Perang Qadisiyyah: Pertempuran antara Pasukan Muslim dan Tentara Gajah Persia

pertempuran qadisiyyah

Pecihitam.org – Pertempuran Qadisiyyah adalah pertempuran besar antara pasukan muslim dengan pasukan Persia pada saat periode pertama ekspansi muslim di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab. Pertempuran Qadisiyyah ini terjadi kurang lebih pada tahun 636 M dan berakhir dengan penaklukan Islam atas seluruh Persia dan berhasil mengubah keyakinan mereka menjadi Islam sampai dengan saat ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Setelah info kekalahan pasukan kaum muslimin pada perang Jembatan sampai kepada Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu di Madinah, khalifah pun menyemangati tentara Islam untuk berjuang di Irak dan Persia.

Umar bin Khattab kemudian membentuk pasukan di luar kota Madinah, dan banyak sekali kaum muslimin yang ikut bergabung untuk berjihad. Pada awalnya Khalifah Umar berkeinginan memimpin sendiri pasukan pertempuran Qadisiyyah tersebut.

Namun beberapa sahabat meminta sang khalifah untuk tetap tinggal di Madinah dan mengutus Sa’ad bin Abi Waqqash. Para sahabat meminta Amirul Mukminin untuk tetap tinggal di Madinah, agar ia mampu mengirimkan bantuan ke Iraq atau daerah lainnya, jika sekiranya nanti diperlukan.

Surat Umar bin Khattab

Karena Khalifah Umar ibn Khattab ra. tetap tinggal di Madinah, ia kemudian menuliskan satu perintah kepada panglima perangnya Sa’ad bin Abi Waqqash saat hendak pergi membuka negeri Persia. Dalam surat itu tertulis:

“ Amma ba’d. Maka aku perintahkan kepadamu dan orang-orang yang besertamu untuk selalu takwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Karena, sesungguhnya takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan dalam menghadapi musuh dan paling hebatnya strategi dalam pertempuran.

Aku perintahkan kepadamu dan orang-orang yang bersamamu agar kalian menjadi orang yang lebih kuat dalam memelihara diri dari berbuat kemaksiatan dari musuh-musuh kalian. Karena, sesungguhnya dosa pasukan lebih ditakutkan atas mereka daripada musuh-musuh mereka dan sesungguhnya kaum muslimin meraih kemenangan tidak lain adalah karena kedurhakaan musuh-musuh mereka terhadap Allah.

Kalaulah bukan karena kedurhakaan musuh-musuh itu, tidaklah kaum Muslimin memiliki kekuatan karena jumlah kita tidaklah seperti jumlah mereka (jumlah mereka lebih besar) dan kekuatan pasukan kita tidaklah seperti kekuatan pasukan mereka.

Karenanya, jika kita seimbang dengan musuh dalam kedurhakaan dan maksiat kepada Allah, maka mereka memiliki kelebihan di atas kita dalam kekuatannya, dan bila kita tidak menang menghadapi mereka dengan “keutamaan” kita, maka tidak mungkin kita akan mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.

Ketahuilah bahwa kalian memiliki pengawas-pengawas (para malaikat) dari Allah. Mereka mengetahui setiap gerak-gerik kalian karenanya malulah kalian terhadap mereka. Janganlah kalian mengatakan, “Sesungguhnya musuh kita lebih buruk dari kita sehingga tidak mungkin mereka menang atas kita meskipun kita berbuat keburukan.”

Karena, berapa banyak kaum-kaum yang dikalahkan oleh orang-orang yang lebih buruk dari mereka. Sebagaimana orang-orang kafir Majusi telah mengalahkan Bani Israil setelah mereka melakukan perbuatan maksiat. Mintalah pertolongan kepada Allah bagi diri kalian sebagaimana kalian meminta kemenangan dari musuh-musuh kalian. Dan aku pun meminta hal itu kepada Allah bagi kami dan bagi kalian.”

Jalannya Pertempuran Qadisiyyah

Setelah adanya perintah dari Khalifah Umar biin Khattab, sempurnalah mandat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi panglima untuk memimpin pasukan berjihad di Iraq (pada saat itu masih bagian dari Persia).

Baca Juga:  Cerita Masjid Cordoba Andalusia Berubah Menjadi Gereja La Mezquita

Selain itu khalifah Umar juga memberikan perintah kepada sisa tentara kaum Muslimin yang masih ada di Iraq di bawah pimpinan Al Mutsanna untuk bergabung di bawah pimpinan Sa’ad.

Akhirnya Sa’ad bin Abi Waqqash sampai ke Iraq dengan membawa 4.000 orang pasukan. Sa’ad bersama pasukan kaum Muslimin lalu mendirikan kemah di daerah Al Qadasiyah selama hampir satu bulan. Jarir bin Abdullah Al Bajali radhiyallahu ‘anhu lalu bergabung dengan tentara kaum muslimin, sehingga jumlah pasukan mencapai sekitar 30.000 orang mujahidin.

Mendengar pergerakan pasukan kaum Muslimin ini, Kaisar Persia yang terakhir dan masih muda, Yazdgird III (632 M. – 651 M.) memerintahkan kepada panglima perangnya Rustam Farrokhzad untuk menghadangnya.

Baca Juga:  Begini Strategi Dakwah Wali Songo Dalam Islamisasi Di Jawa

Persia pun kemudian mempersiapkan pasukannya hingga mencapai jumlah sekitar 120.000 pasukan tentara. Akhirnya kedua pasukan ini bertemu di sebelah barat sungai Eufrat di desa yang bernama Al-Qadisiyyah (barat daya Hillah dan Kufah).

Setelah kedua pasukan bertemu, sempat terjadi beberapa kali perundingan antara tentara kaum Muslimin dan pasukan Persia. Rustum meminta tentara Islam untuk mengirimkan seorang utusan untuk berunding dengannya secara langsung. Utusan yang dikirimkan oleh Islam adalah Rib’i bin Amir yang terkenal sebagai diplomat ulung dari kubu kaum muslimin.

Setelah dialog yang alot dan tidak dicapai kesepakatan diantara kedua kubu, pecahlah pertempuran Qadisiyyah ini. Meski demikian Sa’ad bin Abi Waqqash ternyata tidak bisa memimpin langsung pasukannya dikarenakan ia menderita sakit bisul yang parah. Namun ia tetap memonitor jalannya pertempuran dari atap sebuah rumah bersama deputinya Khalid bin Urtufah.

Hari pertama pertempuran berakhir dengan kemenangan di pihak Persia dan hampir saja pasukan muslim menemui kekalahan karena tidak imbangnya jumlah pasukannya dengan pasukan Persia yang lebih besar.

Pasukan Persia menggunakan gajah untuk memporak-porandakan barisan tentara Islam dan ini sempat membuat kacau kavaleri Muslim dan kebingungan di antara mereka bagaimana cara untuk mengalahkan gajah-gajah tersebut. Keadaan seperti ini berlangsung hingga berakhirnya pertempuran di hari kedua.

Memasuki hari ketiga, datanglah bala bantuan pasukan muslim tambahan dari Syria (setelah memenangkan pertempuran Yarmuk). Mereka menggunakan taktik yang cerdik untuk menakut-nakuti gajah Persia yaitu dengan memberi kostum pada kuda-kuda perang.

Taktik jitu ini menuai sukses sehingga gajah-gajah Persia ketakutan, akhirnya mereka bisa membunuh pemimpin pasukan gajah ini dan sisanya melarikan diri kebelakang menabrak dan membunuh pasukan mereka sendiri.

Baca Juga:  Menelisik Sejarah Islam Di Indonesia

Pasukan muslim terus menyerang sampai dengan malam hari. Perang pun terus bergulir dalam kegelapan malam. Tidak ada yang terdengar pada malam itu, kecuali suara pedang beradu. Malam itu lalu dikenal sebagai malam (Al Harir).

Menjelang fajar di hari keempat, datanglah pertolongan Allah SWT. dengan terjadinya badai pasir yang mengarah dan menerpa pasukan Persia sehingga dengan cepat membuat lemah barisan mereka.

Kesempatan emas ini dengan segera dimanfaatkan pihak kaum Muslimin. Mereka menggempur bagian tengah barisan Persia dengan menghujamkan ratusan anak panah. Setelah jebolnya barisan tengah pasukan Persia, panglima perang mereka Rustam pun melarikan diri dengan menceburkan diri dan berenang menyeberangi sungai.

Akan tetapi usaha Rustum gagal, karena seorang tentara Islam pemberani Hilal bin Ullafah mengejar dan membunuhnya. Pemimpin-pemimpin pasukan Persia yang lain pun turut terbunuh. Di akhir perang, kemenangan telah menemani pasukan Islam.

Pertempuran Qadisiyyah ini cukup penting dan kekalahan yang diderita Persia memberikan efek yang sangat besar terhadap hancurnya keyakinan yang dimiliki mereka. Setelah perang tersebut pasukan Islam mampu merebut kembali daerah-daerah yang dikuasai oleh Persia, yang dulunya setelah sempat dikuasai Islam.

Dari takluknya Persia, tentara Islam pun kemudian bisa mempersiapkan pembebasan kota-kota lain. Dari perang ini pula pasukan Muslimin berhasil memperoleh banyak sekali ghanimah dan senjata yang dapat dimanfaatkan untuk membuka daerah baru.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik