Inilah Pidato Abu Bakar Saat Akan Dibaiat Menjadi Seorang Khalifah

Pidato Abu Bakar Saat Akan Dibaiat Menjadi Seorang Khalifah

Pecihitam.org,Abu Bakar Ash Shiddiq atau yang dikenal sebagai sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah saw., merupakan sosok khalifah usai Rasulullah wafat yang dikenal dengan kezuhudannya bahkan ketika beliau menjadi seorang Khalifah, tetaplah pekerjaannya sebagai pemerah susu kambing dan berdagang di pasar tidaklah ditinggalkan beliau.  

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Selain itu beliau sangat dikenal dengan sikap amanahnya, bahkan sebelum Islam datang, Abu bakar memang telah dikenal sebagai pribadi yang sangat terpercaya dan terjaga dari sikap sikap buruk yang dilakukan oleh kebanyakan kaum Quraisy, dan sampai pada akhirnya sikap sikap terpuji itulah yang mengantarkan beliau sebagai sahabat yang pilih Rasulullah saw., untuk menggantikan dirinya sebagai seorang Khalifah.

Sehingga untuk mengenal lebih luasnya lagi terkait bagaimana Abu Bakar menjadi seorang Khalifah, maka alangkah baiknya jika kita mengenal apa saja isi pidato Abu Bakar yang dilontarkan beliau saat hendak dibaiat menjadi seorang Khalifah, untuknya sebagai berikut:

“Sesungguhnya, aku telah dipilih sebagai pemimpin kalian dan bukanlah aku yang terbaik. Jika aku berbuat kebaikan, bantulah. Dan jika aku bertindak keliru, maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta ialah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah diantara kalian sesuangguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya, Insya Allah.

Sebaliknya, siapa yang kuat di antara kalian maka ialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik  orang lain yang diambilnya. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan kepada mereka suatu kehinaan,

dan tidaklah suatu kekejian menyebar di tengah suatu kaum kecuali adzab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya maka tiada kewajiban taat atas kalian terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian. (Ibnu Katsir, al Bidayah wa an Nihayah (Jakarta: Darul Haq, 2004), h. 53)

Dari pidato diatas, tentu sangat jelas bahwasanya Abu Bakar sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran, karena bagaimanapun itu seorang pemimpin yang jikalau mana kepemimpinannya mengandung unsur unsur kebohongan tentulah akan berdampak pada masyarakatnya sendiri.

Baca Juga:  Merayakan Waktu Pagi dengan Shalat Dhuha

Sedangkan jikalau kita tengok terkait pesan Rasulullah tentang betapa pentingnya nilai kejujuran itu, ialah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yakni:

“Sesungguhnya, kebenaran itu membawa kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke Syurga. Seseorang yang membiasakan dirinya berkata jujur akan tercatat disisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya, dusta itu membawa kepada Maksiat, sedang maksiat itu membawa ke Neraka. Seseorang yang membiasakan diri berdusta akan tercatat disisi Allah sebagai pendusta”

Selain itu Abu Bakar tidak membedakan mana orang lemah dan kuat, bahkan dengan terang terangan beliau mengatakan orang lemah adalah orang kuat dihadapannya sampai ia memberikan hak haknya kepada kau yang kuat, begitu pun sebaliknya.

Baca Juga:  Gus Baha: Meluruskan Pemahaman Kelompok yang Suka Bilang Bid’ah

Sehingga disini sangat jelas bahwa betapa dermawannya seorang Abu bakar dengan membela kaum lemah dan tidak membeda bedakan masyarakatnya, sehingga secara tidak langsung kita tidak perlu lagi mempertanyakan akan betapa adilnya seorang Abu Bakar itu.

Dalam pidato singkatnya seperti diatas, Abu Bakar pun berdiri sebagai seorang pemimpin yang sangat profesional, maksudnya ialah beliau dengan sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk melayani masyarakat dengan baik yang tentunya tidak lepas dari apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., dan jika mana suatu saat beliau keluar batas, maka sebagai masyarakat diperbolehkan untuk tidak taat kepadanya.

Dan yang terakhir sekalligus sebagai point penting dalam pidato beliau ialah, beliau tidak pernah henti hentinya mengajak masyarakat untuk mengingat Allah bagaimana pun keadaanya, sebagaimana kalimat terakhir beliau dalam pidatonya yang dikatakan

Baca Juga:  3 Adab Utama Saat Bencana Dalam Islam, Ini Yang Harus Kita Lakukan

 “ … Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian”

Dan hal ini lagi lagi membuktikan bahwa apapun yang diperintahkan Abu Bakar selaku seorang khalifah tentulah tidak membuat beliau lupa kepada Allah dan tidak bergerak sebagai seorang khalifah yang sesuai dengan kemauan hawa nafsunya.

Sekiranya, itulah beberapa point yang dapat kita petik dari pidato Abu Bakar yang saat hendak dibaiat menjadi seorang Khalifah. Semoga kita dapat menjadikan pidato Abu Bakar tersebut sebagai landasan tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin yang layak dan sepatutnya serta tidak pernah lepas dari apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw.,

Semoga bermanfaat, Aamiin…

Rosmawati