Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam Terhadap Arus Globalisasi

Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam Terhadap Arus Globalisasi

Pecihitam.org – Dalam dunia Islam, Rasulullah adalah pemimpin utama yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Begitupun dalam masyarakat Jawa, tongkat estafet kepemimpinan dipegang oleh para Wali Songo yang sampai hari ini nama dan ajarannya dijadikan kiblat ajaran Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Wali Songo yang menjadi kiblat kaum santri, mempunyai silsilah keilmuan dari guru besar dan pemimpin kaum muslimin yaitu Rasulullah saw. Pola modeling agama Islam yang diterapkan Wali Songo mampu memikat hati masyarakat Jawa untuk memeluk agama keselamatan.

Modeling dalam agama Islam bisa dilakukan dengan uswatun hasanah, yakni contoh ideal yang dapat diterapkan dalam suatu kelompok. Tidak menyimpang dari agama Islam sekaligus tidak menghina ataupun menyakiti kelompok tertentu. Pola modeling yang telah diterapkan Wali Songo, sebagian besar telah digunakan pada pola pendidikan pesantren.

Salah satu modeling yang diterapkan dalam lembaga pesantren adalah pola keseimbangan. Dimana pesantren menjalankan dasar-dasar syariat Islam namun tidak merusak kultur budaya yang telah berjalan di masyarakat. Pesantren menjadikan budaya sebagai salah satu strategi untuk meraih eksistensi di masyarakat sekaligus menjaga ukhuwah dengan warga sekitar.

Subyek yang diajarkan di lembaga ini melalui hidayah atau berkah dari seorang kiai sebagai guru utama. Kitab klasik atau kitab kuning yang diajarkan ditransmisikan dari generasi ke generasi selanjutnya. Sehingga konsep keilmuannya mempunyai keistimewaan tersendiri berupa kejelasan sanad.

Baca Juga:  Virus Corona dan Narasi Kelompok Radikal di Tanah Air

Mengingat konsep modeling, pesantren selalu kokoh menghadapi hegemoni dari luar. Jika kita memutar waktu, kita akan menemukan bagaimana sepak terjang perlawanan kaum santri melawan penjajah yang kian mencekik rakyat Indoensia. Kita pun akan melihat bagaimana kebijaksanaan para kiai dalam menghadapi upaya diplomasi yang dilakukan oleh Belanda.

Sikap kebijaksanaan itu tidak terlepas dari tingginya ilmu yang dimiliki oleh sang kiai. Dimana sang kiai sudah terlebih dahulu mengenyam pendidikan dalam lembaga pesantren itu sendiri. Definisi pesantren itu sendiri selalu mengacu pada proses pembelajaran dengan melibatkan semua komponen, baik dari santri, kiai, serta fasilitas belajar mengajar.

Budaya keilmuan pesantren pun berbeda-beda, tergantung dari hakikat keilmuan yang dikuasai oleh kiai itu sendiri. Jika sang kiai ahli pada disiplin ilmu fiqh, tasawuf, dan tauhid maka pola pengajarannya akan dipusatkan pada keilmuan tersebut. Dengan demikian, korelasi keilmuan pesantren berhubungan erat dengan ilmu yang dimiliki oleh kiai itu sendiri.

Kini, perkembangan pesantren di abad 20 semakin pesat. Ada pesantren yang khusus didirikan untuk merespon pola perubahan masyarakat global. Isu-isu global mengenai tingkat pendidikan yang kurang rapi direspon dengan apik oleh lembaga pesantren. Dilanjutkan dengan kesuksesan visi dan misi pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan globalisasi.

Baca Juga:  Teori Kumun: Penjelasan Penciptaan Alam Semesta Ala Teolog Mu’tazilah

Adaptasi dan responsi pesantren terhadap perubahan sosial menjadikan pesantren tetap eksis tak termakan zaman. Zamachsyari Dhafier, menyebutkan bahwa “rahasia” bertahannya pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Jawa adalah karena kemampuan kiai dalam merespon “selera” masyarakat, sehingga ia mampu berperan sebagai “social enginer” dalam mengembangkan pesantren yang lebih responsif terhadap kebutuhan kehidupan modern.

Oleh karena itu, konsep pesantren secara garis besar mampu mewarnai perubahan sosial bukan menghambat atau menghilangkan perubahan sosial yang sudah menjadi tradisi masyarakat global. Dan kiai menjadi motor penggerak pesantren atas seleksi nilai dari berbagai macam nilai yang ikut mewarnai dunia pesantren.

Walaupun begitu, langkah pesantren dalam menghadapi arus globalisasi bukan tanpa halangan. Tantangan terbesar datang dari perubahan masyarakat yang berubah secara cepat akibat derasnya aliran globalisasi. Aliran globalisasi mulai menyelami semua lini, baik budaya, politik, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan.

Bahkan, Nurcholish Majid menggambarkan bahwa telah terjadi kesenjangan atau “gap” antara pesantren tradisional dengan dunia modern. Di satu sisi, dunia global sekarang ini masih didominasi oleh pola budaya Barat dan sedang diatur mengikuti pola-pola itu.

Di sisi lainnya, pesantren-pesantren tradisional karena faktor historisnya, belum sepenuhnya menguasai pola budaya modern, sehingga kurang memiliki kemampuan dalam mengimbangi dan menguasai kehidupan dunia global. Alih kata, untuk memberikan respon saja sudah mengalami kesulitan.

Baca Juga:  Meluruskan Stigma Sosial Bagi Perempuan (Kodrat Macak, Masak, Manak)

Tantangan lainnya adalah kaderisasi dari golongan kiai itu sendiri. Sebagai pemegang tongkat estafet selanjutnya, kader kiai haruslah mempunyai keilmuan secara mendalam baik ilmu agama maupun ilmu umum. Karena modernisasi tidak hanya selalu tentang agama semata, kadang-kadang permasalahan sosial perlu mendapatkan perhatian dari ilmu umum.

Praktis, hadirnya kiai yang mampu menyesuaikan zaman menjadi patokan maju mundurnya lembaga pesantren. Tuntutan dari dunia modern, membuat pesantren harus fleksibel untuk mengambil langkah ke depan. Dan kesalahan dalam menentukan arah tujuan pesantren, bisa berakibat fatal bagi kemajuan pesantren itu sendiri.

Muhammad Nur Faizi