Perseteruan Dua Malaikat Tentang Status Tobatnya Seorang Pembunuh

tobatnya seorang pembunuh

Pecihitam.org – Pernah mendengar kisah perseteruan dua malaikat tentang status tobatnya seorang pembunuh yang pernah membunuh 100 orang? Berdasarkan pengalaman saya, kisah ini sering diceritakan di jenjang Madrasah Tsnawiyah sampai Aliyah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ternyata kisah tersebut benar adanya, dan terdapat dalam riwayat shahih Ibnu Majah, bab Apakah ada pintu taubat orang yang membunuh seorang muslim. Teks haditsnya sebagai berikut,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ سَمِعَتْهُ أُذُنَايَ، وَوَعَاهُ قَلْبِي: “إِنَّ عَبْدًا قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، ثُمَّ عَرَضَتْ لَهُ التَّوْبَةُ، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ، فَأَتَاهُ، فَقَالَ: إِنِّي قَتَلْتُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: بَعْدَ تِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ نَفْسًا! قَالَ: فَانْتَضَى سَيْفَهُ فَقَتَلَهُ، فَأَكْمَلَ بِهِ الْمِئَةَ، ثُمَّ عَرَضَتْ لَهُ التَّوْبَةُ، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ، فَأَتَاهُ، فَقَالَ: إِنِّي قَتَلْتُ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: وَيْحَكَ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ اخْرُجْ مِنْ الْقَرْيَةِ الْخَبِيثَةِ الَّتِي أَنْتَ بِهَا، إِلَى الْقَرْيَةِ الصَّالِحَةِ، قَرْيَةِ كَذَا وَكَذَا، فَاعْبُدْ رَبَّكَ فِيهَا، فَخَرَجَ يُرِيدُ الْقَرْيَةَ الصَّالِحَةَ، فَعَرَضَ لَهُ أَجَلُهُ فِي الطَّرِيقِ، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ، قَالَ إِبْلِيسُ: أَنَا أَوْلَى بِهِ، إِنَّهُ لَمْ يَعْصِنِي سَاعَةً قَطُّ. قَالَ: فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ: إِنَّهُ خَرَجَ تَائِبًا”.

Baca Juga:  Kisah Gus Dur Menyelamatkan Rumah Besar Indonesia

قَالَ هَمَّامٌ: فَحَدَّثَنِي حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، قَالَ: فَبَعَثَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَلَكًا، فَاخْتَصَمُوا إِلَيْهِ ثُمَّ رَجَعُوا. فَقَالَ: انْظُرُوا أَيَّ الْقَرْيَتَيْنِ كَانَتْ أَقْرَبَ، فَأَلْحِقُوهُ بِأَهْلِهَا.قَالَ قَتَادَةُ: فَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ، قَالَ: لَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ احْتَفَزَ بِنَفْسِهِ فَقَرُبَ مِنْ الْقَرْيَةِ الصَّالِحَةِ، وَبَاعَدَ مِنْهُ الْقَرْيَةَ الْخَبِيثَةَ، فَأَلْحَقُوهُ بِأَهْلِ الْقَرْيَةِ الصَّالِحَةِ.

Alkisah, ada seorang yang sering membunuh orang lain, hingga jumlah korban yang ia bunuh mencapai sembilan puluh sembilan orang. Kemudian ia ingin bertaubat, lalu ia bertanya kepada seseorang yang paling alim di muka bumi ini.

Lalu ia ditunjukkan kepada seseorang, ia pun mendatanginya dan berkata, “Aku telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah masih ada taubat untukku?”, orang alim tersebut terkejut dengan pertanyaanya, seraya berkata “Apa? Telah membunuh sembilan puluh sembilan orang?”

Akhirnya tanpa berfikir panjang, pembunuh itu mengeluarkan pedangnya dan membunuh orang tersebut. Dengan demikian genaplah seratus orang yang ia bunuh. Namun dia masih berkeinginan untuk bertaubat, kemudian ia menanyakan kembali tentang orang yang paling alim di muka buma ini. Lalu ia ditunjukkan kepada seseorang dan si pembunuh pun mendatanginya.

Baca Juga:  Kisah Umar bin Khattab Ingin Membunuh Nabi Saw Sebelum Memeluk Islam

Lantas pembunuh itu bertanya kepada orang yang ada di desa tersebut, “Aku sudah membunuh seratus orang, maka masih bisakah diriku bertaubat?”

Orang alim itu menjawab, “Celakalah kau! Siapakah yang menghalangimu untuk bertaubat? Keluarlah dari perkampungan yang buruk yang engku telah diami, dan pindahlah ke perkampungan yang baik, yaitu di kampung (ini), beribadahlah kepada Tuhanmu disana.”

Pembunuh itu pun keluar menuju perkampungan yang baik tersebut, sesuai saran dari orang alim itu. Namun ajal menjemputnya di tengah perjalanan.

Kemudian malaikat rahmat dan malaikat azab saling berselisih, mengenai si pembunuh itu, apakah dia termasuk orang baik yang sudah bertaubat atau termasuk orang yang telah membunuh seratus korban dan belum terhitung taubatnya?

Lalu iblis berkata, “Aku yang lebih brkuasa atas orang ini, karena dia tidak sekalipun melanggar  perintahku”. Malaikat rahmat pun menjawab, “Ia telah keluar untuk bertaubat”.

Lalu Allah memerintahkan untuk mengukur antara jarak dari perkampungan buruk ke perkampungan baik, manakah jarak yang lebih dekat dengan si pembunuh tersebut.

Baca Juga:  Ketika Fatwa Abu Hanifah Ditolak oleh Ibunya Sendiri

Dan ternyata pembunuh itu lebih dekat dengan kampung yang baik. Sehingga ia dianggap sebagai orang yang sudah bertaubat dan meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.

Hikmah dari cerita tobatnya seorang pembunuh diatas adalah jangan pernah merendahkan seorang yang berbuat maksiat di masa hidupnya, bahkan hingga mencacinya, sebab kita tidak pernah tau bagaimana keadaan di akhir hayatnya.

Berapa banyak orang alim yang merasa sombong dengan kealimannya kemudian meninggal dalam keadaan su’ul khotimah, dan berapa banyak pendosa yang kemudian menyesali perbuataanya dan bertaubat, lalu ia meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Percayalah, Allah Maha menerima taubat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Wallahu A’lam.

Nur Faricha

Leave a Reply

Your email address will not be published.