Pertemuan Jamaah Tabligh di Gowa Ketika Corona; Wujud Keimanan atau Kebodohan?

Pertemuan Jamaah Tabligh di Gowa Ketika Corona; Wujud Keimanan atau Kebodohan?

PeciHitam.org – Baru-baru ini kita dihebohkan dengan kesembronoan Jamaah Tabligh yang seolah tak tau situasi dan kondisi. Organisasi transnasional yang berasal dari India ini melakukan pertemuan internasional yang mendatangkan para jamaah dari berbagai negara dan berkumpul di Gowa, Sulawesi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beberapa dari kita mungkin masih asing dengan organisasi tersebut. Masyarakat mungkin hanya mengetahui bahwa ada suatu gerombolan yang suka berkelana dari masjid ke masjid, dari rumah ke rumah untuk berdakwah.

Oleh sebab itu, perlulah kita mengenal lebih dekat tentang Jamaah Tabligh tersebut. Sebagai pengantar, tokoh utama pendiri Jamaah Tabligh ialah Muhammad Ilyas al-Kandahlawy.

Ia memiliki nama lengkap yaitu Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma’il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi Ad-Dihlawi. Ia dilahirkan pada tahun 1303 H (1885 M) dan wafat pada tanggal 11 Rajab 1363 H dalam usia 60 tahun.

Nama al-Kandahlawy di belakangnya disandarkan pada tempat kelahirannya yaitu di desa Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Sahranfur, Utara Banladesh India.

Sedangkan Ad-Dihlawi sendiri merupakan sebutan lain dari Dihli (New Delhi) yang kita kenal sebagai ibukota India. Di negara inilah awal kemunculan sekaligus markas besar gerakan Jamaah Tabligh berada.

Kemudian nama Ad-Diyubandi merupakan nama yang disandarkan kepada nama madrasah terbesar di semenanjung India yang menganut mazhab Hanafi. Sedangkan nama Al-Jisyti merupakan nama yang dinisbatkan kepada suatu tarekat yang didirikan oleh Mu’inuddin Al-Jisyti, menunjukkan bahwa ia merupakan penganut tarekat al-Jisytiyah.

Baca Juga:  Lima Tujuan Syariat Islam Menurut Imam al Ghazali

Nama Jamaah Tabligh merupakan sebuah nama bagi mereka yang menyampaikan atau berdakwah. Jamaah ini awalnya tidak mempunyai nama, akan tetapi cukup Islam saja. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama “gerakan iman” .

Ada ungkapan terkenal dari Maulana Ilyas, Aye Musalmano! ‘Wahai umat muslim! Jadilah muslim yang kaffah (menunaikan semua rukun dan syari’ah seperti yang dicontohkan Rasulullah).

Jamaah Tabligh resminya bukan merupakan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agamanya, dan hanya satu-satunya gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mazhab atau aliran pengikutnya.

Pola yang dilakukan ketika berdakwah, biasanya mereka terbagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok tersebut membawa bekal masing-masing untuk mencukupi kebutuhannya selama berdakwah.

Bekal yang mereka bawa biasanya antara lain uang saku secukupnya, peralatan masak, peralatan tidur serta peralatan-peralatan yang lain sesuai dengan kebutuhannya.

Setelah semuanya dirasa sudah siap, mulailah mereka turun menyebar ke berbagai tempat di perkotaan atau di pedesaan dan biasanya mereka menjadikan masjid atau mushalla sebagai basecamp (tempat kegiatan) mereka, setelah itu mereka berkunjung ke masyarakat dari rumah ke rumah untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama Islam, serta mengajak mereka untuk meramaikan masjid atau mushalla.

Baca Juga:  Subhanallah! Karena Surat Ini, Rambut Rasulullah Saw Beruban Sebelum Waktunya

Beberapa hari ke belakang, Jamaah Tabligh mengadakan pertemuan di Gowa. Dalam salah satu video yang beredar, salah satu tokoh dalam acara tersebut menghimbau jamaahnya agar tidak takut dengan wabah Corona, justru Coronalah yang harus takut dengan adanya jamaah tersebut. Jangan sampai mau jika Islam diperlemah. Tentu ini konyol!

Jika melihat narasi yang digaungkan ketika wabah corona melanda seluruh dunia, beberapa muslim masih berpikiran bahwa mengosongkan masjid merupakan upaya melemahkan ajaran Islam.

Padahal tidak demikian adanya, justru para ulama seperti Grand Syaikh al-Azhar dan MUI sendiri menghimbau untuk shalat di rumah itu bertujuan untuk mengurangi kontak fisik yang dikhawatirkan akan memperparah jatuhnya korban.

Stigma yang beredar di masyarakat muslim seperti itu identik dengan pemikiran utama Jamaah Tabligh. Seperti apa yang telah dituliskan an-Nadwi dalam bukunya Sejarah Da’wah dan Tabligh Maulana Ilyas.

Ia menyebutkan bahwa Muhammad Ilyas mengkhawatirkan umat Islam India yang semakin hari semakin jauh dengan nilai-nilai Islam, khususnya daerah Mewat yang ditandai dengan rusaknya moral dan mengarah kepada kejahiliyahan dengan melakukan kemaksiatan, kemusyrikan dan kosongnya masjid-masjid yang tidak digunakan untuk ibadah dan melakukan dakwah-dakwah Islam.

Baca Juga:  Pemuda Ini Ditangkap Gegara Protes Larangan Salat Jumat di Tengah Wabah Corona

Begitu mirip dan identik, bukan? Hal tersebut perlu diluruskan bahwa agama setidaknya jangan digunakan untuk memperparah kehidupan. Membodohi masyarakat agar menyerahkan seluruh jiwa raganya, pasrah namun tanpa usaha, merupakan perbuatan bodoh. Bukan beriman.

Orang yang beriman tentu tidak hanya akan berserah diri semata. Ia diberikan akal sebagai bekalnya, berusaha sebaik-baiknya terlebih dahulu, kemudian berdoa, barulah ia menyerahkan keputusannya kepada Allah. Inilah yang disebut tawakal.

Mohammad Mufid Muwaffaq