhi, Al-Muttaqi, Al-Muktafi.

Periode Buwaihi (945 M-1055 M)

Masa ini dimulai dengan bangkitnya Bani Buwaihi hingga munculnya Bani Saljuk. Kawasan Bani Buwaihi mencakup Irak dan Persia Barat. Pada masa ini jabatan kekuasaan khalifah Abbasiyah secara de facto di pegang oleh bani Buwaihi.

Dan paham yang dianut oleh Buwaihi berbeda dengan paham yang dianut oleh Abbasiyah. Dinasti Buwaihi menganut paham Syi’ah sedangkan dinasti Abbasiyah menganut paham Sunni.

Pada masa dominasi dinasti Buwaihi ini ada lima khalifah Abbasiyah: Al-Muktafi, Al-Muti, At-tai, Al-Qadir, Al-Qaim.

Pada masa tersebut juga ada sebelas tokoh dinasti Buwaihi yang secara de facto menjadi kepala pemerintahan, antara lain Ahmad Mu’izz Ad-Daulah (945 M), Bakhtiar Azz Ad-Daulah (967 M), Ad ad-Daulah (978 M), Syams Am ad-Daulah (983 M), Syraf ad-Daulah (987), Baha ad-Daulah (989 M), Sultan ad-Daulah (1012 M), Musarrif a-Daulah (1021 M), Jalal ad-Daulah (1025 M) Imadudin Abu Kalijar (1044 M) dan Malik ar-Rahim (1084 M) sampai tahun (1055 M).

Periode Saljuk (1055-1258 M)

Masa ini diawali ketika suku saljuk mengambil alih pemerintahan dan mengontrol ke khalifahan Abbasiyah pada tahun 447 H/1055 M. masa dinasti saljuk berakhir pada tahun 656 H/1258 M. ketika bala tentara Mongol menyerbu dan menghancurkan Bagdad sebagai pusat dinasi Abbasiyah.

Baca Juga:  Kebijakan Pemberlakuan Hukum Adat dan Hukum Islam Masa Penjajahan Belanda

Pada masa ini ada dua belas khalifah Abbasiyah, yakni: Al-Qaim, Al-Muqtadi, Al-Mustazir, Al-Mustarsyid, Ar-Rasyid, Al-Muqtafi, Al-Mustanjid, Al-Mustadi, An-Nasir, Az-Zahir, Al-Mustansir, Al-Musta’sim.

Adapun para pemuka dinasti saljuk yang memerintah dibedakan antara mereka yang berdomisili di bagdad, Ibukota Abbasiyah dan yang bertempat tinggal di Iran adalah mereka yang berdomisili di Bagdad, antara lain Tugrel Beiq (1038 M), Alp Arslan (1063-1072 M), Maliksyah I (1072-1092 M), Mahmud I (1092 M), Barkiyaruk (1094 M-1104 M), Maliksyah II (1105 M), Sanjar (1118 M).

Adapun yang berdomisili di Iran, antara lain Mahmud II (1118 M), Dawud (1131 M), Tugril II (1132 M), Mas’ud (1134 M) Maliksyah III (1152 M), Sulaiman Syah (1160), Arslan (1161 M), dan Tugril III (1176-1194 M).

Demikian beberapa hal penting terkait perebutan kekuasaan dan periodesasi pada masa Dinasti Abbasiyah. Adapun yang sebenarnya ingin kami tegaskan ialah Dinasti Abbasiyah memang merupakan dinasti yang bertahan paling lama dalam sejarah Islam, yaitu sekitar 5 abad.

Masa keemasan kejayaan Islam juga ada pada masa Dinasti tersebut. Namun dibalik itu, bukan berarti tanpa cela. Perebutan kekuasaan yang terjadi di belakang layar juga tak kalah tragisnya. Bahkan sampai terjadi pertumpahan darah.

Jika hari ini banyak orang yang baru mengenal kekhalifahan Islam, kemudian ingin menerapkan sistem khilafah di Indonesia. Maka bukan tidak mungkin, peristiwa-peristiwa berdarah tersebut juga akan terulang.

Apalagi sekarang ini tanpa arah yang jelas, sehingga seperti ingin memaksakan seolah-olah harus seperti zaman keemasan Islam terdahulu. Kok penaakk men!

Mohammad Mufid Muwaffaq